Rumah di Embun Mata

freza nur fauzi
Chapter #10

Bayangan Dingin Takdir

Desiran dingin angin yang menembus celah jendela mengikis pertanyaan Satya yang menggantung. Jendela itu, yang seharusnya membingkai harapan baru, kini seolah memantulkan bayangan kelam, bayangan saat ia berpacu melawan waktu dan keadaan. Kehadiran Jelita yang membeku di sisinya adalah kenyataan yang tak bisa lagi ia hindari. Ia meraih tangannya, yang sudah terlampau dingin, mencium jemari pucat itu berulang kali. Tubuhnya bergetar, memicu ingatan yang menyakitkan, kembali ke masa-masa ia berjuang sendirian.




Ruangan berpendingin udara itu terasa menyesakkan. Dinding-dindingnya dihiasi logo bank yang mencolok, memamerkan stabilitas yang Satya harapkan bisa sedikit menular padanya. Di seberangnya, seorang petugas bank, paruh baya, berjas rapi, menatapnya datar di balik tumpukan berkas. Satya mencengkeram tas lusuhnya lebih erat. Sudah kelima kalinya minggu ini.


“Jadi, Bapak mengajukan pinjaman… untuk biaya pengobatan dan sisa pembangunan rumah, begitu?” Petugas itu menyelaraskan kacamatanya, nadanya tanpa emosi. Pulpennya berdetak pelan, mengisi formulir yang Satya tahu akan berakhir di tempat sampah.


“Iya, Pak. Mohon sangat. Istri saya butuh obatnya secepat mungkin. Terus ini rumah, sebentar lagi selesai, ini lho desainnya…” Satya menyerahkan selembar sketsa Jelita yang sudah ia salin, yang kini diselipkan ke dalam file usang. Ia tahu betapa noraknya tindakannya itu, tapi apa lagi yang bisa ia berikan?


Petugas itu membolak-balik sekilas, tanpa minat, seolah hanya melihat corat-coret anak kecil. “Prospek kerja Bapak?”


“Saya… saya kontraktor kecil-kecilan, Pak. Biasa bangun rumah tetangga. Proyek kami yang ini kan juga, Pak… dari nol. Kalau Bapak mau lihat, bangunannya sudah 80% lebih jadi.” Suara Satya bergetar, mencoba terdengar meyakinkan.


“Tanpa izin IMB resmi atas nama Bapak? Pekerjaan tak menentu? Mohon maaf, Bapak, nilai agunan bangunan Bapak, yang masih di atas tanah hak guna usaha pun, tidak mencukupi untuk nominal pinjaman yang Bapak ajukan. Ditambah riwayat pendapatan Bapak yang… kami ragukan, risiko kredit terlalu tinggi bagi pihak kami.”


“Tapi, Pak! Ini demi istri saya! Kalau rumah ini jadi, kami janji akan langsung melunasi, saya kerja serabutan apapun deh. Proyek bangun apa pun akan saya ambil! Saya rela jadi kuli angkut terus setiap hari kalau diperlukan! Yang penting istri saya…” Suara Satya tersendat. Matanya terasa panas.


Petugas itu meletakkan pulpennya. Menarik napas, lalu memaksakan seulas senyum tipis yang tak sampai ke matanya. “Bapak Satya yang terhormat. Perbankan punya aturannya sendiri. Rasa kasihan tidak masuk ke dalam kalkulasi. Saran saya, Bapak coba pinjam ke sanak keluarga atau teman terdekat. Siapa tahu mereka lebih punya kelonggaran hati. Karena kalau di sini… saya yakin seribu persen akan ditolak mentah-mentah.”


Pintu kantor bank yang sejuk itu kini terasa berat, dingin menusuk kulitnya saat Satya melangkah keluar. Langit senja berwarna jingga pekat, seolah menyiratkan sebuah penghakiman atas dirinya yang tak mampu. Perutnya melilit. Sejak pagi ia belum makan, hanya menyesap air putih. Semua sisa uangnya ia habiskan untuk bus menuju kota, berharap sepercik mukjizat. Kini, mukjizat itu hanya sebuah senyuman basa-basi.


Ia menjajal kerabat, teman-teman lama, bahkan rekan kerja proyek sebelumnya. Tidak ada yang sanggup membantu. Kebanyakan dari mereka menghadapi kesulitan yang sama di masa itu, yang lain berdalih sedang membangun masa depan sendiri. Beberapa terang-terangan menghindar. Ada yang bahkan menganggap Jelita dan mimpinya hanya sebuah proyek nekat yang membebani Satya. Dan Satya hanya bisa menelan kepahitan itu.


Lihat selengkapnya