Ibu Herlina selalu telepon dulu sebelum datang. Hari itu dia tidak telepon.
Perempuan tua itu berdiri tegak di balik pintu utama. Kain batiknya rapi tanpa lipatan kusut. Tangannya mencengkeram tali tas kulit selempang cokelat seolah benda itu pelampung terakhir di tengah lautan badai. Gurat wajahnya tegang kaku.
Aisha menarik kenop pintu lebih lebar. Bau parfum melati pekat langsung menusuk hidungnya, mencampur baur dengan udara pagi Jakarta yang belum terpapar asap kendaraan.
"Ibu kok nggak ngabarin dulu?" Suara Aisha keluar lebih parau dari biasanya. Sisa kurang tidur semalam karena memikirkan akun misterius itu masih menempel di tenggorokannya.
"Ibu sengaja mampir pagi. Sekalian lewat mau ke acara arisan keluarga." Herlina melangkah masuk tanpa menunggu dipersilakan. Ujung sepatu pantofel hitamnya mengetuk lantai marmer ruang tamu yang selalu dipoles mengkilap tiap pagi. "Amran mana?"
"Masih di atas, Bu. Baru selesai mandi buat persiapan siaran langsung nanti sore."
Herlina mengangguk pelan. Dia duduk di sofa krem panjang, punggungnya tegak lurus menolak menyentuh sandaran empuk di belakangnya. Tasnya masih dipeluk erat di atas pangkuan. "Bikinin Ibu teh panas, Sha. Gulanya sedikit aja."
Aisha bergegas ke dapur. Tangannya bergerak mekanis menyalakan kompor gas. Air di dalam teko tembaga mulai memanas, mengeluarkan bunyi desisan pelan. Ruangan ini terlalu sepi. Dia melirik jam dinding. Pukul setengah delapan lewat. Amran masih berada di lantai dua, mungkin sedang menata rambutnya di depan cermin, mengagumi pantulan pria sempurna yang selalu dipujanya sendiri.
Pikiran Aisha masih tertinggal pada komentar akun anonim semalam. Seseorang di luar sana tahu kebenaran soal dokumen perceraian Wulandari. Seseorang memegang rahasia suaminya. Dan sekarang, mertuanya datang sepagi ini dengan wajah menyimpan badai. Apakah Herlina tahu? Ataukah Amran memanggil ibunya kemari untuk sebuah skenario baru?
Air mendidih. Aisha menuang air panas ke dalam cangkir porselen putih. Tangannya sedikit gemetar. Air teh memercik tipis ke tepi nampan kayu. Dia buru-buru mengusapnya dengan punggung tangan.
"Ini, Bu, tehnya." Aisha meletakkan nampan perlahan di atas meja kaca. Dia duduk di sofa tunggal berseberangan dengan mertuanya, menyilangkan kaki rapat-rapat. Kardigan rajut kebesarannya ditarik maksimal menutupi hingga ke pergelangan tangan.
Herlina meniup permukaan teh hijau itu. Matanya terpaku pada pinggiran keramik cangkir, enggan bersitatap langsung. "Video Amran semalam ramai ya. Ibu lihat kolom komentar banyak yang doain kalian cepet dapat momongan."
Udara di ruang tamu mendadak terasa setipis kertas.
"Iya, Bu. Amin." Aisha membalas sependek mungkin. Pola percakapan ini sudah dia hafal di luar kepala. Ujian mental sebelum eksekusi.
"Kamu udah minum vitamin yang Ibu kirim minggu lalu?"
"Udah, Bu. Tiap pagi habis sarapan selalu Aisha minum."