120.000 penonton menunggu di LiveNow. Dan Aisha harus tampil sempurna untuk kesekian kalinya.
Angka di sudut kiri atas layar ponsel Amran terus berputar naik menyerupai argo taksi liar. Kolom komentar meluncur terlalu cepat untuk bisa dibaca oleh mata manusia normal. Sebagian besar berisi simpati, sebagian lainnya menuntut penjelasan, dan sisanya hanya mencari hiburan dari keretakan rumah tangga orang lain.
Lampu bundar besar menyala benderang. Panas dari bohlamnya langsung membakar pori-pori wajah Aisha.
"Siap, Sha?" Suara Amran berbisik pelan.
Aisha mengangguk kaku. Jari-jarinya bertaut erat di atas paha. Ia sudah membaca naskah setebal tiga halaman yang dikirimkan Keisha sore tadi. Ia sudah menghafalnya. Ia hanya perlu menjadi boneka ventrilokuis yang baik malam ini.
Amran menekan tombol merah. Siaran langsung dimulai.
Di apartemen studio berukuran tiga puluh meter persegi di Jakarta Selatan, Dira duduk bersila di atas karpet berbulu. Kacamata bulatnya memantulkan cahaya dari layar iPad. Ia tidak mengedipkan mata sedikit pun menatap wajah sepasang suami istri di layar itu.
Dira tahu persis apa yang sedang ia tonton. Ini bukan siaran klarifikasi. Ini adalah eksekusi publik.
"Selamat malam, teman-teman semua." Amran membuka suara. Baritonnya terdengar serak. Rapuh. Sempurna.
Amran menggenggam tangan kiri Aisha dengan kedua tangannya. Pria itu menundukkan kepala sejenak, membiarkan keheningan dramatis menguasai siaran. Saat ia kembali mengangkat wajahnya, mata Amran sudah berkaca-kaca.
Air mata itu nyata. Menggenang di pelupuk mata.
Namun, Dira yang menonton dari jauh mendengus sinis. Air mata Amran bukan mengalir karena penyesalan telah menyakiti istrinya.
Air mata itu keluar karena kemarahan yang tertahan akibat aset digital berharganya terancam hancur. Pria itu menangisi potensi kerugian ratusan juta, bukan menangisi lebam di pipi Aisha.
"Saya nggak pernah nyangka," lanjut Amran dengan suara bergetar, "kalau ada orang yang setega ini sama keluarga kami."