Malam itu aku menerima panggilan video dari Mama. Layar ponselku tampak gelap, hanya sesekali wajahnya terlihat ketika cahaya dari luar kamar menyentuh pipinya yang basah oleh air mata. Dengan suara yang terdengar lelah, Mama kembali bercerita tentang Ayah, tentang perempuan lain yang lagi-lagi hadir di antara rumah tangga mereka. Aku hanya diam mendengarkan sambil menggenggam ponsel erat. Sejujurnya, aku tidak pernah benar-benar pandai berbicara dari hati ke hati dengan Mama. Aku selalu kesulitan menemukan kata-kata yang tepat setiap kali melihatnya terluka seperti ini.
Hingga pada suatu jeda yang panjang, Mama berkata pelan, nyaris seperti bisikan yang terseret tangis, "Mama lelah, Mama mau mati saja."
Kalimat itu membuat dadaku sesak seketika. Ada begitu banyak hal yang ingin kukatakan, begitu banyak cara yang ingin kulakukan untuk menenangkan dirinya, tetapi kepalaku mendadak kosong. Pada akhirnya aku hanya mampu mengucapkan kata-kata sederhana yang terdengar menyedihkan bahkan di telingaku sendiri.
"Ma... istirahat dulu, ya. Jangan nangis. Masih ada kami."
Setelah panggilan itu berakhir, aku tetap duduk di tempatku tanpa bergerak. Menatap layar yang telah gelap sambil membiarkan keheningan memenuhi kamar. Untuk waktu yang lama aku hanya diam, sampai akhirnya sebuah kesadaran yang selama ini berusaha kuabaikan muncul begitu saja. Saat itu aku mengerti bahwa aku tumbuh di rumah yang tidak pernah benar-benar tenang.
