Amran sudah menyiapkan ring light sejak pagi. Dan Aisha tahu: semakin rapi persiapannya, semakin panjang harinya.
Tiga tripod kokoh berdiri mengepung meja pualam di tengah dapur. Kabel-kabel hitam tebal menjalar saling silang di atas lantai kayu ek. Rumah ini telah lama kehilangan fungsi aslinya sebagai tempat istirahat, tepat sejak pengikut akun media sosial mereka menyentuh angka dua juta. Bangunan dua lantai ini murni studio produksi komersial yang berkedok tempat tinggal ideal.
"Duduknya agak geser ke kiri." Suara Amran memecah dengung pelan pendingin ruangan sentral. "Wajah kamu tertutup bayangan pinggiran kabinet."
Aisha menurut tanpa bersuara. Ia menarik kursi barnya mendekat ke titik fokus kamera.
Jari-jari panjang Amran tiba-tiba melingkar di pergelangan tangan kiri Aisha. Cengkeramannya mengerat. Sangat kuat dan tak terduga. Buku-buku jari pria itu memutih menembus kulitnya sendiri karena tekanan yang ia berikan.
Rasa sakit langsung menjalar hingga ke urat siku Aisha. Ia menahan napas. Satu detik. Dua. Ia mati-matian menahan ringisan agar otot wajahnya yang sudah dipoles riasan tidak berkerut.
"Senyum yang beneran, Sha." Amran berbisik tepat di depan telinganya. Hembusan napas suaminya terasa sangat dingin di kulit lehernya. "Jangan sampai seratus ribu orang lihat muka tertekan kamu. Ngerti?"
"Ngerti, Mas."
Amran melepaskan tangannya pelan-pelan. Pria itu menyentuh layar ponsel di depannya. Tombol siaran langsung menyala merah terang.
Dalam hitungan sepersebelas detik, rahang Amran yang kaku mengendur luwes. Sorot matanya yang tajam bak serigala berubah teduh menyerupai telaga.
"Halo, selamat pagi keluarga online!" Amran melambaikan tangannya ke arah lensa. Tawanya terdengar renyah, hangat, dan sangat mengundang. "Pagi-pagi udah pada sarapan belum nih? Ini aku lagi nemenin istri tersayang nyeduh kopi."
Aisha memutar sendok di dalam cangkir keramik putihnya. Ia menarik kedua sudut bibirnya ke atas. Membentuk sebuah lengkungan simetris yang sudah ia latih bertahun-tahun di depan cermin kamar mandi.
Angka penonton di pojok kiri atas layar melonjak tidak masuk akal. Sepuluh ribu. Dua puluh lima ribu.
Komentar mengalir deras menyerupai air bah, menutupi separuh layar gawai.
"Pagi Mas Amran! Pasangan idaman banget sih kalian berdua."
"Mbak Aisha cantik banget natural gitu riasannya."
"Pengen deh punya suami se-sweet Mas Amran. Nggak pernah kasar ya keliatannya."
Amran merangkul bahu Aisha mesra. Ia mengecup pelipis istrinya tepat di atas lapisan bedak tebal yang menutupi lebam keunguan sisa semalam.
"Istriku ini emang paling jago bikin kopi," puji Amran manis. Matanya menatap lensa, memastikan sudut rahang tegasnya terlihat sempurna di layar kaca.
"Mas Amran lebih jago masak kok," timpal Aisha pelan. Suaranya diatur agar terdengar pas di jangkauan mikrofon.
Di dalam kepala Amran, sebuah algoritma rumit sedang bekerja mencari celah emas. Ia butuh interaksi yang bisa memancing sentimen dan empati penonton secara masif pagi ini. Matanya yang tajam menangkap satu baris komentar yang melesat cepat ke atas.