Rumah di Embun Mata

freza nur fauzi
Chapter #1

Dentang Sendu Penutup

Keringat Satya membasahi kaus lusuh yang sudah tak berbentuk, lengket seperti lem pada kulitnya yang legam oleh matahari. Palu baja di tangannya berdentang lagi, menancapkan paku terakhir pada lisplang depan rumah. Dentangnya terasa aneh di telinganya, tidak lagi lantang dan penuh semangat, tapi melirih, seolah mengukir sebuah epitaf, bukan sebuah permulaan. Di belakang punggungnya, bau cat mengering menampar indra penciuman, perpaduan manis kimiawi dan sebuah aroma samar, layu, seperti daun kering yang membusuk. Bau itu seharusnya menjadi simbol awal yang baru, janji masa depan yang cerah. Namun, bagi Satya, ia tak lebih dari aroma dupa yang menyesakkan.


Di bawah, sebuah bayangan kurus bergerak pelan di balik jendela. Satya menghentikan dentingan palu sejenak, menoleh ke bawah: Jelita.


"Sayang? Udah di mana kamu?" suara Satya sedikit parau, bergaung di kesunyian siang yang menyengat.


Jelita melambai lemah dari balik kaca buram, senyumnya tampak pudar.


"Di dapur, Sayang. Nonton kamu," suaranya hampir tak terdengar.


Satya mengangguk, memaksa seulas senyum di bibir keringnya, lalu kembali memalu. Dua ketukan lagi, terakhir. Lelahnya sudah sampai ke tulang sumsum, tapi setiap kali melihat bayangan Jelita, entah kenapa ada kekuatan yang muncul dari lubuk hati paling dalam, memaksanya terus melangkah, terus berjuang. Dinding ini, atap ini, pondasi ini, semua akan jadi saksi.


Satya turun perlahan dari tangga bambu. Kakinya terasa kaku. Matanya menyusuri setiap detail rumah. Baru saja selesai. Sempurna. Tapi ada hampa yang menjalar. Ia berjalan menuju dapur, langkahnya berat.


"Duh, ngapain di sini sih, kamu?" tanya Satya begitu melihat Jelita duduk lesu di bangku kayu dekat jendela, tangannya memegangi selembar kertas lusuh yang kini penuh sketsa gambar rumah mereka. Sketsa itu sudah sobek di beberapa sudut, kusut karena sering disentuh.


"Mau lihat kamu nyelesaiin," bisik Jelita, menatap Satya dengan mata yang cekung, namun penuh binar kebahagiaan yang samar.


"Udah ah, Sayang. Kan capek. Sana ke kamar, tiduran." Satya mengelus lembut rambut Jelita, merasakan kehangatan yang lambat laun memudar dari tubuh kekasihnya.


"Nanti dulu... Aku belum liat beneran atapnya selesai."


Jelita terbatuk pelan, batuknya menusuk, membuat Satya buru-buru meraih segelas air yang sudah disiapkan di meja.


"Minum dulu, ya?" Satya menyorongkan gelas itu, tangannya gemetar. Batuk itu ... sudah sebulan. Lebih parah setiap hari.


Jelita minum perlahan, setiap helaan napas seperti membutuhkan seluruh tenaganya. Wajahnya makin pucat. Setiap helaan napas seperti membutuhkan seluruh tenaganya.


"Cantik ya rumah kita?" ucap Jelita, tersenyum kecil, memeluk kertas sketsanya.


"Cantik banget, Sayang. Lebih cantik dari yang di kertas itu. Jauh." Satya menunjuk ke gambar sketsa yang dulu menjadi cetak biru mimpi mereka. Sebuah mimpi yang sekarang, anehnya, terasa hampa.


"Akhirnya... Ini beneran lho. Aku kadang masih nggak percaya," kata Jelita, nadanya bergetar.

Lihat selengkapnya