Di sudut paling jauh Desa Ganlawana berdiri sebuah rumah kecil yang sederhana. Dinding papan kayunya telah memudar menjadi kelabu kusam, sementara atap seng berkarat di atasnya sering berderit setiap kali angin malam turun dari perbukitan. Dari luar rumah itu tampak rapuh dan tak istimewa, tetapi di dalamnya tersimpan kehangatan yang tak dapat diukur oleh harta apa pun.
Pagi di Ganlawana selalu datang dengan tenang. Tak ada suara kendaraan yang berlalu-lalang atau dering gawai yang saling bersahutan. Yang terdengar hanya kokok ayam, desir angin yang menyapu ladang, dan langkah kaki warga yang mulai memulai aktivitas mereka.
Di rumah kecil itu, Pak Doma sudah terbangun bahkan sebelum fajar menyingsing. Ia tengah mengenakan kemeja safari cokelat tuanya ketika suara sang istri terdengar dari dapur.
"Pak, sudah bangun?"
"Iya, Naya. Dari tadi."
"Bapak jangan lupa sarapan dulu."
Senyum tipis terukir di wajah Doma. Jika tidak diingatkan seperti itu, mungkin ia sudah berangkat ke sekolah tanpa menyentuh makanan sedikit pun.
Ia berjalan menuju dapur dan langsung disambut aroma pisang goreng yang baru diangkat dari tungku. Naya berdiri di depan api kayu bakar yang menyala pelan, sesekali menopang perutnya yang semakin besar. Melihat itu, Doma segera menghampirinya.
"Kenapa berdirinya lama begitu?" tanyanya khawatir.
Naya menggeleng pelan. "Tidak apa-apa."
"Capek?"
"Sedikit."
Tanpa banyak bicara, Doma menarik sebuah bangku dan meletakkannya di dekat tungku.
"Duduk dulu."
"Masih banyak kerjaan."
"Pisang gorengnya tidak akan lari."
Naya tertawa kecil sebelum akhirnya menuruti permintaannya. Tawa sederhana itu membuat suasana dapur terasa hangat. Beberapa minggu lagi, atau mungkin hanya beberapa hari lagi, bayi yang selama ini mereka nantikan akan lahir ke dunia.
"Kata Bu Lou, sebentar lagi bayi kita lahir," kata Naya sambil mengusap perutnya.
Doma mengangguk pelan, lalu ikut meletakkan tangan di atas perut istrinya. "Halo, Nak."
Naya terkekeh melihat tingkah suaminya. "Dia belum lahir, Pak."
"Tidak apa-apa. Siapa tahu dia mendengar."
"Kalau mendengar, mungkin dia bingung kenapa ayahnya bicara sendiri."
"Yang penting dia tahu kalau ayahnya sayang."
Keduanya tertawa bersamaan. Untuk sesaat, dunia terasa begitu sederhana dan damai.
Setelah sarapan selesai, Doma mendorong sepeda kumbang tua peninggalan ayahnya keluar dari halaman rumah. Matahari baru saja muncul dari balik perbukitan ketika Naya berdiri di ambang pintu, memperhatikannya dengan senyum yang tak pernah gagal membuat hati Doma terasa hangat.
"Hati-hati di jalan, Pak."
"Iya."
"Jangan lupa makan siang."
"Iya."
"Dan jangan pulang terlalu malam."
Doma mengangguk lagi, membuat Naya menggeleng pelan sambil tersenyum.
"Pak."
"Hm?"
"Saya sayang Bapak."
Senyum Doma melebar. "Saya juga sayang Naya."
"Kalau begitu cepat pulang."
"Siap, Bu."
Dengan perasaan ringan, ia mulai mengayuh sepedanya menyusuri jalan tanah yang membelah ladang-ladang jagung milik warga. Embun masih menempel di ujung daun, berkilau terkena cahaya pagi yang lembut. Di kejauhan, para petani telah memulai aktivitas mereka. Ada yang memanggul cangkul di bahu, ada pula yang sibuk membersihkan rumput liar di sela tanaman.
"Pagi, Pak Guru!" seru seorang ibu dari tepi ladang.
"Pagi, Bu Barek," balas Doma sambil melambaikan tangan.
Tak jauh dari sana, sekelompok anak berjalan kaki menuju sekolah dasar. Seragam mereka tampak mulai pudar dimakan waktu, sementara tas yang mereka bawa terlihat telah menemani bertahun-tahun perjalanan belajar. Namun wajah-wajah kecil itu tetap dipenuhi semangat.
"Pak Guru!" teriak salah seorang dari mereka.
Doma tersenyum. "Hati-hati jalannya."
Anak-anak itu tertawa lalu berlari mendahuluinya. Melihat mereka, hati Doma selalu dipenuhi rasa hangat yang sulit dijelaskan. Ia mengenal hampir semua anak di desa itu. Ia tahu siapa yang rajin belajar, siapa yang sering terlambat, siapa yang suka membuat keributan di kelas, bahkan siapa yang diam-diam gemetar setiap kali diminta membaca di depan teman-temannya.
Perjalanan berlanjut hingga ia tiba di sebuah sungai kecil yang membelah Desa Ganlawana. Airnya mengalir jernih di antara bebatuan hitam yang licin, memantulkan cahaya matahari yang mulai meninggi. Beberapa warga tampak sedang mencuci pakaian di tepian sungai sambil bercakap-cakap satu sama lain.
Doma memperlambat kayuhannya sejenak. Pemandangan itu telah ia lihat hampir setiap hari selama bertahun-tahun, namun tak pernah sekalipun membuatnya bosan. Baginya, Ganlawana bukan sekadar tempat tinggal. Desa itu adalah rumah. Tempat ia tumbuh, belajar, jatuh bangun, dan memahami arti kebersamaan.
Angin pagi berembus lembut saat ia kembali melanjutkan perjalanan. Tanpa sadar tangannya menyentuh saku kemeja tempat sebuah foto hasil pemeriksaan kehamilan Naya tersimpan rapi. Kertas itu sudah mulai kusut karena terlalu sering ia keluarkan untuk dilihat diam-diam.
Senyum kecil kembali muncul di wajahnya.
Entah beberapa minggu lagi atau mungkin hanya beberapa hari lagi, seorang anak akan hadir dalam hidupnya. Rumah kecil yang selama ini hanya diisi oleh dirinya dan Naya akan dipenuhi tangisan bayi yang telah lama mereka nantikan.
Pikiran itu membuat langkah waktu terasa berbeda. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, perjalanan menuju sekolah tidak lagi terasa seperti rutinitas biasa. Ada harapan baru yang menunggu di ujung jalan pulang nanti.
Ketika sampai di sekolah, beberapa murid langsung menghampiri Doma dengan wajah antusias. Seperti biasa, mereka berebut menyapa dan melontarkan berbagai pertanyaan sebelum pelajaran dimulai.
"Selamat pagi, Pak!"
"Pagi."
"Pak, hari ini ujian praktik, ya?"
"Iya."
Seorang anak mengangkat tangan dengan ragu. "Kalau saya gagal bagaimana, Pak?"