Rumah di Balik Ring Light

INeeTha
Chapter #4

4. Sabar yang Disiarkan

Amran punya konten baru. Formatnya: sesi tanya jawab jujur soal pernikahan.

Kamera besar terpasang kukuh di atas tripod besi. Lensa mahalnya menatap tajam ke arah sofa ruang tengah. Sudut pengambilan gambar sengaja dibuat sedikit miring. Memperlihatkan tumpukan buku dan selimut terlipat di latar belakang, menciptakan ilusi rumah yang hangat dan natural.

Amran memakai kaus katun polos berwarna bumi. Ia duduk bersila di atas karpet.

Aisha duduk di sebelahnya. Wajahnya sudah dipoles riasan bernuansa persik yang segar. Ia tersenyum kaku menatap lensa kamera yang belum merekam.

Jari telunjuk Amran menggulir cepat layar gawainya, membuka kotak pertanyaan di platform berbagi fotonya. Di dalam kepalanya, Amran sedang berhitung. Ia melewati puluhan pertanyaan standar tentang kiat rumah tangga rukun atau rekomendasi menu sarapan. Pertanyaan-pertanyaan itu terlalu biasa. Terlalu membosankan untuk mendulang interaksi.

Matanya berhenti pada satu kotak teks spesifik. Ini dia.

"Ini ada pertanyaan dari @BundaNayla." Suara Amran seketika diubah ke pengaturannya. Lebih pelan. Lebih serak dan berwibawa. "Kapan ngasih dedek bayi, Mas? Udah dua tahun lho nikahnya."

Di sebelah Amran, napas Aisha tercekat telak.

Jari-jarinya otomatis mencengkeram ujung kardigan rajut yang ia kenakan. Sesuatu di perutnya melilit hebat. Ia tidak pernah siap mendengar pertanyaan itu, apalagi jika harus dijawab di depan kamera yang merekam setiap mikro-ekspresinya.

Yang tidak Aisha tahu, suaminya sudah menyimpan tangkapan layar pertanyaan itu sejak tiga jam yang lalu.

Amran tahu persis reaksi apa yang akan meledak di linimasa setelah video ini diunggah. Pujian selangit. Simpati tiada akhir. Ia juga tahu persis apa yang akan hancur di dada istrinya. Tapi bagi Amran, itu hanyalah harga kecil yang pantas dibayar demi lonjakan interaksi gawai mereka.

"Jujur, baca pertanyaan begini kadang bikin dada agak sesak." Amran menatap lurus ke arah lensa. Pria itu menekan tombol rekam.

Ia menoleh lambat. Memandangi Aisha dengan sorot mata penuh pemakluman tanpa batas. Tangan kanannya terulur merangkul bahu sang istri. Menarik tubuh ramping itu merapat ke dadanya.

"Anak itu rezeki. Kami lagi nikmatin prosesnya berdua." Amran mengusap lengan Aisha selembut belaian kapas. "Aisha sudah berusaha keras, dan saya bangga banget sama dia. Jadi tolong, jangan tekan istri saya terus, ya."

Di depan kamera, punggung Aisha menunduk perlahan. Matanya mulai terasa memanas.

Lihat selengkapnya