Lemari arsip Amran selalu terkunci. Hari itu, Aisha menemukannya tidak terkunci.
Ruang kerja di lantai dua ini adalah zona eksklusif suaminya. Ruangan berkarpet tebal dengan meja kayu jati solid di tengahnya. Biasanya, laci paling bawah dari meja itu tidak pernah memiliki celah sedikit pun. Kuncinya selalu dicabut dan masuk ke dalam saku celana Amran ke mana pun pria itu pergi.
Namun, sore ini, sebuah anak kunci kuningan masih menancap pasrah di sarangnya.
Suara gemericik air pancuran terdengar samar dari balik dinding kamar mandi utama. Amran sedang membersihkan diri setelah seharian berkeliling kota menemui klien. Pria itu menyuruh Aisha naik ke ruang kerja untuk merapikan tumpukan kertas tagihan lampu dan internet yang berserakan di atas meja.
Aisha menyusun kertas-kertas itu menjadi satu tumpukan rapi. Tangannya bergerak mekanis.
Matanya tak sengaja menangkap celah selebar dua sentimeter di laci bawah tersebut. Tarikannya tidak sempurna tertutup karena ada ujung sebuah stopmap kertas berwarna cokelat pudar yang tersangkut di rel besi.
Dia melihat ke arah pintu. Bukan karena ingin pergi. Karena menghitung jarak.
Ia mengalkulasi berapa detik waktu yang ia butuhkan untuk kembali ke posisinya jika suara air di seberang dinding tiba-tiba mati. Rasa penasaran itu biasanya akan kalah oleh teror yang ditanamkan Amran. Namun hari ini, ujung map cokelat usang di antara tumpukan dokumen putih bersih itu seolah memanggilnya.
Aisha berjongkok perlahan di atas karpet.
Tangannya meraih gagang kuningan laci tersebut. Ia menariknya pelan hingga bunyi gesekan rel besi terdengar halus membelah keheningan ruangan kedap suara itu.
Di dalam laci yang dalam itu, tidak ada tumpukan uang tunai atau perhiasan berharga. Hanya ada barisan map tebal berisi dokumen legalitas agensi milik Amran. Aisha menarik stopmap cokelat yang tersangkut tadi. Bagian dalamnya hanya berisi selembar kertas folio tua yang menguning di bagian ujung-ujungnya.
Aisha membuka lipatan kertas itu. Kop surat resminya menampilkan lambang tebal dari instansi negara. Pengadilan Agama Kota Surabaya.
Napas Aisha tercekat. Satu detik. Dua.
Oksigen di ruang kerja megah itu mendadak tersedot habis ke luar jendela. Matanya bergerak membaca deretan huruf kapital yang diketik rapi dengan tinta hitam yang mulai memudar.
Pihak Pertama bernama Amran Fauzi.
Pihak Kedua bernama Wulandari.