Rumah di Setiap Persinggahan

G. Archangela
Chapter #10

Bab 9_Jiwa yang Terasing

Aku mengira badai terbesar dalam keluarga kami telah berlalu.

Setelah semua pertengkaran, perpisahan, kepulangan, dan kekecewaan yang datang silih berganti, aku berpikir hidup akhirnya akan memberi kami sedikit waktu untuk bernapas. Aku pikir kami sudah cukup lama diuji.

Ternyata aku salah.

Badai itu memang tidak hilang.

Ia hanya berganti arah.

Dan kali ini, pusatnya bukan lagi Ayah dan Mama.

Melainkan adikku.

Awalnya perubahan itu datang begitu pelan hingga hampir tidak terlihat. Tidak ada kejadian besar yang langsung membuat kami panik. Tidak ada tangisan, tidak ada kemarahan, tidak ada pertengkaran.

Hanya perubahan-perubahan kecil.

Perubahan yang awalnya tampak biasa.

Adikku yang dulu hampir tidak pernah lepas dari ponsel tiba-tiba mulai meninggalkannya begitu saja di atas meja. Padahal sebelumnya ia bisa berjam-jam menonton video, bermain media sosial, atau membuat video TikTok bersama teman-temannya.

Dulu ia sering tertawa sendiri saat melihat layar ponselnya.

Sekarang ponsel itu lebih sering mati karena kehabisan baterai.

Tidak disentuh.

Tidak dicari.

Tidak dipedulikan.

Awalnya aku menganggap itu hal yang baik.

Kupikir ia mulai mengurangi waktu bermain ponsel.

Namun semakin lama aku menyadari ada sesuatu yang aneh.

Ia tidak mengganti kebiasaan itu dengan kegiatan lain.

Ia tidak membaca.

Tidak menonton.

Tidak bermain.

Tidak melakukan apa pun.

Ia hanya duduk diam.

Menatap kosong.

Seolah sedang menunggu sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak tahu apa.

Perubahan lain mulai menyusul.

Dulu ia hampir selalu keluar rumah ketika ada waktu luang. Teman-temannya sering datang memanggil dari depan rumah atau mengajaknya bermain ke luar.

Kini semua itu berhenti.

Ketika ada yang menghubunginya, ia menolak.

Ketika ada yang datang mencarinya, ia bersembunyi di kamar.

Sedikit demi sedikit, ia menjauh dari dunia yang dulu sangat ia sukai.

Tante mulai khawatir.

Aku juga.

Namun kami masih mencoba meyakinkan diri bahwa mungkin ini hanya fase sementara.

Sampai masalah sekolah mulai muncul.

Awalnya hanya satu hari.

Lalu dua hari.

Lalu semakin sering.

Adikku mulai menolak berangkat sekolah.

"Bangun, nanti terlambat," kata Tante suatu pagi.

"Aku nggak mau masuk."

Tante mengira ia bercanda.

"Jangan aneh-aneh. Cepat mandi."

"Aku nggak mau."

Nada suaranya membuat kami terdiam.

Bukan nada membantah.

Bukan nada marah.

Melainkan nada seseorang yang benar-benar kehabisan tenaga.

"Kenapa?" tanya Tante pelan.

Adikku menunduk.

"Lagi nggak mau."

"Kalau ada masalah cerita sama Tante."

Ia tidak menjawab.

Hari itu ia tidak masuk sekolah.

Dan kejadian yang sama terulang lagi beberapa hari kemudian.

Sampai akhirnya sebuah surat datang dari sekolah.

Surat panggilan.

Aku masih ingat wajah Tante saat membaca surat itu.

Raut khawatir yang selama ini berusaha ia sembunyikan akhirnya terlihat jelas.

"Mereka bilang sudah terlalu sering tidak masuk," katanya pelan.

Aku menatap surat itu.

Dadaku terasa sesak.

Karena aku tahu ini bukan lagi sekadar malas sekolah.

Ada sesuatu yang lebih besar sedang terjadi.

Malam itu Tante mencoba berbicara dengannya.

Kami duduk di ruang tengah.

Suasana rumah sangat tenang.

"Adik," panggil Tante.

Ia mengangkat kepala perlahan.

"Kenapa kamu nggak mau sekolah?"

Diam.

"Tante nggak marah."

Tetap diam.

"Kalau ada yang mengganggu kamu, cerita."

Lama sekali tidak ada jawaban.

Sampai akhirnya ia berbisik.

"Aku takut."

Aku dan Tante saling berpandangan.

Takut?

Takut apa?

"Kamu takut sama siapa?" tanya Tante hati-hati.

Adikku menggeleng.

"Aku nggak tahu."

Jawaban itu justru membuat kami semakin bingung.

Sejak saat itu keadaan semakin memburuk.

Ia mulai mudah terkejut.

Suara pintu yang tertutup sedikit keras membuat tubuhnya langsung tersentak.

Suara motor yang melintas mendadak membuatnya memucat.

Kadang ia berlari ke kamar lalu mengunci pintu dari dalam.

Kadang ia hanya duduk memeluk lutut sambil menangis diam-diam.

Dan yang paling menyakitkan adalah melihat matanya.

Matanya tidak lagi seperti dulu.

Tidak ada semangat.

Lihat selengkapnya