Siaran langsung sudah selesai lima belas menit yang lalu. Tapi pekerjaan Aisha belum, masih ada dua ratus komentar yang harus dibalas sesuai skrip Amran.
Layar sabak digital menyala benderang di atas pangkuan Aisha. Ruang tengah berkonsep terbuka ini tidak ubahnya ruang kontrol studio televisi. Tiga tripod berdiri angkuh di sudut ruangan, bayangannya memanjang di atas karpet bulu. Dua lampu studio sengaja dibiarkan menyala redup sebagai pencahayaan tambahan.
Aisha membuka dokumen digital kiriman Keisha.
Salin. Tempel.
Makasih ya doanya, Kak! Salin. Tempel.
Mas Amran emang the best kalau urusan bikin sarapan.
Pekerjaan ini menuntut jemari yang cepat dan otak yang mati rasa. Aisha menggulir linimasa platform berbagi foto dengan gerakan mekanis. Pergelangan kirinya masih berdenyut nyeri. Bekas cubitan Amran tadi pagi belum sempat ia kompres dengan es batu.
Jari telunjuk Aisha terhenti mendadak.
Sebuah komentar menyempil di antara lautan pujian. Akun itu tidak memakai foto profil, hanya gambar siluet abu-abu standar.
"Mbak Ai, jujur dong, pernah ngerasa capek banget nggak sih jadi istri idaman? Apalagi suami sibuk. Kelihatan lelah banget matanya."
Aisha menatap rentetan huruf itu. Tenggorokannya mendadak kerontang. Sesuatu di dadanya mengencang. Bukan nyeri. Lebih buruk, sebuah dorongan aneh yang menyusup cepat ke paru-parunya. Panas, menyesakkan, menuntut untuk dilepaskan.
Ia mengabaikan dokumen berisi skrip yang tersusun rapi. Jemarinya mengetik langsung di layar kaca tanpa ragu.
"Pernah. Kadang capeknya sampai ke tulang. Pengen tidur panjang."
Tombol kirim tertekan. Notifikasi kecil muncul di bawah layar. Balasan terkirim dan bisa dibaca jutaan orang.
Aisha menghela napas panjang, menyandarkan punggung ke sofa tebal. Ada sebongkah batu pualam yang rasanya berhasil ia angkat dari dadanya. Sesuatu yang jujur, murni miliknya, untuk pertama kalinya dalam setahun terakhir.
Tiga jam berlalu tanpa ada suara langkah. Jam dinding digital menunjuk angka dua siang saat pintu ruang kerja di lantai atas berderit terbuka.
Langkah kaki Amran menuruni tangga kayu jati. Nyaris tak bersuara. Pria itu berjalan mendekati ruang tengah dengan gawai pintar di tangan kanannya.
Di dalam kepalanya, Amran sama sekali tidak marah. Pria itu sedang berhitung presisi.
Tangkapan layar balasan Aisha baru saja dikirim oleh Keisha beberapa menit lalu. Komentar jujur itu baru mendapat dua puluh tanda suka, tapi risikonya setara bom waktu. Kontrak kerja sama suplemen reproduksi pasutri mereka bernilai nyaris setengah miliar rupiah. Klien itu menuntut citra keluarga harmonis yang sedang berjuang mendapat momongan dengan penuh senyum ketabahan. Istri yang depresi adalah cacat produksi terbesar.