Rumah di Setiap Persinggahan

G. Archangela
Chapter #8

Bab 7_Rumah yang Mendadak Sunyi

Bab 7 — Rumah yang Mendadak Sunyi

Hari yang selama berbulan-bulan kutunggu akhirnya tiba.

Sejak subuh aku sudah terbangun, bahkan sebelum Tante mengetuk pintu kamar dan memanggilku seperti biasanya. Entah karena gugup atau terlalu bersemangat, aku hampir tidak bisa tidur semalaman. Berkali-kali aku membuka mata, melihat jam dinding yang seolah berjalan lebih lambat dari biasanya.

Hari itu adalah hari komuni suciku.

Hari yang selama ini dipersiapkan melalui berbagai pelajaran, pendalaman iman, dan latihan di sekolah. Hari yang dianggap penting oleh banyak orang. Hari yang seharusnya menjadi salah satu kenangan paling indah dalam masa kecilku.

Dan yang membuat hari itu terasa semakin istimewa, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Bapak dan Mama ada di rumah.

Aku duduk di tepi ranjang sambil memandangi pakaian putih yang sudah disiapkan sejak malam sebelumnya. Di luar kamar terdengar suara aktivitas yang mulai ramai. Nenek sudah berada di dapur. Kakek mondar-mandir di ruang depan. Tante sibuk memastikan tidak ada satu pun perlengkapan yang tertinggal.

Rumah terasa hidup.

Aku menyukai perasaan itu.

Untuk sesaat, aku merasa seperti anak-anak lain yang memiliki keluarga lengkap.

Saat keluar dari kamar, Mama langsung menghampiriku.

“Sudah siap?” tanyanya sambil merapikan kerah bajuku.

Aku mengangguk.

Mama tersenyum.

Senyum yang sudah lama tidak kulihat dari jarak sedekat itu.

Di sisi lain ruangan, Bapak sedang berbicara dengan Kakek sambil sesekali melirik ke arahku. Ketika mata kami bertemu, beliau mengacungkan jempol.

“Anak Bapak sudah besar sekarang.”

Aku tersenyum malu.

Kalimat itu sederhana, tetapi cukup membuat dadaku terasa hangat.

Mungkin inilah yang selama ini kurindukan.

Bukan hadiah.

Bukan uang.

Bukan barang-barang mahal.

Aku hanya ingin mereka ada.


Perjalanan menuju sekolah terasa berbeda hari itu.

Biasanya aku datang bersama teman-teman atau keluarga yang mengantarku secukupnya.

Namun hari itu aku datang bersama hampir semua orang yang kusayangi.

Kakek.

Nenek.

Tante.

Bapak.

Mama.

Dan adik-adikku.

Aku berjalan di tengah mereka dengan perasaan yang sulit dijelaskan.

Bangga.

Bahagia.

Sekaligus gugup.

Halaman sekolah sudah ramai ketika kami tiba. Banyak murid lain yang juga akan menerima komuni suci hari itu datang bersama keluarga masing-masing. Orang tua mereka sibuk mengambil foto, merapikan pakaian anak-anak mereka, atau memberikan nasihat terakhir sebelum acara dimulai.

Aku melihat pemandangan itu dan tersenyum.

Hari itu aku merasa tidak berbeda dari mereka.

Aku juga memiliki keluarga yang datang mendampingiku.

Aku juga memiliki orang-orang yang hadir untuk menyaksikan salah satu momen penting dalam hidupku.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak merasa ada yang kurang.


Acara berlangsung dengan khidmat.

Aku berusaha mengikuti seluruh rangkaian dengan sebaik mungkin.

Namun sesekali pandanganku tetap mencari wajah-wajah yang duduk di antara para tamu.

Aku melihat Nenek yang tersenyum bangga.

Aku melihat Kakek yang duduk dengan tenang.

Aku melihat Tante yang sejak tadi memperhatikanku tanpa henti.

Dan aku melihat Bapak serta Mama duduk berdampingan.

Pemandangan yang sudah lama tidak kulihat.

Saat itu aku merasa lega.

Mungkin aku terlalu banyak khawatir selama ini.

Mungkin semuanya benar-benar akan membaik.

Mungkin kepulangan mereka kali ini adalah awal yang baru.

Aku membiarkan diriku mempercayai harapan itu.

Setidaknya untuk hari itu.


Setelah acara selesai, halaman sekolah dipenuhi suara tawa dan ucapan selamat.

Banyak keluarga sibuk mengambil foto.

Guru-guru menghampiri kami satu per satu.

Teman-temanku berlarian sambil menunjukkan hadiah yang mereka terima.

Aku pun ikut berfoto bersama keluarga.

Foto bersama Kakek dan Nenek.

Foto bersama adik-adik.

Foto bersama Tante.

Dan tentu saja foto bersama Bapak dan Mama.

Saat berdiri di antara mereka, aku mencoba menghafal momen itu.

Aku ingin menyimpannya baik-baik di dalam ingatan.

Karena aku tidak tahu kapan kami bisa berkumpul seperti ini lagi.

Beberapa kali Mama merangkul bahuku.

Beberapa kali Bapak tersenyum sambil menepuk punggungku.

Dari luar, kami tampak seperti keluarga yang baik-baik saja.

Seperti keluarga yang utuh.

Dan mungkin saat itu aku ingin mempercayai ilusi tersebut sedikit lebih lama.


Menjelang sore kami pulang ke rumah.

Aku masih membawa perasaan bahagia dari sekolah.

Lihat selengkapnya