Rumah di Setiap Persinggahan

G. Archangela
Chapter #9

Bab 8_Tempatku Berlabuh

Beberapa hari setelah acara komuni suciku, aku mulai menyadari sesuatu.

Meski Bapak dan Mama sudah berada di rumah, ada jarak yang tidak kunjung hilang di antara kami.

Mereka berusaha menghabiskan waktu bersama kami. Menanyakan sekolah, mengajak berbincang, atau sekadar duduk bersama di ruang tengah. Mereka berusaha hadir dalam cara mereka sendiri.

Namun setiap kali itu terjadi, aku justru merasa canggung.

Bukan karena aku tidak menyayangi mereka.

Aku hanya tidak tahu bagaimana harus bersikap.

Terlalu banyak waktu yang telah berlalu.

Terlalu banyak momen yang tidak pernah kami jalani bersama.

Aku ingin merasa dekat dengan mereka, tetapi kedekatan ternyata tidak bisa muncul begitu saja.

Sebaliknya, ada seseorang yang kehadirannya terasa begitu biasa hingga selama ini jarang kusadari.

Tante.

Orang yang selalu ada setiap hari.

Orang yang mengetahui kebiasaanku lebih baik daripada siapa pun.

Orang yang tidak pernah absen ketika kami membutuhkannya.

Dan tanpa kusadari, rasa nyaman itu membuatku mengambil sebuah keputusan sederhana yang ternyata mengubah banyak hal.

Malam itu, Bapak dan Mama sedang menyiapkan tempat tidur.

Karena mereka baru pulang setelah bertahun-tahun merantau, mereka ingin menghabiskan waktu bersama kami sebanyak mungkin.

Aku memahami itu.

Namun ada satu hal yang terus mengganggu pikiranku.

Tante.

Sejak pagi ia tidak pernah benar-benar beristirahat. Ia selalu sibuk mengurus rumah, membantu kakek dan nenek, memastikan kebutuhan kami terpenuhi, lalu mengakhiri harinya dengan pekerjaan yang tidak pernah selesai.

Aku memikirkannya cukup lama.

Sampai akhirnya aku memberanikan diri berbicara.

"Ma..."

Mama menoleh.

"Iya?"

"Aku mau tidur sama Tante malam ini."

Ruangan langsung hening.

Bapak menghentikan gerakannya.

Mama menatapku cukup lama.

"Maksudnya?"

"Aku mau tidur di kamar Tante."

"Kenapa?"

Aku menggigit bibir.

"Aku mau nemenin Tante."

Wajah Mama berubah.

"Kami baru pulang, Somya."

"Aku tahu."

"Kalau tahu, kenapa malah mau tidur sama Tante?"

Aku menunduk sesaat.

"Biar adik-adik saja yang tidur sama Mama dan Bapak."

"Kamu nggak kangen sama kami?"

Pertanyaan itu membuatku terdiam.

Tentu saja aku kangen.

Sangat kangen.

Tetapi ada perasaan lain yang tidak bisa kujelaskan.

Perasaan nyaman yang selama ini selalu kutemukan di tempat yang sama.

"Aku cuma mau nemenin Tante," jawabku pelan.

Hening kembali memenuhi ruangan.

Akhirnya Mama menghela napas panjang.

"Ya sudah."

Aku tahu ia tidak benar-benar setuju.

Namun malam itu ia memilih mengalah.

Aku segera menuju kamar Tante.

Ketika melihatku berdiri di depan pintu, ia tampak bingung.

"Lho, kok ke sini?"

"Aku mau tidur di sini."

Tante tertawa kecil.

"Kenapa?"

"Aku mau nemenin Tante."

"Tante nggak apa-apa sendirian."

"Tapi aku mau di sini."

Ia menatapku beberapa saat, lalu tersenyum.

"Ya sudah."

Malam itu kami tidur di kamar kecil miliknya.

Tidak ada yang istimewa di sana.

Hanya ranjang tua, lemari kayu, dan lampu redup yang menggantung di langit-langit.

Lihat selengkapnya