Akun anonim dengan dua ratus pengikut itu bukan bot. Ada orang di baliknya, dan orang itu punya kebiasaan buruk: tidak bisa diam kalau melihat sesuatu yang salah.
Rafi menghisap rokok filternya dalam-dalam. Asap kelabu mengepul membelah udara ruang redaksi yang selalu kekurangan cahaya matahari. Mata minusnya memicing di balik kacamata, menatap lekat-lekat layar monitor yang menyala terang.
Sebuah utas viral di linimasa platform mikroblog masih terbuka.
Cuitan itu berisi cuplikan siaran langsung yang diperbesar paksa. Rafi mengenali pola ini dengan sangat baik. Ini bukan serangan mesin otomatis yang dibayar agen kehumasan. Ini murni ketikan manusia yang sedang marah dan mencari pembenaran atas kecurigaannya.
"Lo beneran mau turun gunung buat urusan rumah tangga orang, Raf?" Bimo menarik kursi beroda mendekat. "Kita ini portal investigasi independen. Bukan akun gosip."
"Gosip itu kalau kita bahas selingkuhan selebritas di hotel." Rafi mematikan rokoknya ke dalam asbak porselen dengan satu tekanan keras. "Ini beda kelas. Ada potensi kekerasan yang dibungkus manipulasi publik skala raksasa."
"Tapi lawannya Amran Fauzi." Bimo menyandarkan punggungnya malas. "Dia punya citra suami idaman paling tak tersentuh sedunia. Pengikut akunnya militan semua."
Di dalam kepalanya, Rafi sama sekali tidak berniat menjadi pahlawan pelindung perempuan. Ia adalah seorang jurnalis pelacak rekam jejak. Agendanya murni untuk mencetak berita utama yang bisa meledakkan lalu lintas pembaca situs web mereka.
Amran Fauzi adalah menara gading yang belum pernah cacat oleh skandal. Jika Rafi berhasil meruntuhkan ilusi itu, namanya akan meroket melampaui wartawan senior lainnya.
"Coba lo cek daftar sponsor terbarunya," timpal Bimo sambil membuka tablet. "Dia baru aja perpanjang kontrak sama suplemen program hamil. Klien butuh citra suami yang penyabar nunggu istrinya berhasil garis dua."
"Itu ironi paling gelap yang pernah gue dengar." Rafi mendengus sinis. "Dia jualan narasi kesabaran, tapi pakai tubuh istrinya buat mesin pencetak empati. Benar-benar gila."
"Netizen menelan narasi itu mentah-mentah, Raf."
"Karena orang-orang butuh dongeng." Rafi meraih jaket denim dari sandaran kursinya. "Dan tugas kita buat bakar dongeng itu sampai jadi abu."
Sore itu juga, Rafi memacu motor tuanya membelah kemacetan aspal Jakarta Selatan. Tujuannya adalah kawasan perumahan elite tempat sang pangeran dunia maya bermukim. Ia butuh melihat langsung panggung pertunjukan itu dari dekat.
Satu jam kemudian, Rafi memarkir motor di bawah pohon rindang seberang jalan. Ia menurunkan kaca helmnya separuh untuk mengawasi.
Rumah Amran berdiri paling megah di ujung sudut kompleks. Fasadnya didominasi kaca raksasa dan beton ekspos yang memantulkan cahaya matahari sore. Bangunan itu tampil terlalu mulus. Terlalu simetris hingga terasa menyilaukan mata secara tidak wajar.
Bagi jutaan pengikut akunnya, itu adalah rumah masa depan yang selalu diimpikan.