Rumah di Balik Ring Light

INeeTha
Chapter #5

5. Tangkapan Layar

Ponsel Aisha di atas meja marmer bergetar panjang. Nama Dira berkedip di layar.

Aisha menggeser tombol hijau terburu-buru. Ia menjepit ponsel tipis itu di antara telinga dan bahu kanannya. Matanya tetap mengawasi peramban kosong di hadapannya, sementara tangan kirinya pura-pura sibuk memegang pisau daging.

"Halo, Dir."

"Lo udah buka tautan yang gue kirim barusan?" Suara Dira terdengar ditekan keras. Jauh lebih rendah dan terburu-buru dari nada bicaranya yang biasa.

"Belum. Gue lagi nyiapin bumbu di dapur."

"Buka versi web sekarang. Klik tautannya pakai mode penyamaran. Kalau udah lihat, langsung hapus pesannya dari riwayat obrolan lo sekarang juga."

Pisau di tangan Aisha berhenti di udara. Ujung bajanya memantulkan cahaya dari lampu gantung kristal di atas meja. "Ada apa sih, Dir? Mas Amran bisa ngecek riwayat gawaiku kapan aja."

"Buka aja dulu, Ai. Jangan dimatiin teleponnya."

Tangan Aisha yang sedikit basah karena keringat bergerak canggung. Ia menyalin tautan itu ke kolom alamat.

Sebuah akun anonim di platform mikroblog baru saja mengunggah utas pendek. Foto profilnya hanya gambar kucing abu-abu buram. Pengikut akunnya tertulis baru sekitar dua ratus orang. Namun, dua gambar di cuitan teratas itu membuat aliran darah Aisha serasa membeku di tempat.

Gambar pertama adalah tangkapan layar dari siaran langsung pagi tadi. Wajah Aisha diperbesar secara ekstrem. Ada lingkaran merah putus-putus menyorot tulang pipi kirinya.

Korektor warna hijau yang memoles wajahnya ternyata memantulkan gradasi aneh di bawah sorotan keras lampu studio. Semburat keunguan sisa benturan semalam gagal bersembunyi.

Gambar kedua berupa cuplikan video pendek berdurasi empat detik. Lengannya tersentak kaku. Tepat saat bahu suaminya condong mendekat di bawah meja pualam.

Keterangan fotonya disusun rapi menyerupai pisau bedah tajam.

"Lihat matanya. Bukan senyum bahagia. Lebam di pipi kiri nggak bisa bohong. Istri idaman atau sandera?"

Aisha menahan napas. Satu detik. Dua. Oksigen seolah ditarik paksa dari seluruh kapasitas paru-parunya.

"Udah lihat?" Suara Dira memecah dengung keheningan panjang di telinga Aisha.

"Itu akun siapa, Dir?" Aisha menelan ludah paksa. Tenggorokannya terasa dipenuhi serpihan kaca.

"Gue nggak tahu. Tapi orang ini jeli banget merhatiin mimik muka lo. Lo lihat angka yang bagikan ulang cuitannya?"

Mata Aisha melirik bagian bawah layar. Angkanya empat puluh. Tapi saat telunjuknya tak sengaja menyentuh tombol muat ulang, halaman itu berkedip sesaat. Angkanya melompat langsung menjadi tiga ratus.

Sesuatu di dadanya mengencang. Bukan nyeri. Lebih buruk, sebuah ketakutan absolut yang melumpuhkan seluruh saraf motoriknya tanpa sisa.

"Gue takut, Dir." Suara Aisha pecah berserakan.

"Amran lagi di mana sekarang?"

"Lagi rapat sama Keisha di daerah Senopati. Bahas pembaruan kontrak eksklusif liburan kita."

"Sialan." Dira mendesah keras di ujung telepon. Umpatannya terdengar tertahan. "Keisha pasti lihat ini secepatnya. Tim manajer agensi dia kan kerjanya mantau linimasa dua puluh empat jam."

Lihat selengkapnya