Rumah di Embun Mata

freza nur fauzi
Chapter #2

Mantra Terakhir

Napas Satya tercekat, menggema parau di kerongkongan. Pelukannya mengerat, nyaris putus asa. Ia menundukkan kepalanya, menyembunyikan genangan air mata yang mulai membakar kelopak matanya, persis di atas kening Jelita yang terasa begitu dingin.


"Janjilah, Sayang."


Itu bukan sebuah pertanyaan, melainkan seperti permohonan terakhir, mantra yang Jelita pegang erat di tengah tubuhnya yang ringkih. Satya menahan napas. Lidahnya terasa kelu. Dia harus menjawab, tapi bagaimana caranya? Bagaimana mungkin dia menjanjikan sebuah "selalu" ketika "selama" saja sudah terasa seperti beban yang tak terangkat?


"Janjiiii!" Suara Satya nyaris meledak, sarat kepanikan dan putus asa. Ia mencengkeram erat bahu Jelita, berharap getar dari suaranya bisa mentransfer keyakinan, energi, dan harapan ke tubuh mungil itu. "Pasti. Pasti rumah ini akan selalu jadi punya kita. Aku janji. Janji mati!"


Jelita menatap Satya, mata indahnya yang dulu memancarkan kehidupan kini meredup, menyisakan jejak bayangan hitam di bawahnya. Namun, ada binar yang berpendar, setipis jaring laba-laba, menunjukkan sisa-sisa semangatnya.


"Nggak usah janji mati," bisik Jelita, mencoba tersenyum, meski bibirnya terlalu kering dan pecah-pecah. "Aku cuma butuh janji biasa. Tapi ditepati."


"Pasti! Apa pun buat kamu!" Satya berucap cepat, menahan isak yang siap pecah di dadanya. "Apa pun yang kamu mau, aku pasti tepatin, Jelita."


Tangan Jelita bergerak lambat, menyentuh pipi Satya yang kasar. Sentuhannya terasa seperti desiran angin di padang tandus, nyaris tak terasa, tapi mengiris hati Satya sedalam-dalamnya.


"Biar aku tebak. Habis ini kamu bakal panik. Marah-marah lagi kayak orang gila," ujar Jelita, mencoba memecah keheningan yang menyesakkan, tawa lirihnya terdengar sumbang. "Karena kamu mikir aku udah nggak bisa diajak kerja lagi, ya?"


"Ngaco kamu!" Satya bergeser, berdiri di depan Jelita, berusaha menyembunyikan sorot mata putus asa yang menyakitkan. "Udah aku bilang, kan? Kamu udah banyak banget bantuin. Semua ini, ide-ide hebat ini, cuma dari kamu. Kamu yang bikin rumah ini bernyawa. Aku cuma eksekutor kasar doang!"


"Pembohong ulung," ejek Jelita, menggelengkan kepala. Matanya tak lepas menatap kertas sketsa lusuh yang tergenggam erat di tangan mungilnya. "Seminggu lalu, aku masih bisa ngecat. Walau cuma dikit-dikit di tembok kamar."


"Nggak penting itu. Sekarang kamu istirahat!"

Lihat selengkapnya