Rumah di Balik Kabut

Jesslyn Kei
Chapter #3

Embun di Musim Tandus

Arya duduk di pinggir ranjang dengan bentuk menyerupai batang pohon. Tekstur kayunya terasa hangat di bawah telapak tangannya, jauh lebih hangat daripada bongkahan kayu yang biasa ia jadikan api unggun di medan perang. Matanya menyapu ke sekeliling kamar dengan dinding berwarna hijau, mencari tanda-tanda tak lazim yang ada di rumah itu.

Tak berselang lama, ia menghela napas berat.

"Apa yang sedang kupikirkan?" gumam Arya pelan.

Ia mencoba merebahkan tubuhnya, namun matanya justru tertuju pada bagian atap kamar. Di sana, sulur-sulur tanaman merambat membentuk pola yang sangat simetris, terlalu presisi untuk sebuah tanaman hidup.

Dengan rasa penasaran, Arya bangkit dan mendekat ke salah satu sudut dinding. Saat jemarinya menyentuh permukaan tembok, rasa dingin yang lembap merambat ke kulitnya. Ini bukan wallpaper dinding, melainkan lumut halus yang tumbuh begitu rapi seolah dipangkas setiap pagi. Di sudut plafon, ia melihat sebuah retakan kecil dan dari sana setetes cairan bening jatuh tepat di punggung tangan Arya saat ia sedang menyentuhnya. Lelaki itu terkejut. Keningnya berkerut, memandangi tetesan air di punggung tangannya. Tetesan itu berbau seperti tanah basah di tengah hutan, meski saat itu musim kemarau sedang teriknya di luar sana.

Langkah kaki Arya perlahan membawanya ke sebuah meja kecil di samping tempat tidur. Di atasnya, tergeletak sebuah buku tua dengan sampul beludru berwarna biru laut. Warna yang menyerupai gaun yang dikenakan Vanny. 

Arya tanpa sadar membuka buku itu. Tak ada tulisan di dalamnya, hanya ada lembaran-lembaran halaman kosong yang dijilid rapi. Lelaki itu mengerutkan kening, memandang lembaran kertas putih di hadapannya. 

Beberapa detik kemudian, secara mengejutkan tiba-tiba saja muncul sebuah tulisan dari balik serat kertas, seolah tinta gaib baru saja tumpah di atas buku itu. Dengan perlahan deretan huruf di tulisan melebur hingga membentuk sebuah gambar sketsa wajah. Wajah seorang lelaki dengan mata terpejam seperti tengah tertidur. 

Arya terbelalak. Bola matanya nampak membesar ketika menyadari sketsa wajah lelaki di gambar itu terlihat sangat menyerupai dirinya. Dalam hati ia bertanya, siapa lelaki di gambar ini? Apa mungkin ini gambar wajahnya? Tapi bagaimana bisa? 

Bulu kuduknya mendadak berdiri, merasakan sensasi seolah rumah ini tengah mengamati dirinya sejak pertama kali melangkahkan kaki melewati pagar. 

"Tok tok tok."

Arya terperanjat kaget takkala mendengar suara ketukan pelan dari belakang punggungnya. Ketika ia menoleh, sang pemilik rumah terlihat berdiri memandanginya dari balik pintu.

"Belum tidur, Arya?" tanya Vanny memecah keheningan.

Lihat selengkapnya