Amran punya konten baru lagi. Kali ini: vlog "perjalanan kami menanti buah hati".
Lensa kamera menyala merah. Tanda perekaman otomatis berjalan. Amran duduk santai di atas karpet bulu ruang tengah, bahunya bersandar nyaman menempel pada pinggiran sofa. Botol biru mengilap berisi kapsul suplemen reproduksi terpajang rapi di atas meja kaca, logonya menghadap lurus ke arah lensa. Sponsor utama.
Pria itu menarik napas pelan, mengatur ekspresi wajahnya layaknya aktor kawakan memasuki panggung.
"Buat teman-teman yang lagi berjuang di garis dua, semangat ya," ucap Amran menatap kamera. Suaranya serak-serak basah, memancarkan simpati utuh. "Aku sama Aisha tahu persis rasanya ditanya kapan isi tiap kali kumpul keluarga."
Di balik kalimat manis itu, mesin kalkulasi di kepala Amran bekerja dingin.
Tiga miliar rupiah. Nilai kontrak eksklusif yang mengalir masuk ke rekening pribadinya dari pihak sponsor bulan ini. Fakta ini sering membuatnya ingin tertawa keras-keras. Rahim istrinya yang kosong sukses mendatangkan pundi-pundi uang jauh lebih deras daripada drama percintaan remaja murahan.
Publik mengemis figur pria pemaaf. Mereka haus akan sosok fiktif laki-laki mapan yang rela mendampingi wanita tidak sempurna. Amran memberi mereka tontonan jitu tersebut. Semakin istrinya terlihat tak berdaya, semakin tinggi nilai jualnya di mata agensi.
Pola ini jauh lebih rapi dibanding saat dia menghancurkan Wulandari dulu. Bersama Wulandari, dia hanya bermain di ruang tertutup. Terlalu berisiko. Sekarang, bersama Aisha, dia mengundang jutaan pasang mata untuk ikut menekan mental istrinya tanpa mereka sadari.
Amran meraih bahu kiri Aisha. Mengusapnya lembut penuh damba. "Tapi aku nggak pernah nyalahin istriku. Tekanan batin itu nyata. Makin stres, makin susah programnya berhasil, kan?"
Di sebelah pria itu, Aisha duduk bersimpuh kaku. Ujung jari tangannya sedingin balok es, bertautan erat menyembunyikan getaran di atas pangkuan.
Dia melebarkan senyum. Menarik kedua sudut bibirnya secara paksa hingga otot rahangnya berkedut nyeri. Otaknya yang sudah merekam audio pertengkaran semalam kini dipaksa menelan mentah-mentah visual suami penyayang di detik ini. Benturan dua realita berkebalikan itu memicu asam lambungnya naik menggerogoti kerongkongan.
Bohong. Kamu yang bikin aku stres. Kamu yang bikin aku ngerasa cacat seumur hidup.
Suara hatinya meronta beringas, membentur-bentur dinding tengkoraknya mencari jalan keluar. Namun bibirnya tetap terkunci rapat. Jari Amran turun dari bahu, menelusup pelan membelai punggung tangan Aisha.