Hati Satya terenggut paksa, jantungnya serasa diremas oleh sepatah kata itu. Menikah. Di sini. Sekarang. Permintaan yang terlalu agung, terlalu menghancurkan. Bukannya dia tidak mau, demi Tuhan, dia ingin! Lebih dari apa pun. Tapi bukan dalam keadaan seperti ini. Bukan di ambang jurang perpisahan yang begitu menyakitkan. Napasnya tercekat, keringat dingin mulai membasahi dahinya lagi.
“Jelita… Ngomong apa, sih? Ini… ini kan nggak mungkin, Sayang…” Satya berbisik, suaranya putus asa, tak percaya akan apa yang baru saja didengarnya. Ia ingin berteriak tidak, tapi pandangan mata Jelita… tatapan itu seperti belati yang mengiris. Tatapan memohon yang tidak bisa ditolaknya. Ini bukan sekadar permintaan, ini perintah terakhir.
“Aku… nggak… mau… terlambat…” Jelita membalas, suaranya serak. Jemari lemahnya kembali mencari genggaman tangan Satya, meremasnya dengan sisa-sisa tenaga yang ada. “Waktu… itu… kita… janji…”
Satya menarik napas dalam, memejamkan mata. Otaknya bekerja kacau. Janji. Mereka pernah berjanji akan menikah di rumah ini. Ketika rumah ini berdiri, utuh, sempurna. Ketika mereka berdua, utuh, sempurna. Tapi tidak, waktu mengkhianati mereka. Takdir sedang mengejek mereka.
“Ta-tapi gimana caranya? Apa yang bisa kita siapin sekarang, Jelita?” tanya Satya, berusaha realistis, meskipun logika sudah lari tunggang langgang dari dirinya. Ia tak ingin membiarkan pikiran-pikiran praktis menghancurkan momen yang mungkin akan jadi terakhir. Tapi rasa sakit di hatinya terlalu besar.
Jelita mencoba tersenyum, bibirnya bergetar. “Nggak perlu… apa-apa… Satya… Cuma… kamu… sama aku… Cincin… ini…” Dia menunjuk ke cincin baja polos yang melingkar di jari manis Satya.
Sebuah kilas balik melintas cepat di benak Satya. Mereka sedang berjalan pulang dari pasar loak, tangan saling menggenggam, di bawah terik matahari. Mereka berhenti di sebuah kios kecil yang menjual pernak-pernik murah. Sepasang cincin baja polos tergantung di sana, tampak sederhana namun entah mengapa menarik perhatian mereka.
“Sayang, ini deh! Cincin janji nikah kita!” seru Jelita waktu itu, penuh semangat, matanya berbinar. Ia mengambil kedua cincin itu. “Murah kok, Mas. Daripada kita nunggu nikah beneran entah kapan, kan kita udah janji di rumah kita nanti. Ini jadi simbolnya, gimana?”
“Ya elah, cincin murah kayak gitu?” Satya pura-pura ogah-ogahan, meski dalam hatinya sudah melumer. “Nanti kamu mau pasang itu di jari manis pas pesta nikahan?”
“Nggak usah pesta mewah! Kan yang penting nikah! Dan janji kita sama Tuhan! Kita udah janji akan bangun rumah ini, ya udah, ini buat pengikat janji nikah kita!”
Dan Satya menurut, ia memakai cincin itu, dan Jelita memasangkan yang satu lagi di jari manisnya sendiri. Cincin yang mereka janji akan terus mereka pakai sampai maut memisahkan. Cincin yang kini terasa berat dan dingin di jari Satya.
Kilasan itu lenyap seiring napas berat Jelita yang mengalun lirih di pangkuannya. Ya, cincin itu. Cincin janji mereka.
“Oke. Oke, Sayang,” Satya mengangguk, mencoba meyakinkan dirinya sendiri lebih dari Jelita. “Oke, kita… kita menikah sekarang.” Hening mencekam. Setiap detiknya terasa seperti gada yang memukul dadanya. Ia tidak tahu harus mulai dari mana. Matanya menyapu ruangan. Kamar utama. Dinding yang belum sempurna tercat itu.
“Kamu… kuat… kan?” Satya bertanya hati-hati, berusaha membujuk Jelita berdiri, meskipun rasanya tidak mungkin. Ia harus membopongnya. Ke tempat terbaik yang bisa mereka temukan di rumah baru itu.
Jelita mengangguk tipis, sebuah isyarat kepastian yang terasa menusuk. “Sedikit… lagi…”
Satya tak berkata apa-apa lagi. Dengan kekuatan sisa dan hati yang remuk, ia membopong Jelita, perlahan. Tubuh ringkih itu terasa semakin ringan di lengannya, ringan dan dingin, seperti bongkahan es. Ia berjalan melewati ruang tamu, melewati dinding-dinding yang baru berdiri tegak, melalui ambang pintu kamar utama yang megah. Mereka tidak tahu. Apa yang mereka namakan sebagai "kamar pengantin". Kamar pertama mereka, yang dulu dipenuhi dengan janji, kini hanya memuat keputusasaan.
Ia menempatkan Jelita dengan sangat hati-hati di tengah kamar, di atas lembaran koran yang digelar Satya untuk sementara di lantai, agar tidak kotor oleh debu sisa pekerjaan. Sikat cat yang tadi Jelita ingin pegang masih tergeletak di dekat kaki Satya, ironis sekali.
“Mau… itu…” Jelita menunjuk sikat itu, pandangannya masih fokus. Matanya berbinar redup, tapi sepertinya keinginannya begitu kuat. Satya tahu maksudnya. Jelita ingin itu jadi simbol. Sebuah sumpah yang terakhir.