Rumah di Embun Mata

freza nur fauzi
Chapter #9

Satya Menggebrak

Napas Satya memburu, tatapannya dingin menusuk hingga Pak Haji dan Mbok Warung terdiam kaku, wajah mereka memucat. Untuk pertama kalinya, keceriaan dan rasa usil di wajah Pak Haji memudar, digantikan oleh keraguan dan sedikit rasa takut. Kerumunan tetangga di balik pagar buru-buru menunduk, tak berani menatap sorot mata Satya yang berkobar. Suara bisik-bisik yang tadi riuh, kini mati ditelan angin senja.


“Ka-kamu ini kenapa, sih, Nak? Jadi begini?” Pak Haji tergagap, suaranya pelan dan tidak meyakinkan seperti tadi. Mbok Warung menoleh ke belakang, menyikut suaminya yang masih bersembunyi di balik semak pagar, isyarat agar mereka mundur.


“Apa kalian belum jelas?” Satya berkata lagi, kini dengan suara lebih rendah, lebih menusuk, "Saya sudah cukup sabar selama ini dengan mulut kotor kalian."


“Eeeh… ya bukan begitu, toh, Nak…” Mbok Warung menarik lengan Pak Haji yang masih terpaku, mata Pak Haji sesekali melirik pintu rumah Satya yang terbuka lebar, mengisyaratkan ketakutannya untuk melewati ambang pintu rumah orang, mengingat kalimat ancaman dari Satya. "Kita pulang saja, Pak. Itu Mas Satya kan lagi emosi saja… Orang lagi sedih, jangan diganggu. Itu saja dia udah nggak ada temannya lagi.”


Seketika kata 'sedih' dan 'tidak ada temannya lagi' menusuk Satya lebih dalam dari kemarahannya sendiri. Mbok Warung tahu. Semua orang tahu. Kata-kata itu mengendap, meracuni suasana. Satya merasa seolah dunianya tiba-tiba sunyi senyap, padahal tadi bergejolak. Dia hanya mengalihkan tatapan pada rumah barunya yang megah, keheningan rumah itu semakin memperparah suasana di sekitarnya. Semua suara, semua kemarahan, seolah hanya sebuah tameng.


Dia mundur selangkah, menatap Pak Haji dan Mbok Warung yang mulai melangkah mundur, masih berbisik-bisik, melontarkan kalimat samar yang ia tahu pasti adalah makian untuk dirinya. Namun ia tak lagi peduli. Perutnya mendadak terasa hampa.


“Saya permisi dulu, Pak Haji, Mbok Warung.” Satya berkata, tidak lagi dengan amarah yang menggelegar, namun dengan suara parau yang mendalam. Ia pun langsung menutup pintu dengan perlahan dan berhati-hati, memisahkan dirinya dari dunia luar yang kejam dan seolah menghukum dirinya atas kebahagiaan yang sirna.


Meninggalkan mereka di balik pintu yang tertutup rapat, Satya merasakan bahunya meluruh. Ruang tamu itu terasa begitu besar dan kosong. Sepi. Dingin. Senyap. Tak ada gema tawa yang dulu mereka impikan. Hanya napasnya yang berat dan suara angin yang menerobos celah jendela, mengundang sepasang rasa ngilu di telinganya. Kakinya melangkah gontai, membawa dirinya kembali ke kamar utama, tempat Jelita terbaring tenang.


Ia mendekat perlahan ke sisi ranjang, memandangi wajah Jelita yang kini diwarnai kedamaian. Sentuhannya dingin. Sangat dingin. Matanya menyusuri seluruh ruangan. Dinding-dinding putih bersih, lantai keramik yang dingin, dan… jendela itu. Jendela besar yang menghadap langsung ke arah matahari terbit.


Jendela untuk Harapan. Itulah nama yang dulu Jelita berikan untuk jendela itu. Kilasan ingatan melayang begitu saja. Terlalu jernih, terlalu menyakitkan.


Matahari pagi masih menyunggingkan senyum malu-malu di balik cakrawala. Dua minggu sebelum Jelita batuk pertama kali, mereka sedang berdiri di dalam calon kamar tidur mereka. Bangunannya belum selesai seluruhnya, hanya pondasi dan kerangka dinding yang menopang. Tapi bagi mereka, itu sudah sebuah istana.


“Nanti kita di sini tidur bareng. Berdua doang. Jadi aku nggak kesepian lagi,” Satya menunjuk ke tengah ruangan yang nanti akan menjadi tempat tidur mereka, lengan panjangnya sudah kotor oleh tanah bekas menimbun pondasi.

Lihat selengkapnya