Rumah di Embun Mata

freza nur fauzi
Chapter #8

Badai Emosi

“Bapaknya mau nuduh apa ini?” Satya melontarkan kalimatnya dengan nada parau yang nyaris tak bisa dikendalikannya, suaranya sarat akan emosi yang bergejolak. Amarah itu, duka itu, kini campur aduk seperti badai di dalam dirinya. Matanya menyalang tajam, menatap lurus Pak Haji yang kaget melihat intensitas itu. Jari-jari Satya terkepal erat, sekuat tenaga menahan dorongan untuk tidak meledak.


Mbok Warung yang tadinya sibuk berbisik di samping Pak Haji langsung menelan ludah. Mukanya sedikit memucat, terkejut melihat Satya yang selalu ia kenal sebagai pemuda pendiam, kini berdiri di ambang pintu seperti penjaga neraka.


“Ya elah, Mas, ngomongnya biasa aja dong! Kan kita ini cuma… mau nolong. Iy-iya kan, Pak Haji?” Mbok Warung mencoba berujar, berusaha terdengar prihatin, namun nada suaranya lebih kentara berisi ketakutan ketahuan menggunjing.


Pak Haji, meskipun sempat tersentak, cepat-cepat mengambil alih situasi. Jelas sekali dia menikmati perhatian ini, drama di hari yang seharusnya penuh ucapan selamat.


“Eh, saya itu punya dasar lho ngomong begitu! Udah dua hari lho ini, Neng Jelita itu kok nggak kelihatan? Berisik mulu Bapaknya di dalem rumah! Bapak kan tahu itu istri Bapak, ya? Bapak dari dulu tuh cuma ngarepin utang buat bikin rumah ini. Sekarang jangan pake modus begituan lagi dong! Kasihan istrinya!” kata Pak Haji, semakin menggebu, merasa didukung oleh kerumunan tetangga yang mulai merapat di pagar.


Darah Satya mendidih. Dia tahu orang-orang ini hanya ingin mengolok-oloknya, ingin melihatnya jatuh. Tapi dia tak akan membiarkan Jelita mereka injak. Sekali pun Jelita sudah pergi, Satya bersumpah untuk melindunginya dari omongan-omongan sampah ini.


“Pak Haji!” Satya melangkah satu tapak maju, memperpendek jarak. Sorot matanya menembus Pak Haji, “Jangan pernah ngomong sembarangan tentang istri saya! Kamu itu tetangga! Nggak malu, mulutnya kayak nenek-nenek lampir gitu?!”


Mbok Warung terlonjak kaget. “Waduh! Kok Bapak ngomong gitu, sih! Nenek-nenek lampir dari mana, Pak Satya! Kita ini cuma… perhatian sama Neng Jelita yang lagi… ‘nggak kelihatan batang hidungnya’!” Kalimat Mbok Warung itu mengayun, melingkar pada ucapan Pak Haji sebelumnya, meniru intonasi, lalu terhenti, menggantungkan kalimat seolah menunggu Satya memberikan konfirmasi kematian Jelita.


Sentakan rasa sakit itu. Kata-kata "tidak kelihatan batang hidungnya" itu terasa seperti tombak beracun yang menancap tepat di jantung Satya. Dada Satya terasa sesak, napasnya memburu. Sebuah gambaran yang berusaha ia buang mati-matian, kini kembali mengusik pikirannya. Kilasan ingatan itu. Kilasan yang lebih brutal daripada semua sakitnya membangun rumah. Kilasan yang lebih perih dari semua air mata yang ia tahan.


Itu sore yang damai. Udara masih terasa hangat, meski sudah mulai masuk musim hujan. Burung-burung hinggap di dahan-dahan pohon rambutan Pak Haji, bersiul merdu. Satya dan Jelita sedang menikmati teh manis hangat di teras rumah yang sudah hampir selesai. Jelita tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu Satya. Mereka berdua mendengarkan alunan radio lawas yang kebetulan memutar lagu kesukaan mereka.


“Wah, kayaknya adem bener ya sore ini, Sayang,” bisik Jelita, matanya terpejam. Jemarinya memainkan rambut Satya.


“Iya, adem. Lebih adem dari kamar AC punya Pak RT,” Satya membalas, memeluk Jelita lebih erat. Semua terasa sempurna, sebuah jeda manis di antara hiruk pikuk pembangunan.


Namun, di tengah kedamaian itu, senyum Jelita memudar. Tubuhnya tiba-tiba menegang. Matanya membelalak, terbuka lebar namun pandangannya kosong, menatap langit-langit yang tak terlihat.


“Jelita?” Satya terlonjak, panik mencengkeram dirinya. “Kamu kenapa? Sayang?”


Jelita tidak menjawab. Ia hanya mengejang. Kejang yang sangat hebat, lebih hebat dari kejang sebelumnya. Matanya terbalik, busa muncul dari bibirnya. Tubuhnya bergetar tak terkontrol, membentur-bentur bangku bambu di samping mereka.

Lihat selengkapnya