Kipas laptop Dira menderu keras menyerupai mesin pesawat rongsok. Kamar apartemen petaknya di lantai empat penuh dengan kepulan asap rokok elektrik rasa beri. Dua monitor menyala terang mengalahkan lampu jalanan Jakarta Selatan yang menembus jendela kaca.
"Lo beneran udah sinting ya, Dir?" Suara Seno terdengar kresek-kresek dari pelantang gawai yang tergeletak di atas kasur berantakan. "Klien nungguin draf video iklan itu besok pagi. Lo malah asyik maraton video selebritas nggak jelas."
"Bawel ah lo." Dira menggeser tetikusnya kasar. "Bilang ke klien, komputer gue kena virus. Atau nenek gue kayang. Terserah."
"Nolak duit lo?"
"Gue lagi bedah anatomi kebohongan."
Dira menekan kombinasi tombol. Unduhan berjalan. Puluhan fail video dari platform berbagi foto milik Amran Fauzi tersedot masuk ke dalam ruang penyimpanan lokalnya dengan kecepatan tinggi.
"Kebohongan apa sih? Amran sama Aisha itu panutan nasional, Dir. Lo jangan nyari penyakit."
"Panutan nasional pantat lo." Dira menggigit ujung kuku telunjuknya keras-keras hingga terasa nyeri. "Gue kenal Aisha dari jaman kita masih patungan beli lensa bekas. Dia fotografer jalanan yang berani masuk kampung preman sendirian cuma buat motret orang pinggiran. Perempuan kaku di video ini bukan dia."
Dira menarik sebuah klip siaran langsung minggu lalu ke layar utama. Dia memotong durasinya, hanya menyisakan lima detik krusial.
"Liat ini, Sen."
"Gue nggak bisa liat layar lo, gila."
"Iya, makanya dengerin aja mulut gue." Mata Dira menyipit tajam menatap piksel di layar. "Manusia nggak bisa bohong dalam seperseratus detik pertama. Pas si Amran rangkul pinggang Aisha tiba-tiba... pundak Aisha naik sekian milimeter."
"Ya wajar kaget, Dir. Namanya juga dirangkul."
"Bukan kaget." Dira menekan tombol spasi, memberhentikan tayangan tepat di bingkai wajah sahabatnya. "Itu refleks defensif. Otot lehernya kaku. Dia merem bentar, seolah nunggu pukulan mendarat. Tangan kirinya otomatis naik nutupin perut."
Suara tawa remeh Seno menghilang dari sambungan. "Lo nyimpulkan kejauhan."
"Belum selesai." Dira membuka tab baru, menampilkan video liburan pasangan itu di pantai Bali bulan lalu. "Cuaca Bali tiga puluh tiga derajat. Amran pakai kemeja pantai tipis melambai. Aisha? Dia pakai kardigan rajut lengan panjang. Rapat ditutup sampai pergelangan tangan."
"Mungkin dia takut hitam kena sinar matahari?"
"Aisha benci gerah. Dia dulu selalu pakai kaus oblong lecek kalau motret di lapangan." Dira membuat subfolder baru, mengetikkan nama Anomali Fisik di sana. "Dia lagi nutupin sesuatu. Kulitnya pasti nyimpen banyak rahasia."
"Terus lo liat bagian ini." Dira kembali membuka fail lain, kali ini video promosi produk sponsor. "Amran ngomong begini ke kamera: Anak itu rezeki, kami nikmati prosesnya. Liat ekspresi Aisha pas suaminya ngomong gitu."