Rumah di Setiap Persinggahan

G. Archangela
Chapter #5

Bab 4_Sisa Suara di Rumah Itu

Waktu berjalan, tetapi di rumah itu tidak ada yang benar-benar membaik. Kehidupan kami yang semula berjalan biasa saja perlahan berubah menjadi medan perang tanpa gencatan senjata. Pertengkaran antara Bapak dan Mama tidak lagi terjadi sesekali di malam hari saat anak-anak mereka sudah terlelap, melainkan menjadi bagian dari keseharian yang panjang, melelahkan, dan perlahan mengikis kewarasan siapa pun yang mendengarnya. Hampir setiap hari, fajar bahkan belum sepenuhnya menyingsing ketika dapur sudah diguncang suara bantingan pintu lemari atau dentang piring yang sengaja diletakkan terlalu keras. Mama akan mulai mengomel soal uang belanja yang semakin menipis, sementara Bapak membalasnya dengan bentakan dingin yang terasa menekan udara di dalam rumah. Masalah-masalah kecil seperti kopi yang kurang manis, pakaian yang belum disetrika, hingga tagihan listrik yang menunggak, selalu berubah menjadi pemicu ledakan besar yang tidak pernah benar-benar selesai.

“Apa uang belanja bulan ini cepat sekali habis?” tanya Bapak suatu pagi dengan nada tinggi, berdiri di ambang pintu dapur sambil menatap Mama tajam.

Mama menoleh cepat, matanya menyala oleh kelelahan. “Bapak pikir harga beras dan minyak bisa turun sendiri? Uang yang Bapak kasih itu tidak pernah cukup kalau kebutuhan anak-anak terus bertambah setiap hari!”

“Kamu saja yang tidak bisa mengatur uang! Istri orang lain bisa, kenapa kamu tidak bisa?!” bentak Bapak sambil menggebrak meja hingga cangkir di atasnya bergetar keras.

Aku memejamkan mata erat-erat, seolah dengan begitu semua suara itu bisa hilang. Dalam kepolosanku, aku sering memohon agar waktu berhenti bergerak, agar detik-detik itu tidak perlu berlanjut lebih jauh lagi. Aku bertanya-tanya dalam diam, apakah mereka lupa kalau aku ada di sana, berdiri hanya beberapa langkah dari mereka, menyusutkan diri seolah ingin menghilang dari ruangan yang dipenuhi suara keras itu.

Pertengkaran seperti itu terus berulang berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, hingga menjadi sesuatu yang terasa seperti rutinitas pahit yang harus kami jalani. Suara-suara itu seperti bayangan gelap yang tidak pernah benar-benar pergi dari rumah kami; ia hanya menunggu waktu untuk kembali muncul dan menghantam kami tanpa peringatan. Kami, anak-anak mereka, hanya bisa meringkuk di sudut kamar, saling berpegangan tangan, menutup telinga dengan bantal, mencoba menghalau makian yang saling dilemparkan dari ruang tengah. Rumah yang dulu terasa hangat dan aman perlahan kehilangan seluruh kehangatannya.

Lama-kelamaan, pertengkaran itu tidak hanya merusak suasana rumah, tetapi juga memengaruhi kehidupan Bapak. Pikiran yang terus dipenuhi konflik membuatnya sering pulang dengan wajah kusut dan emosi yang tidak stabil, hingga akhirnya ia memutuskan berhenti dari pekerjaannya di koperasi. Hari itu ia pulang lebih cepat dari biasanya, melempar tas kerjanya ke kursi, lalu duduk sambil menundukkan kepala.

“Aku sudah keluar dari koperasi,” kata Bapak singkat ketika Mama melintas di depannya.

Mama berhenti, menatapnya dengan campuran terkejut, marah, dan putus asa. “Keluar? Lalu kita mau makan apa? Anak-anak mau sekolah pakai apa, Pak?”

Bapak tidak menjawab. Tidak ada penjelasan panjang, tidak ada pembelaan. Hanya diam yang terasa lebih berat daripada kata-kata. Sejak saat itu, rumah kami tidak menjadi lebih tenang, justru semakin sesak karena masalah ekonomi menambah luka yang sudah ada.

Hari-hari setelahnya terasa semakin abu-abu. Rumah dipenuhi keheningan yang tajam atau ledakan emosi yang datang tanpa peringatan. Kami hidup seperti berjalan di atas kaca tipis, takut salah melangkah dan memicu pertengkaran berikutnya. Hingga suatu malam yang sangat larut, setelah pertengkaran hebat yang meninggalkan tangisan Mama dan pecahan kaca di ruang tamu, Bapak dan Mama akhirnya duduk bersama di meja makan dalam keadaan lelah yang luar biasa. Dengan suara berat dan pasrah, mereka memutuskan untuk merantau, pergi jauh dari rumah ini untuk mencari kehidupan yang lebih baik, berharap jarak bisa memperbaiki apa yang sudah terlalu rusak.

“Rumah ini sudah tidak bisa lagi kita andalkan,” kata Mama suatu sore saat memanggil kami. Wajahnya pucat, matanya sembab, tapi ada sisa tekad yang dipaksakan. “Mama dan Bapak harus pergi mencari uang di luar.”

Lihat selengkapnya