Rumah di Setiap Persinggahan

G. Archangela
Chapter #6

Bab 5_Kasih Tanpa Syarat

Kepergian Bapak dan Mama ke perantauan bukanlah akhir dari masalah yang kami hadapi. Justru setelah mereka pergi, hidup kami berubah menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda dari sebelumnya, seperti halaman baru yang belum kami pahami cara membacanya.

Aku masih ingat hari ketika mereka berangkat.

Pagi itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Tidak ada suara bentakan, tidak ada pintu yang dibanting, tidak ada pertengkaran yang biasanya memenuhi rumah sebelum hari dimulai. Semuanya terasa terlalu tenang, seperti dunia sedang menahan napasnya sendiri.

Aku berdiri di halaman rumah kakek dan nenek bersama adik-adikku, memandangi Bapak dan Mama yang bersiap di depan kendaraan. Barang-barang mereka sudah diikat rapi, sementara wajah mereka tampak lelah, seperti orang yang sudah terlalu lama memikul sesuatu yang berat.

“Dengar kata Kakek, Nenek, dan Tante, ya,” kata Mama sambil mengusap kepalaku.

Aku mengangguk pelan, meski saat itu aku belum benar-benar memahami apa yang sedang terjadi. Aku hanya tahu satu hal sederhana: setelah hari itu, Bapak dan Mama tidak lagi tinggal bersama kami.

Kendaraan itu perlahan bergerak. Meninggalkan halaman rumah, meninggalkan kami yang hanya bisa berdiri diam. Aku terus menatap sampai mobil itu menghilang di tikungan jalan kampung, sampai suara mesinnya benar-benar lenyap.

Dan tanpa kusadari, hari itu menjadi awal dari babak baru dalam hidup kami.

Pada awalnya, rumah kakek dan nenek terasa asing. Bukan karena mereka bukan keluarga, tetapi karena kami datang dengan banyak hal yang belum selesai di dalam diri masing-masing. Ada perubahan, ada kebiasaan baru, dan ada luka yang bahkan kami sendiri belum bisa menjelaskannya.

Namun waktu berjalan pelan, dan rumah itu perlahan mulai menjadi tempat yang kami kenal.

Di sanalah aku mulai mengenal seseorang yang kelak menjadi bagian paling penting dalam hidupku.

Tante.

Awalnya aku hanya melihatnya sebagai tante biasa. Ia membantu di rumah, mengurus pekerjaan, menjaga kios kecilnya, dan sesekali menegur kami jika terlalu ribut bermain. Tidak lebih dari itu.

Tapi waktu mengubah cara pandangku perlahan-lahan.

Tanpa pernah meminta pengakuan, tanpa pernah bersuara bahwa itu tanggung jawabnya, Tante mulai mengisi peran yang seharusnya dimiliki orang tua.

Ia yang membesarkan kami.

Setiap pagi, bahkan sebelum matahari muncul sepenuhnya, Tante sudah bangun lebih dulu. Suara dapur yang dibuka, bunyi kayu bakar, dan aroma masakan pelan-pelan menjadi tanda bahwa hari sudah dimulai.

Ketika aku keluar kamar, ia sudah sibuk di dapur.

“Ayo cuci muka dulu,” katanya tanpa menoleh lama.

Di meja sudah ada sarapan sederhana. Kadang nasi goreng, kadang telur dadar, kadang hanya nasi hangat dengan kecap dan kerupuk. Tidak pernah mewah, tapi selalu cukup untuk membuat kami berangkat sekolah tanpa perut kosong.

Setelah itu, ia akan memastikan semuanya siap.

“Tasnya sudah dicek?”

“PR sudah selesai?”

“Jangan lupa buku matematika.”

Hal-hal kecil yang sering kami anggap sepele, selalu ia ingat lebih dulu daripada kami.

Jika seragam kusut, ia menyetrikanya. Jika kancing lepas, ia menjahitnya. Jika rambut berantakan, ia merapikannya sebelum kami pergi.

Saat itu semua terasa biasa saja.

Baru bertahun-tahun kemudian aku sadar, justru dari hal-hal kecil itulah masa kecil kami dibentuk.

Seiring waktu, aku mulai memahami bahwa keadaan ekonomi keluarga kami tidak sesederhana yang kupikirkan.

Bapak dan Mama memang bekerja di perantauan, tetapi hidup mereka juga tidak mudah. Kiriman uang datang, namun selalu pas-pasan. Hanya cukup untuk kebutuhan tertentu, tanpa ruang lebih untuk sesuatu yang lain.

Telepon pun jarang. Kadang berminggu-minggu tidak ada kabar. Kadang lebih lama lagi.

Sebagai anak, aku tidak memahami alasan di balik jarak itu. Aku hanya merasakan satu hal: suara mereka semakin jarang hadir dalam hidupku.

Namun di rumah ini, selalu ada satu suara yang tidak pernah hilang.

Lihat selengkapnya