“Jelita… gimana aku… nggak sendiri… kalo kamu… ninggalin aku gini?” Satya membenamkan wajahnya di leher Jelita yang kini sedingin embun malam, napasnya tersengal menahan jerit yang hendak meledak. Tangan kerabat Satya itu meremas punggung Jelita, mencarinya. Apa pun. Sekadar denyut. Sekadar sentuhan yang membalas.
Tapi yang ada hanyalah kebekuan yang merayap. Kosong.
Suara ketukan di pintu kembali terdengar, lebih berani, lebih menusuk. Disusul oleh panggilan-panggilan yang terdengar semakin dekat ke pintu depan rumah.
“Pak Satya! Ada orangnya kan? Lampu nyala itu!”
Itu suara Mbok Warung. Diikuti, tak salah lagi, suara Pak Haji.
“Neng Jelita! Tolong, ini genteng saya baru ambruk! Ada maling di atap saya kayaknya, deh! Tolong keluar, Neng! Atau paling tidak Bapak suaminya!”
Mendengar nama Pak Haji dan genteng, memori-memori pedih langsung menyerbu Satya. Dia menolak suara itu, menolak orang-orang itu, menolak segalanya. Dia hanya ingin di sini, bersama Jelita, untuk selamanya, di kamar pertama mereka. Mereka bahkan belum punya waktu. Belum. Dia berjanji akan nikah, menghabiskan malam pengantin.
“Jelita… nggak apa-apa, ya? Kamu istirahat aja. Aku... aku sebentar aja. Mereka ini, gangguin malam pertama kita, Sayang…” Satya berbisik, mengecup bibir dingin Jelita, berusaha sekuat tenaga mengabaikan bisikan maut itu. Jari-jemarinya masih gemetar, menggenggam erat tangan Jelita yang dingin dan lunglai. Rasa sakit mengiris hatinya, seolah setiap detak jantungnya memanggil nama Jelita.
Suara di luar makin intens, bergaung di rumah baru mereka.
“Pak Satya! Itu kalau saya minta bantuan kok lama, sih, ya ampun! Atau jangan-jangan Ibu itu… Ah, sudahlah! Kita dobrak saja ya, Mbok?” suara Pak Haji, tidak lagi seceria saat gentengnya lepas dan hampir menimpa kepalanya. Sekarang ada nada waspada dan tersembunyi ingin tahu.
Dobrak? Satya tidak bisa membiarkan itu. Ini rumah mereka. Saksi bisu kebahagiaan dan kini, perpisahan mereka. Ia tidak bisa membiarkan kekacauan ini masuk ke dalam mimpi mereka. Bagaimana jika Mbok Warung dan Pak Haji melihat Jelita? Apa yang akan mereka katakan? Fitnah apa lagi yang akan keluar dari mulut usil Mbok Warung?
Ia menatap Jelita. Begitu damai. Wajah itu, wajah yang ia cintai. Penuh kenangan. Penuh tawa dan perjuangan.
“Aku janji, Sayang. Aku bakal lindungin kamu. Kita udah janji,” gumam Satya. Dia perlahan meletakkan Jelita kembali di atas kasur, menarik selimut putih itu sampai menutupi seluruh tubuh Jelita, sebatas leher. Mata Jelita terpejam, damai. Tapi ada keindahan di situ, kecantikan yang tak lekang. Satya mencoba menghirup napas dalam-dalam, mengatur emosinya yang jungkir balik.
Dia berdiri. Langkahnya terasa sangat berat, seolah setiap langkah di keramik baru ini menghantam kembali rasa kehilangan. Bau cat yang mengering dan bau hampa… Semua itu terasa seperti bagian dari sebuah pemakaman, bukan pernikahan. Pintu kamar. Satu lagi pembatas. Satya ragu. Dia tidak ingin meninggalkan Jelita sedetik pun. Bahkan sekarang.
“Ya ampun, Mbok, kayaknya dia nggak mau keluar, deh! Sudah dibilang tadi di jalan kalau Pak Satya itu… ngaco. Ibu istrinya… Ah, saya mah sudah ngira dari dulu!” bisik Mbok Warung, suaranya berusaha dipelankan tapi tetap saja menusuk ke telinga Satya.
Rahang Satya mengeras. Darah didihannya semakin menjadi. Mau tak mau ia melangkahkan kakinya menuju pintu. Untuk melindungi Jelita dari lidah tajam para tetangga itu. Dan untuk melindungi sisa-sisa impian yang telah hancur ini.
Flashback
Dentang palu terdengar riuh dari kejauhan, membelah kesunyian siang yang membakar. Satya sedang membenarkan salah satu bagian lisplang depan rumah. Jantungnya berdebar-debar karena terkejut ketika mendengar teriakan yang melengking.
“AAAAA! YA ALLAH, MAAAK!”
Itu suara Pak Haji. Diikuti oleh suara “BRAK!” yang cukup keras. Seperti benda berat yang jatuh. Satya refleks menoleh ke bawah. Dari atas genteng yang sedang ia susun, ia bisa melihat pemandangan dramatis: Pak Haji, dengan sarung khasnya, terduduk bersimpuh persis di bawah pagar, wajahnya memucat seperti pocong tanpa tali.