“Enggak! Apa-apaan sih, kamu?! Nggak boleh ngomong gitu, Jelita!” Satya membentak, suaranya parau, serak penuh duka yang tersembunyi. Pelukan erat di pinggang Jelita seolah bisa mentransfer semua tenaga, semua harapan yang kini ia genggam mati-matian. Tangannya bergerak cepat, menyeka pipi basah yang justru semakin memerah. “Aku yang janji? Kamu yang janji! Kita janji buat rumah ini! Janji itu... nggak cuma satu orang! Kita berdua, Jelita!”
Ia mengalihkan pandangannya pada sketsa lusuh yang tergeletak di lantai, yang tadi terlepas dari genggaman lemah Jelita. Sebuah gambaran sederhana, tapi di sana terpampang seluruh isi jiwa dan mimpi mereka. Rumah kecil dengan dua jendela di depan, ada taman mini dengan ayunan. Sketsa itu sudah sobek di beberapa sudut, kusut, penuh jejak keringat dan kenangan manis yang kini terasa getir.
Flashback
“Heh, ngapain itu coret-coret? Nggak penting banget,” Satya menyenggol bahu Jelita pelan, senyum jail mengembang di bibirnya. Mereka duduk di atas karung semen bekas yang dijadikan alas duduk di pinggir jalan, sebatang pensil dan kertas bekas bungkusan nasi uduk adalah harta karun Jelita sore itu. Matahari sore menyelinap di antara celah gedung kumuh, menyinari jari-jari lincah Jelita yang menari di atas kertas.
“Ini masa depan kita, Mas,” jawab Jelita, tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas. “Aku lagi desain rumah impian kita, lho. Nanti kamu yang bangun, ya?”
Satya tertawa, tawa renyah yang sekarang rasanya sudah puluhan purnama tak lagi ia dengar dari mulut Jelita. “Mimpi ketinggian! Duit makan aja pas-pasan, mimpi rumah gedongan.”
Jelita berhenti mencoret, mendongak menatap Satya. Tatapan matanya lurus, penuh keyakinan yang dulu selalu membius Satya. “Siapa bilang gedongan? Kan kamu sendiri yang janji. ‘Cukup ada kamar tidur buat kita, dapur kecil buat masak nasi sama mie, kamar mandi buat berdua, sama satu halaman biar aku bisa tanam bunga’. Itu kan omongan kamu waktu kita jalan di pinggir sungai itu?”
Satya tersipu. Memang. Janji itu terlontar di antara canda dan hayalan mereka saat berkencan di pinggir kali yang kotor, sembari melihat rumah-rumah sederhana yang berdiri tak jauh dari aliran limbah. “Yaa... itu kan cuma khayalan biar kamu nggak ngambek waktu diajak ngedate gratis.”
“Ish!” Jelita memukul lengannya pelan. “Tapi aku serius, Sayang. Kita harus punya rumah sendiri. Biar nggak kontrak terus. Biar kalo malam Minggu nggak digangguin Bapak kos.”