Rumah di Balik Ring Light

INeeTha
Chapter #13

13. Rekaman

Aplikasi perekam layar itu berjalan di latar belakang sejak minggu lalu. Perangkat lunak sinkronisasi otomatis mengirimkan setiap piksel gelap dan gelombang suara langsung ke penyimpanan awan.

Aisha lupa mematikan webcam laptop di ruang kerja. Amran juga lupa.

Jumat sore ini, rumah berlantai dua ini terasa seperti kuburan yang baru digali. Kosong dan membekukan. Amran sedang berada di luar kota. Pria itu pergi syuting konten ulasan hotel mewah bersama Keisha, memamerkan liburan romantis dengan narasi survei tempat bulan madu kedua. Aisha sengaja ditinggal di rumah dengan dalih manis butuh istirahat total untuk program kehamilan.

Aisha duduk di kursi kulit kebesaran milik suaminya. Niat awalnya murni mencari salinan tagihan internet bulan lalu di folder bersama. Mesin perak di depannya mendengung halus. Jarinya menelusuri barisan folder kuning di layar tanpa minat.

Tatapannya mendadak terkunci pada satu nama folder asing. Auto-Recordings.

Kursornya berhenti bergerak. Detak jantungnya bertambah cepat satu ketukan. Dia membuka folder tersebut. Sederet fail video berjejer rapi. Kebanyakan berisi rekaman tes sudut pandang kamera yang dilakukan Amran sebelum siaran langsung. Rutinitas biasa.

Namun, ada satu fail yang menarik atensinya. Layar pratinjaunya hitam total karena penutup lensa pasti sedang terpasang. Tanggal perekamannya menunjukkan angka sepekan lalu. Pukul satu lewat lima belas menit dini hari. Waktu yang sama persis saat lengan kirinya ditekan hingga pembuluh darah kapilernya hancur berkeping-keping.

Tenggorokan Aisha mengering tiba-tiba. Ujung jarinya mendingin layaknya menyentuh es balok. Dia menarik laci meja, mencari sebelah pelantang telinga berkabel putih. Memasangkannya ke telinga dengan tangan yang mendadak tremor pelan.

Dia menekan tombol spasi.

Bunyi benturan keras membuka rekaman. Suara logam tripod yang menghantam lantai marmer ruang kerja terdengar sangat tajam.

"Bagus, Sha. Terus aja hancurin barang-barang di rumah ini." Suara Amran mengalun pelan dari dalam pelantang. Tenang, tanpa urat leher, presisi. Pisau bedah tak kasatmata yang siap menyayat tepat di titik nadir. "Lensa puluhan juta."

"Maaf, Mas." Suara perempuan menyusul. Lirih, bergetar hebat, terengah-engah. "Aku nggak sengaja nyenggol kabelnya. Gelap, Mas. Aku benerin sekarang."

Aisha di dunia nyata menahan napasnya.

Itu suaranya. Mendengarnya dari telinga pihak ketiga memicu rasa mual yang hebat di ulu hatinya. Dia terdengar seperti tawanan perang yang mengemis belas kasihan. Keputusasaan dalam suaranya begitu kental hingga bisa dicecap oleh lidah.

"Gelap mata kamu. Nyalain lampu aja kamu malas kan?" Suara Amran memotong tanpa ampun di rekaman.

"Bukan gitu, Mas. Kan tadi Mas Amran yang minta lampunya dimatiin pas mau tidur..."

Lihat selengkapnya