Rumah di Setiap Persinggahan

G. Archangela
Chapter #7

Bab 6_Sambut Baru

Kabar itu datang tanpa banyak pengantar.

Suatu sore setelah pulang sekolah, saat aku sedang membantu Tante membereskan barang-barang di kios kecilnya, Nenek memanggil kami dari dalam rumah. Wajahnya terlihat berbeda, seolah sedang menyimpan sesuatu yang ingin segera disampaikan.

“Bapak dan Mama akan pulang,” katanya singkat.

Aku yang sedang menyusun botol minuman langsung berhenti bergerak.

“Pulang?” tanyaku memastikan.

Nenek mengangguk.

“Mereka mau pulang untuk acara komuni sucimu.”

Untuk beberapa detik aku hanya diam.

Kata pulang terdengar begitu sederhana, tetapi di dalam hatiku, kata itu seperti batu yang dijatuhkan ke permukaan air yang tenang. Riaknya menyebar ke mana-mana.

Sudah lama sekali aku tidak melihat mereka secara langsung.

Aku masih mengingat wajah mereka, tentu saja. Namun ingatan itu mulai terasa seperti foto lama yang warnanya perlahan memudar. Aku masih mengenali suara mereka, tetapi suara itu tidak lagi menjadi bagian dari keseharianku. Mereka hidup jauh di sana, di dunia yang berbeda dengan dunia yang kujalani setiap hari bersama Kakek, Nenek, Tante, dan adik-adikku.

Maka ketika mendengar mereka akan pulang, sesuatu yang selama ini tertidur di dalam diriku perlahan bangun kembali.

Harapan.

Malam itu aku sulit tidur.

Aku membayangkan banyak hal.

Aku membayangkan kami duduk makan bersama.

Aku membayangkan Bapak mengajakku berjalan-jalan seperti dulu.

Aku membayangkan Mama menyisir rambutku sebelum berangkat ke gereja.

Aku membayangkan rumah kembali ramai oleh suara keluarga yang lengkap.

Mungkin terdengar naif, tetapi sebagai seorang anak, aku masih menyimpan keinginan sederhana yang tidak pernah benar-benar hilang: memiliki keluarga yang utuh.


Hari-hari setelah kabar itu terasa berbeda.

Persiapan komuni suci mulai memenuhi keseharianku.

Di sekolah, para guru dan pembina mulai mengingatkan kami tentang berbagai hal yang harus dipersiapkan. Kami mengikuti pendalaman iman, latihan tata perayaan, dan berbagai kegiatan yang menjadi bagian dari proses menuju komuni pertama.

Aku menjalani semuanya dengan perasaan yang campur aduk.

Di satu sisi, aku merasa gugup menghadapi momen yang dianggap penting dalam hidup seorang anak Katolik.

Namun di sisi lain, pikiranku lebih sering melayang pada satu hal.

Mereka akan pulang.

Aku bahkan mulai menghitung hari.

Setiap pagi aku mencoret tanggal di kalender kecil yang tergantung di dekat ruang tamu.

Semakin dekat hari kepulangan mereka, semakin besar pula harapan yang tumbuh di dalam dadaku.

Tante memperhatikan perubahan itu.

Aku menjadi lebih bersemangat dari biasanya.

Aku lebih rajin membantu pekerjaan rumah.

Lebih rajin belajar.

Bahkan lebih sering tersenyum.

Suatu malam saat kami sedang makan bersama, Tante tersenyum melihat tingkahku.

“Senang sekali ya?” tanyanya.

Aku mengangguk cepat.

“Iya.”

“Karena komuni?”

Aku menggeleng.

“Karena Bapak dan Mama mau pulang.”

Tante tersenyum tipis.

Namun entah kenapa, ada sesuatu dalam matanya yang tidak bisa kupahami.

Bukan kesedihan.

Bukan juga kebahagiaan.

Seolah ia sedang memikirkan sesuatu yang tidak ingin ia katakan.

“Apa?” tanyaku penasaran.

“Tidak apa-apa,” jawabnya pelan.

“Yang penting kamu bahagia.”

Saat itu aku tidak memahami arti tatapan itu.

Aku baru mengerti bertahun-tahun kemudian bahwa orang dewasa sering kali melihat hal-hal yang belum mampu dipahami oleh anak-anak.


Beberapa hari sebelum acara komuni, rumah mulai sibuk.

Nenek membersihkan rumah lebih teliti dari biasanya.

Kakek memperbaiki beberapa bagian rumah yang rusak.

Tante menyiapkan banyak hal.

Ia mencuci pakaian.

Menyetrika bajuku.

Menyiapkan perlengkapan yang kubutuhkan.

Bahkan ia beberapa kali pergi ke pasar untuk membeli keperluan tambahan.

Melihat semua kesibukan itu membuatku semakin bersemangat.

Rasanya seperti menunggu hari raya.

Seolah sesuatu yang besar dan membahagiakan sedang mendekat.

Lalu hari yang kutunggu akhirnya tiba.

Pagi itu cuaca cerah.

Aku sudah bangun sejak subuh.

Bukan karena disuruh.

Aku memang tidak bisa tidur nyenyak sejak malam sebelumnya.

Setiap suara kendaraan yang lewat membuatku mengira mereka sudah datang.

Setiap suara pintu yang terbuka membuatku langsung menoleh.

Sampai akhirnya menjelang siang, sebuah kendaraan berhenti di depan rumah.

Jantungku langsung berdegup lebih cepat.

Lihat selengkapnya