Rumah di Embun Mata

freza nur fauzi
Chapter #4

Dekapan Terakhir Jelita

Satya mendekap tubuh ringkih Jelita lebih erat. “Peluk?” Suaranya pecah, tercekat. “Iya, Sayang. Peluk. Mau sampai kapan pun, aku peluk kamu.” Air matanya kini tak lagi bisa ia bendung, membasahi kerudung rambut Jelita yang kusut. Ia mengangkat Jelita ke pangkuannya, merasakan setiap getaran tubuh lemah itu, setiap sentakan napasnya yang putus-putus. Keduanya luruh di lantai keramik yang masih terasa dingin. Bau cat baru di sekitar mereka seolah menyiksa, ironisnya, sebagai aroma kesudahan.


“S-sayang… D-dingin…” Jelita menggigil, mencoba mencari kehangatan di tubuh Satya yang memanas oleh amarah dan ketakutan.


“Ini! Ini hangat!” Satya menciumi dahi Jelita, pipinya, matanya. Semua bagian dari wajah itu. Berharap kehangatan sentuhannya, bahkan napasnya, bisa membuat Jelita merasa lebih baik, lebih kuat. “Jangan ngomong gitu! Aku kan di sini, Jelita. Ada aku.”


Jelita menoleh lemah, pandangannya samar-samar menyapu seluruh ruangan. Matanya terhenti pada sikat cat yang tadi ia inginkan, kini tergeletak begitu saja di lantai. Senyum getir melintas di bibir pucatnya.


“Nggak... kuatt...” desisnya. “Mau... pegang... sikat itu... Satya…”


Satya mengikuti arah pandang Jelita, hatinya seperti diremas. Sikat cat. Mantra yang terus berulang dari Jelita. Sebuah simbol sisa-sisa impian yang ingin ia raih.


“Enggak! Nggak usah dipaksa!” Satya memaksakan diri tersenyum di tengah genangan air mata. “Kamu udah bantuin ngecat semuanya. Banyak banget. Semua warna indah di sini, kan ide kamu? Mentari pribadi kamu!”


“Tapi… nggak… semua…” Bibir Jelita bergetar. Ia menatap ke arah dinding di pojok ruangan. Dinding itu masih menyisakan sedikit bekas putih pudar, menunggu sentuhan akhir, sebuah detail yang sempat mereka bicarakan untuk dibuat pola kecil di atasnya.


“Sedikit lagi, kan? Nanti aku yang cat. Atau kita bisa cat sama-sama besok lusa. Kalau kamu udah enakan,” Satya menawari, suaranya mencoba terdengar optimistis.


Jelita menggeleng lemah, menyandarkan kepalanya ke dada Satya. Napasnya kini hanya seperti desahan kecil, sebuah helaan yang terasa begitu tipis, seolah udara sudah enggan untuk memenuhi paru-parunya yang semakin sesak. Satya merasakan irama detak jantung Jelita yang tidak beraturan, seperti genderang yang salah tempo.


“Aku… cuma mau... kamu janji…” Jelita memulai lagi, kata-katanya putus-putus, nyaris tenggelam di antara degup jantung Satya. “Janji… jangan... tinggalin… rumah… ini.”


“Jelita! Apaan, sih, kamu?! Nggak ada janji ninggalin! Ini rumah kita!” Satya meraung, tangannya memegangi kepala Jelita, memaksanya menatap wajahnya. “Aku nggak bakal kemana-mana! Kita berdua bakal tinggal di sini, sampai tua! Ingat?! Anak-anak kita, cucu-cucu kita, mereka bakal lari-larian di halaman!”


Mata Jelita yang redup menatapnya, di dalamnya terpancar sebuah kesedihan yang tak terkira, bercampur penerimaan akan takdir yang pahit. Ia mencoba mengangkat tangannya, meraih sketsa lusuh yang tadi tergeletak di lantai.


Lihat selengkapnya