Setelah berbagai upaya medis menemui jalan buntu dan dokter menyatakan bahwa adikku sehat secara fisik, suasana di rumah kami berubah menjadi jauh lebih mencekam. Bukannya merasa lega, kami justru semakin bingung. Tidak ada satu pun jawaban yang mampu menjelaskan apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Adikku masih tetap sama.
Kadang ia duduk diam berjam-jam dengan tatapan kosong ke arah yang tidak jelas. Kadang ia menangis tanpa sebab yang kami pahami. Di waktu lain, ia terlihat seperti kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
Hari demi hari berlalu tanpa perubahan.
Setiap pagi kami berharap ada kemajuan.
Setiap malam kami kembali tidur dengan kekecewaan yang sama.
Rumah yang sebelumnya dipenuhi kekhawatiran perlahan berubah menjadi rumah yang dipenuhi ketakutan.
Tidak ada yang berani mengatakannya secara langsung, tetapi aku tahu semua orang mulai kehabisan jawaban.
Pada akhirnya keluarga besar mengambil keputusan yang sebelumnya tidak pernah benar-benar ingin mereka ambil.
Mereka memutuskan mencari bantuan orang pintar.
Bukan karena semua orang langsung percaya, melainkan karena segala cara yang dianggap masuk akal sudah dicoba. Ketika dokter tidak menemukan penyebabnya dan keadaan adikku tidak juga membaik, keluarga kami mulai mencari kemungkinan lain.
Pada waktu yang hampir bersamaan, Bapak pulang ke rumah.
Untuk sementara waktu ia meninggalkan pekerjaannya dan kembali mengurus keadaan keluarga yang semakin sulit.
Hari kedatangannya bertepatan dengan hari ketika orang pintar itu datang.
Sejak pagi suasana rumah terasa berbeda.
Tidak ada televisi yang menyala.
Tidak ada percakapan yang tidak perlu.
Semua orang seakan sedang menunggu sesuatu.
Mama Besar datang sejak pagi.
Beberapa anggota keluarga lain juga hadir.
Aku sendiri hanya memperhatikan semuanya dari kejauhan.
Ketika orang pintar itu tiba, ia tidak langsung berbicara tentang adikku.
Ia juga tidak melakukan apa pun yang aneh seperti yang sering diceritakan orang-orang.
Sebaliknya, ia meminta izin untuk melihat-lihat rumah terlebih dahulu.
Ia berjalan perlahan dari satu ruangan ke ruangan lain.
Masuk ke kamar-kamar.
Melihat dapur.
Memperhatikan ruang tengah.
Sesekali ia berhenti cukup lama di suatu tempat lalu kembali melanjutkan langkahnya.
Tidak ada yang berani banyak bertanya.
Kami hanya mengikutinya dengan diam.
Semakin lama ia berkeliling, semakin besar rasa tidak nyaman yang tumbuh di dalam diriku.
Aku tidak tahu apa yang sedang dicari.
Aku juga tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya.
Namun dari wajah orang-orang dewasa yang ada di rumah hari itu, aku bisa melihat bahwa mereka juga sama tegangnya.
Setelah cukup lama berkeliling, orang pintar itu kembali ke ruang tengah dan duduk.
Semua orang menunggu.
Aku mengira saat itulah ia akan mulai berbicara tentang adikku.
Namun ternyata tidak.
Ia justru berbicara tentang keluarga.
Tentang beban yang terlalu lama disimpan.
Tentang luka yang tidak pernah benar-benar diselesaikan.
Tentang hal-hal yang selama bertahun-tahun dipendam hingga akhirnya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Lalu ia mengatakan satu hal yang membuat suasana rumah mendadak terasa lebih berat.
Bahwa ada keadaan yang tidak bisa diperbaiki sebelum kejujuran diberikan tempat.
Tidak ada yang menjawab.
Ruangan menjadi sangat sunyi.
Aku melihat beberapa orang saling berpandangan.
Kemudian orang pintar itu meminta agar Bapak berbicara secara pribadi dengan Mama Besar.
Ia mengatakan bahwa jika memang ada sesuatu yang selama ini disimpan, maka sudah waktunya untuk diungkapkan kepada keluarga sendiri.
Aku masih ingat bagaimana wajah Bapak saat itu.
Ia langsung terdiam.
Tidak ada yang memaksanya.
Namun setelah beberapa saat, ia akhirnya mengangguk.
Kemudian Bapak dan Mama Besar masuk ke salah satu kamar.
Pintunya ditutup.
Tidak ada seorang pun yang ikut masuk.
Aku, Tante, dan anggota keluarga lainnya hanya bisa menunggu di luar.
Awalnya aku mengira percakapan itu tidak akan berlangsung lama.
Namun waktu terus berjalan.
Sepuluh menit.
Dua puluh menit.
Tiga puluh menit.
Pintu kamar itu tetap tertutup.
Suasana rumah menjadi semakin sunyi.
Aku beberapa kali melirik ke arah pintu.
Berharap seseorang keluar.
Namun tidak ada.
Mama Besar dan Bapak masih berada di dalam.
Semakin lama menunggu, semakin besar rasa penasaran yang muncul di dalam diriku.
Apa yang sedang mereka bicarakan?
Kenapa sampai harus berdua saja?
Dan kenapa suasana terasa begitu berat?
Aku tidak tahu.
Yang kurasakan hanya ketegangan yang semakin menyesakkan.
Bahkan suara kipas angin tua yang berputar di langit-langit terdengar lebih keras dari biasanya.