Rumah di Balik Ring Light

INeeTha
Chapter #8

8. Dira

Delapan bulan. Dira tidak pernah menghitung, tapi HP-nya ingat: pesan terakhir ke Aisha, 14 Februari, tidak dibalas.

Layar ponsel menyala redup menerangi wajah Dira. Apartemen studionya di Jakarta Selatan berdengung pelan oleh suara kulkas tua dan deru kendaraan dari jalan raya.

Ruangan ini sempit, berantakan oleh tumpukan naskah editor, dan jauh dari kata estetik. Namun, bagi Dira, ini adalah benteng. Tempat di mana tidak ada yang mengawasi cara hidupnya.

Jari Dira mengusap foto hasil tangkapan layar dari siaran LiveNow tadi.

Wajah Aisha di layar itu menatap kosong. Senyumnya ditarik paksa. Sudut bibirnya tidak sinkron dengan sorot matanya yang mati.

Dira mengenal Aisha lebih lama dari Amran mengenal perempuan itu. Ia tahu persis bagaimana bentuk tawa Aisha saat mereka makan mi instan di depan ruko kampus dulu.

Dira membuka jendela obrolan dengan sahabatnya itu. Deretan balon hijau miliknya berbaris sepi tanpa balasan sejak hari Valentine.

Jemari Dira bergerak cepat di atas papan ketik virtual.

"Aku di sini kalau kamu butuh."

Tombol kirim ditekan. Tanda centang satu muncul, lalu berubah menjadi dua. Pesan itu terkirim menembus jarak puluhan kilometer, masuk ke dalam rumah termegah yang menjadi penjara sahabatnya.

Di sisi lain kota, di balik dinding rumah seharga belasan miliar, Aisha sedang duduk mematung di tepi ranjang.

Layar ponselnya menyala di atas pangkuan. Membawa tujuh kata dari Dira yang baru saja menembus masuk layar kuncinya. Udara di dalam kamar tidur utama ini terasa langsung menipis.

Sesuatu di dada Aisha mengencang, menarik paksa kenangan lama yang selama ini ia kubur dalam-dalam demi bertahan hidup.

Yang tidak Dira ketahui, Amran tidak pernah secara terang-terangan melarang Aisha berteman dengannya. Amran terlalu cerdik untuk bermain sekasar itu.

Pemutusan akses itu terjadi secara halus. Rapi. Sistematis.

Suaminya membangun dinding isolasi itu bata demi bata, tanpa pernah membuat Aisha merasa terpenjara. Semuanya selalu dibungkus dengan pita kepedulian yang menyesatkan.

Aisha masih mengingat jelas rentetan kejadiannya akhir tahun lalu. Saat ia meminta izin untuk menginap semalam di apartemen Dira.

Lihat selengkapnya