Aku mulai mengenal satu hal baru di rumah itu: suara.
Bukan suara tawa, bukan percakapan hangat yang dulu sering memenuhi rumah kami di desa, dan bukan pula suara Bapak yang mengajariku menghitung atau Mama yang bernyanyi kecil saat memasak di dapur. Yang perlahan menjadi akrab denganku justru suara-suara yang tajam, keras, dan menakutkan, suara pintu yang dibanting, langkah kaki yang menghentak lantai, benda yang diletakkan terlalu keras di atas meja, dan yang paling sering terdengar adalah suara pertengkaran.
Awalnya aku tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi. Aku masih seorang anak kecil yang duduk di bangku sekolah dasar, dan dunia yang kupahami saat itu hanya sekolah, mainan, serta pelukan orang tua sebelum tidur. Namun sejak pindah ke kota, ada sesuatu yang berubah di rumah kami. Perubahan itu tidak datang sekaligus, melainkan perlahan seperti retakan kecil pada kaca yang semakin lama semakin melebar tanpa disadari.
Bapak mulai sering pulang larut malam. Jika dulu sepulang kerja ia masih sempat bermain denganku di halaman atau menanyakan kegiatanku di sekolah, kini ia lebih sering masuk kamar dengan wajah lelah, seolah dunia di luar rumah menyedot seluruh tenaganya. Suatu sore aku pernah berlari menghampirinya sambil membawa buku gambar, berharap ia melihat hasil karyaku. Namun ia hanya melirik sekilas dan berkata singkat, “Bagus,” lalu kembali dengan pikirannya sendiri. Ketika aku mencoba menunjukkan yang lain, jawabannya tetap sama, “Nanti ya, Bapak capek.”
Kalimat itu semakin sering kudengar. Bapak capek, Bapak sibuk, Bapak ada pekerjaan. Awalnya aku percaya, karena orang dewasa memang bekerja dan pasti lelah. Tapi perlahan, jarak yang tak terlihat mulai tumbuh di antara kami, sesuatu yang tidak bisa kujelaskan sebagai anak kecil, hanya bisa kurasakan sebagai kehilangan.
Bahkan di hari libur pun Bapak sering pergi. Suatu pagi aku bertanya,
“Ke mana, Pak?”
“Ada urusan pekerjaan.”
“Hari minggu juga?”
Bapak terdiam sejenak lalu tersenyum kecil.
“Iya.”
Lalu ia pergi begitu saja.
Saat itu aku tidak curiga apa pun, aku hanya merasa kehilangan sosok Bapak yang dulu selalu ada.
Sementara itu, Mama juga berubah. Ia menjadi lebih pendiam, lebih sering melamun, dan beberapa kali aku memergokinya duduk sendiri di ruang tengah dengan tatapan kosong. Ketika kusapa, ia selalu tersenyum cepat, seolah ingin meyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja. Namun bahkan anak kecil pun bisa merasakan ketika ada sesuatu yang tidak beres.
Hingga malam itu datang.
Malam pertama pertengkaran besar terjadi ketika hujan turun cukup deras di luar rumah. Aku terbangun karena suara yang berbeda dari biasanya. Awalnya hanya percakapan, lalu berubah menjadi perdebatan, dan perlahan menjadi pertengkaran yang tidak lagi bisa disembunyikan.
Aku mengintip dari celah pintu kamar. Lampu ruang tengah masih menyala, dan di sana Bapak serta Mama berdiri saling berhadapan.
Suara Mama terdengar tajam.
“Sampai kapan kamu mau berbohong, Pak?”
“Aku tidak berbohong,” jawab Bapak.
“Jangan bohong lagi!”
“Aku bilang tidak!”
“Kalau tidak ada apa-apa, kenapa akhir-akhir ini kamu selalu pulang malam?”
“Aku bekerja.”
“Setiap hari?”
“Iya.”
“Hari libur juga?”
Hening sesaat.
Aku melihat rahang Bapak mengeras.
Lalu Mama berkata lagi, suaranya lebih pelan tapi lebih menusuk.
“Aku melihat foto kamu berdua dengan perempuan lain.”