Rumah di Balik Ring Light

INeeTha
Chapter #1

1. Makeup dan Ring Light

Tiga lapis concealer hijau belum cukup untuk membunuh warna ungu di tulang pipi kiri Aisha.

Spons makeup itu menekan permukaan kulitnya pelan. Sakitnya masih berdenyut tajam, merambat hingga ke belakang telinga. Angka digital di cermin pintar kamar mandi menunjukkan pukul 06.17. Empat puluh tiga menit sebelum jadwal siaran langsung mereka dimulai.

"Masih kelihatan biru."

Suara itu pelan. Presisi. Tidak ada intonasi naik.

Napas Aisha tercekat. Satu detik. Dua. Sesuatu di dadanya mengencang seketika. Bukan nyeri yang dia rasakan. Lebih buruk, mati rasa yang menjalar sampai ke ujung jari.

Amran berdiri di ambang pintu tanpa suara. Laki-laki itu memakai piyama sutra krem senada dengan milik Aisha. Rambutnya sudah ditata dengan gaya messy-but-perfect. Aroma parfum mahalnya, campuran vetiver dan kayu manis, memenuhi ruang sempit kamar mandi, menekan sisa oksigen yang ada.

"Nanti aku tutupi pakai rambut yang digerai, Mas," jawab Aisha berhati-hati.

"Klien minta rambut kamu diikat rapi ke belakang hari ini, Sha." Amran melangkah masuk. Ujung jarinya yang dingin menyentuh rahang Aisha. Tepat di bawah lebam. "Kamu pikir klien mau bayar lima puluh juta buat lihat morning routine istri yang pipinya biru-biru?"

Aisha refleks menahan napas. Jari Amran menekan sedikit lebih keras.

"Sakit?" tanya Amran. Senyumnya terbit perlahan.

"Nggak."

"Bagus. Berarti kamu udah ingat." Amran mengambil spons rias dari tangan Aisha. Dia menepukkan lebih banyak foundation ke area itu. Terlalu keras. "Lain kali kalau aku lagi terima paket di depan rumah, kamu jangan asal buka pintu. Kurirnya sampai ngelihatin kamu yang belum dandan."

Bagi Amran, istrinya bukan manusia pagi ini. Aisha adalah aset visual.

Amran memindai wajah perempuan di depannya. Kantung matanya sedikit menebal. Senyumnya terlalu kaku. Amran benci ketidaksempurnaan. Keisha, manajer PR-nya, sudah mewanti-wanti sejak semalam: metrik engagement mereka sedang bagus, satu kesalahan kecil bisa merusak algoritma bulan ini. Pengikut mereka di media sosial butuh ilusi keluarga harmonis tanpa celah.

"Kamu kurang tidur?" Amran memutar bahu Aisha menghadapnya.

"Aku nyiapin naskah buat konten review nanti siang, Mas."

"Terus? Naskahnya nggak bisa dikerjain nanti agak siangan?"

"Kamu minta drafnya kelar sebelum sarapan."

Hening.

Amran menatap mata istrinya lurus-lurus. Tangannya turun dari bahu Aisha, lalu merapikan kerah piyama istrinya dengan gerakan yang sangat pelan. Terlalu pelan.

"Aku minta kamu profesional, Yang," suara Amran turun setengah oktaf. "Kita ini jual kebahagiaan. Gimana orang mau percaya kita couple goals kalau mukamu kuyu begitu?"

"Maaf, Mas. Aku tebalin bedaknya."

Lihat selengkapnya