Gelas kopi karton di meja kayu Rafi sudah dingin dan berembun. Pria itu menekan putung rokok ke asbak beling yang penuh abu, mengabaikan lengket sisa tumpahan minuman di sikunya. Kedai kopi dua puluh empat jam di pinggiran Jakarta Selatan ini berbau karbol murah.
Layar laptop Rafi berpendar menyinari wajahnya yang lelah. Dua tab peramban terbuka bersisian. Tab kiri memuat profil media sosial milik Wulandari, seorang ibu rumah tangga penjual kue kering daring di Surabaya. Tab kanan memuat linimasa Amran Fauzi, sang selebritas idaman dengan jutaan pemuja.
Pola mereka sama persis.
Hasil pertemuan Rafi dengan Wulandari kemarin di sebuah warung soto merusak sistem pencernaannya sampai hari ini. Wulandari duduk di depan Rafi waktu itu, tangannya gemetar hebat meremas tisu bekas. Perempuan itu bahkan tidak berani memesan menu tanpa menelepon suami barunya, sebuah sisa trauma yang menolak mati.
"Amran itu sutradara, Mas," ucap Wulandari lirih waktu itu. "Dia bikin naskah buat hidup saya. Kalau saya melenceng dari skenarionya, dia hukum saya pakai diam. Dia bisa berhari-hari lewat di depan saya seolah saya ini debu. Sampai saya merasa gila dan minta maaf untuk sesuatu yang murni kesalahannya."
Rafi mencatat pola itu di kepalanya. Isolasi pertemanan. Pemotongan akses finansial. Manipulasi rasa bersalah lewat anak. Sekarang, sutradara gila itu mengulang metode identik pada Aisha.
Rafi butuh cara menghubungi Aisha tanpa Amran tahu. Pria itu pasti memegang kendali mutlak atas pesan masuk gawainya. Akun Aisha diawasi seperti sel tahanan kelas satu. Mengirimkan pesan langsung ibarat menyalakan alarm kebakaran tepat di telinga Amran.
Dia pilih cara yang paling tidak terduga. Komentar publik.
Pesan rahasia itu harus memakai bahasa yang hanya dipahami mereka berdua. Rafi menelusuri arsip digital lama, mencari sisa jejak yang lupa dibersihkan Amran.
Empat tahun lalu, Aisha adalah fotografer jalanan yang menyukai kamera analog. Amran membenci hal itu. Fotografi gulungan film memakan biaya tanpa menghasilkan klik.
Jari Rafi menari kasar di atas tuts kibor. Dia membuka postingan terbaru Amran. Sebuah video pasangan itu berpelukan mesra di sofa ruang tengah, ditonton dua juta kali dalam tiga jam.
Rafi mengetik pelan menyamar sebagai pengikut acak.
"Tone videonya under-exposed parah nih. Lensa 35mm emang gampang berdebu kalau jarang dipakai. Percuma dipoles filter mahal kalau sensor aslinya udah kena jamur dari lama. Mending cuci cetak ulang dari nol daripada maksain draf lama yang udah rusak."
Kirim.
Komentar itu meluncur lepas, sedetik kemudian langsung tertelan lautan ribuan tulisan pemuja Amran yang histeris memuji keserasian mereka. Tenggelam tanpa jejak. Menyusup murni di dalam keramaian.
Angin pendingin ruangan berembus menabrak leher Aisha. Kamar utama ini disetel di angka delapan belas derajat Celsius. Amran suka suhu yang membekukan tulang. Aisha selalu merapatkan kardigan rajutnya, tidak pernah berani mengubah angka di remot kendali dinding.
Jam digital di gawai Aisha menunjuk pukul dua dini hari. Ibu jarinya kram menahan beban gawai, bergerak turun menyusuri layar tanpa henti. Tarik. Gulir. Tarik. Baca.