Rumah di Embun Mata

freza nur fauzi
Chapter #6

Bisikan Terakhir

Dunia Satya hancur dalam gema bisikan itu. Kata-kata itu beriak di udara kamar yang baru, memukul dadanya lebih keras dari palu terakhirnya. Tidak. Bukan ini yang Jelita katakan. Tidak mungkin. Gadis ini terlalu kuat. Gadis ini… dia tidak mungkin meninggalkannya begitu saja, tidak di malam ‘pernikahan’ mereka.


Ia mendekatkan telinganya lagi ke dada Jelita. Kosong. Bahkan denyutan samar yang tadi masih terasa, kini lenyap, tak meninggalkan jejak. Suhu tubuh Jelita terasa makin dingin di pangkuannya. Terlampau dingin untuk sebuah kehidupan. Panik menjalar, mencekiknya. Tangannya gemetar hebat.


“Jelita… Jelita, Sayang…” suaranya pecah, “Kamu bohong, kan? Bangun, Sayang… Ini nggak lucu. Ini malem kita. Malam yang kamu tunggu…”


Tidak ada jawaban. Hanya kesunyian. Berat, pekat, menusuk hingga ke ulu hati. Suara napasnya sendiri kini terdengar gaduh, tak teratur. Matanya nanar memandangi wajah Jelita, damai, terlampau damai. Tak ada lagi kerutan di dahinya karena sakit, tak ada lagi napas terengah-engah. Hanya... diam.


“Nggak bisa! Nggak!” Satya berbisik, mencoba menipu diri sendiri. Ia tahu ini, tapi otaknya menolak mentah-mentah. Rumah ini dibangun untuk hidup. Untuk mereka. Bukan untuk... perpisahan. “Kamu cuma tidur, kan? Aku gendong ke kasur. Kamu kan mau tidur di kasur wangi ini?”


Ia mencoba berdiri, tubuhnya terasa seberat baja, namun tak mengacuhkan sakit itu. Dengan tangan gemetar, ia membopong Jelita lagi. Ringan. Terlalu ringan. Langkahnya terhuyung, seolah pijakan di lantai keramik yang baru itu telah berubah menjadi jurang dalam. Ia mendapati dirinya berjalan pelan, perlahan, seolah takut mengganggu Jelita, mengganggu tidur abadi itu.


Akhirnya ia tiba di dekat kasur yang beberapa hari lalu mereka siapkan, dengan sprei putih bersih yang baru terpasang, hadiah dari tetangga yang menaruh iba. Seharusnya, aroma bunga melati memenuhi ruangan. Bukan aroma ini. Bukan bau hampa yang menyesakkan.


Ia merebahkan Jelita perlahan, sangat hati-hati, di atas kasur. Tubuhnya masih sedikit hangat. Satu-satunya jejak sisa hidup. Ia menarik selimut tipis, menutupi Jelita hingga sebatas leher, seolah sedang menyelimuti anak kecil yang kelelahan. Satya duduk di sampingnya, memandangi wajah yang tak lagi menunjukkan penderitaan.


“Jelita… kok kamu nakal banget, sih?” Satya berbisik, suaranya parau, ada sedikit senyum pahit terukir di bibirnya. Senyum pahit yang entah berapa kali sudah ia lihat di wajah Jelita dalam beberapa minggu terakhir ini. “Katanya mau ngerancang gorden warna-warni… Katanya mau beli taplak meja biar pas sama cat tembok…”


Kini, yang Satya ingat hanyalah senyum pahit itu. Senyum yang dipaksakan. Senyum yang selalu Jelita tunjukkan kepadanya, seolah meyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja, meskipun badai mengerikan sedang menggerogoti tubuhnya dari dalam. Senyum itu yang memberinya kekuatan, namun juga menusuknya setiap kali ia tahu betapa keras Jelita berusaha hanya untuknya.


Kilasan kenangan melintas, kembali ke beberapa minggu sebelumnya, ketika mereka sedang dalam fase paling intens pembangunan rumah, berkejaran dengan waktu dan napas Jelita yang semakin menipis. Satya sendirian di bawah terik, mengaduk semen dan memasang bata, sementara Jelita duduk di bangku reyot dekat jendela, hanya bisa memandangi, tetapi tatapannya lebih menguatkan dari ribuan suplemen.


Lihat selengkapnya