Amran menutup pintu dengan pelan. Itu yang paling Aisha takuti, bukan yang keras, tapi yang pelan.
Bunyi klik dari gerendel pintar itu memotong satu-satunya jalan keluar. Langkah sepatu kulit Amran terdengar konstan di atas lantai kayu jati. Ketukannya teratur. Semakin lama semakin dekat menyusuri lorong menuju dapur bersih.
Aisha menahan napas. Satu detik. Dua.
Tangannya masih memegang spatula kayu di atas wajan. Aroma bumbu woku yang pedas menyengat mengudara ke seluruh penjuru ruangan. Namun, hawa panas dari kompor itu mendadak tidak terasa lagi.
Ada yang dingin di punggungnya. Bukan AC.
Amran berhenti tepat di samping istrinya. Pria itu tidak berteriak. Ia bahkan tidak memandang wajah Aisha. Tangan kanannya terulur melewati bahu sang istri. Jari-jarinya memutar kenop kompor hingga api biru itu mati seketika.
Suara desisan minyak tergantikan oleh keheningan yang memekakkan telinga.
"Taruh spatulanya, Sha." Suara Amran terdengar setenang permukaan danau.
Aisha meletakkan alat masak itu dengan tangan gemetar. Ujung kayunya membentur pinggiran wajan, menciptakan bunyi denting yang sumbang. Kakinya tidak bergerak meski dia mau keluar dari ruangan ini secepat mungkin.
Amran menarik dua kursi bar berkerangka besi. Ia duduk di salah satunya. Tangannya menepuk dudukan kursi di sebelahnya. Sebuah undangan halus yang sama sekali tidak menyediakan opsi penolakan.
Aisha menurut. Ia duduk dengan punggung tegak kaku layaknya papan.
"Kamu udah lihat linimasa di platform mikroblog sore ini?" Amran meletakkan ponselnya ke atas meja marmer.
Layar gawai itu menyala terang. Menampilkan utas viral dari akun anonim bergambar kucing abu-abu. Wajah Aisha yang diperbesar terbingkai di sana. Lingkaran merah pada lebamnya terlihat seperti target tembak.
Aisha menelan ludah. "Udah, Mas. Maaf."
"Kenapa minta maaf?" Amran menoleh. Alisnya bertaut heran. "Kamu korban di sini, Sha."
Aisha mengerjap bingung. Otaknya gagal memproses arah pembicaraan suaminya. Ia sudah bersiap menerima cacian. Ia sudah menyusun alasan soal bedak yang kurang tebal. Namun, respons Amran benar-benar memutarbalikkan logikanya.
Di sisi lain ruangan, narasi yang sebenarnya sedang berjalan di dalam kepala pria itu.
Amran menatap mata istrinya yang memancarkan ketakutan. Tidak ada sedikit pun niat untuk membentak di kepalanya. Kemarahan yang meledak-ledak adalah taktik amatir. Ia sudah belajar banyak dari kesalahan masa lalunya.
Teriakan hanya akan membuat seorang perempuan melawan dan mencari celah kabur. Simpati palsu dan perasaan divalidasi adalah tali kekang yang jauh lebih mematikan.
Keisha baru saja meneleponnya lima belas menit yang lalu dari Senopati. Kontrak wisata liburan mereka terancam ditangguhkan. Klien tidak mau memakai duta merek yang tersandung rumor kekerasan dalam rumah tangga. Amran harus memadamkan api ini dalam hitungan jam. Ia butuh Aisha sebagai selang airnya. Istrinya harus tampil sukarela di depan kamera malam ini.