Rumah di Setiap Persinggahan

G. Archangela
Chapter #3

Bab 2_Senja Terakhir di Ganlawana

Hari itu, rumah kecil kami terasa jauh lebih sepi dari biasanya.

Dinding-dinding papan yang selama bertahun-tahun menjadi saksi kehidupan keluarga kami seakan ikut terdiam. Tidak ada lagi suara langkah tergesa-gesa Bapak yang selalu bersiap berangkat ke sekolah setiap pagi. Tidak ada suara kertas-kertas ujian yang biasa beliau rapikan di atas meja tua dekat jendela. Bahkan siulan kecil yang sering terdengar saat beliau mengenakan kemeja kerjanya pun menghilang begitu saja.

Yang tersisa hanyalah tumpukan kardus cokelat yang memenuhi hampir setiap sudut rumah.

Kotak-kotak itu berdiri diam seperti pengingat bahwa kami akan segera pergi. Satu per satu barang dimasukkan ke dalamnya, seolah setiap benda yang tersimpan membawa serta kenangan yang pernah kami miliki di Desa Ganlawana.

Aku duduk di lantai ruang tengah sambil memeluk boneka kain kesayanganku. Pandanganku mengikuti Mama dan Bapak yang sibuk membereskan barang sejak pagi.

"Bapak, kenapa semua barang dimasukin ke kotak?" tanyaku polos.

Bapak yang sedang menyusun beberapa buku berhenti sejenak. Ada keraguan yang sempat melintas di wajahnya sebelum ia menjawab.

"Karena kita akan pindah, Nak."

"Pindah ke mana?"

"Ke kota."

Aku mengernyit. Kata "kota" terdengar asing di telingaku.

"Kota itu jauh?"

"Cukup jauh."

"Kalau jauh, nanti kita pulang lagi ke sini?"

Pertanyaan itu membuat Bapak terdiam cukup lama. Senyumnya masih ada, tetapi matanya terlihat berbeda.

"Entahlah," jawabnya pelan.

Saat itu aku tidak mengerti mengapa jawaban sederhana itu terdengar begitu berat.

Beberapa bulan terakhir memang ada sesuatu yang berubah di rumah kami. Sebagai anak kecil, aku tidak memahami persoalan orang dewasa. Namun aku bisa merasakan suasana yang berbeda. Bapak lebih sering terlihat lelah. Kadang ia duduk sendirian di belakang rumah sambil menatap jauh ke arah ladang dengan pandangan kosong. Kadang malam-malam aku mendengar beliau berbicara pelan dengan Mama ketika mereka mengira aku sudah tertidur.

Suatu malam, saat berpura-pura tidur, aku mendengar percakapan mereka.

"Jadi sudah pasti, ya?" suara Mama terdengar lirih.

"Sudah," jawab Bapak setelah menghela napas panjang.

"Masih tidak bisa dipertahankan?"

"Aku sudah mencoba."

"Lalu sekolah?"

Pertanyaan itu menggantung cukup lama di udara.

"Aku tidak bisa lagi bertahan di sana."

Keheningan memenuhi ruangan sebelum akhirnya Bapak kembali berbicara.

"Aku diterima bekerja di koperasi kabupaten."

Mama tidak langsung menjawab.

"Gajinya bagaimana?"

"Pas-pasan."

"Lalu biaya hidup?"

"Kita akan cari jalan."

Terdengar suara kardus yang digeser.

"Mulai dari nol lagi, Bu."

Saat itu aku belum memahami arti kalimat tersebut. Namun entah mengapa, kata-kata itu terus tinggal di kepalaku bahkan setelah percakapan mereka berakhir.

Hari-hari berikutnya dipenuhi kesibukan. Tetangga datang silih berganti untuk berpamitan. Sebagian membawa makanan, sebagian lagi hanya ingin mengucapkan salam perpisahan.

"Sayang sekali Pak Guru harus pergi," kata salah seorang tetangga.

Bapak hanya tersenyum sambil mengangguk.

"Mudah-mudahan rezekinya lebih baik di sana."

"Amin."

Aku memperhatikan orang-orang yang bergantian menyalami Bapak. Baru saat itulah aku mulai menyadari bahwa kepindahan ini bukan sesuatu yang sementara.

Kami benar-benar akan meninggalkan desa yang selama ini menjadi rumah kami.

Malam terakhir sebelum kami meninggalkan Ganlawana terasa berbeda dari malam-malam sebelumnya.

Setelah semua barang selesai dikemas, rumah menjadi lebih lengang. Sudut-sudut yang biasanya dipenuhi berbagai benda kini tampak kosong. Bahkan suara langkah kaki terdengar lebih nyaring dari biasanya.

Aku keluar rumah dan duduk sendirian di halaman. Langit malam terlihat begitu jernih, dipenuhi bintang-bintang yang berkelap-kelip di atas perbukitan. Angin berembus pelan, membawa aroma tanah dan rerumputan yang sudah sangat akrab bagiku.

Pandanganku jatuh pada pohon mangga di samping rumah.

Di bawah pohon itu aku sering bermain. Di sana aku belajar berlari, bersembunyi saat bermain dengan teman-teman, bahkan pernah menangis karena terjatuh hingga lututku berdarah. Hampir setiap sudut halaman itu menyimpan kenangan yang tumbuh bersamaku.

Besok, semuanya akan kutinggalkan.

"Kenapa duduk di sini sendirian?"

Aku menoleh dan mendapati Bapak berjalan menghampiriku. Ia lalu duduk di sampingku tanpa berkata apa-apa selama beberapa saat.

"Bapak..."

"Iya?"

"Aku tidak mau pindah."

Senyum tipis muncul di wajahnya.

"Dulu waktu Bapak kecil, Bapak juga pernah bilang begitu."

"Terus?"

"Ternyata setelah pindah, Bapak menemukan banyak hal baru."

Aku menunduk memainkan ujung bajuku.

"Tapi aku suka rumah ini."

"Bapak juga."

Aku langsung mengangkat kepala.

"Kalau suka, kenapa kita pergi?"

Pertanyaan itu membuat Bapak terdiam. Tatapannya mengarah jauh ke kegelapan malam, seolah sedang mencari jawaban yang sulit dijelaskan kepada anak seusiaku.

Ada hal-hal yang tidak bisa dipahami oleh seorang anak. Ada keadaan yang memaksa seseorang melangkah meskipun hatinya ingin tetap tinggal.

Setelah beberapa saat, Bapak akhirnya mengusap kepalaku pelan.

"Kadang kita harus melangkah supaya bisa bertahan, Nak."

Aku tidak benar-benar mengerti maksudnya. Namun dari cara Bapak mengatakannya, aku tahu kalimat itu penting.

Lihat selengkapnya