Rumah di Setiap Persinggahan

G. Archangela
Chapter #12

Bab 11_Pecahan yang Tak Terlihat

Hari-hari setelah pengakuan itu berlalu dengan cara yang aneh.

Tidak ada perubahan besar yang langsung terjadi seperti yang diam-diam kuharapkan.

Tidak ada keajaiban yang datang setelah semua rahasia dibuka. Tidak ada jawaban yang datang begitu saja setelah semua orang akhirnya berbicara jujur.

Rumah kami tetap berdiri seperti biasa.

Orang-orang tetap menjalani rutinitas mereka.

Dan hidup tetap berjalan seolah tidak terjadi apa-apa.

Namun aku tahu ada sesuatu yang berubah.

Setidaknya di dalam diriku.

Rasa takut yang muncul setelah mendengar semua pengakuan itu tidak benar-benar hilang. Aku masih menghormati Bapak seperti sebelumnya. Aku masih memanggilnya Bapak. Aku masih berbicara dengannya ketika perlu.

Tetapi ada jarak yang tiba-tiba muncul.

Jarak yang tidak terlihat.

Jarak yang tidak pernah kami bicarakan.

Setiap kali melihatnya, aku teringat pada semua cerita yang disampaikan Mama Besar di dapur itu. Tentang perempuan-perempuan lain. Tentang anak yang pernah dikandung dari hubungan lain. Tentang berbagai rahasia yang selama ini tersembunyi.

Dan entah kenapa, semakin aku berusaha melupakan semuanya, semakin sering semua itu muncul kembali di kepalaku.

Meski begitu, kehidupan tetap terus berjalan.

Kondisi adikku juga menunjukkan sedikit perubahan.

Bukan perubahan besar.

Bukan perubahan yang membuat semuanya langsung membaik.

Namun setidaknya ia mulai terlihat lebih tenang dibanding sebelumnya.

Kadang ia masih melamun.

Kadang ia masih diam terlalu lama.

Tetapi ada hari-hari tertentu ketika ia terlihat sedikit lebih hadir dibanding sebelumnya.

Perubahan kecil itu cukup membuat kami berharap.

Rumah perlahan kembali pada rutinitas yang biasa.

Setidaknya di permukaan.

Namun seperti dinding rumah yang retak dan ditutupi cat baru, aku baru tahu tidak semua kerusakan benar-benar hilang.

Beberapa luka hanya tersembunyi.

Menunggu waktu untuk kembali terlihat.

Dan ternyata waktu itu tidak perlu menunggu terlalu lama.

Aku masih mengingat hari itu dengan sangat jelas.

Siang yang panas seperti siang-siang biasa di kampung kami.

Langit cerah.

Udara terasa kering.

Saat itu hanya ada aku, Tante, dan Bapak di rumah.

Adikku sedang bermain di luar bersama teman-temannya.

Keadaan terlihat biasa saja.

Tidak ada pertanda apa pun bahwa sesuatu akan terjadi.

Tante baru saja pulang dari kegiatan PKK di lingkungan RT.

Seperti biasa, setelah sampai di rumah ia langsung menuju kios kecilnya yang berada di bagian depan rumah. Aku saat itu berada tidak jauh dari sana.

Sementara Bapak berada di kamar depan yang letaknya bersebelahan dengan kios.

Aku ingat ia sedang bermain ponsel di dalam kamar.

Tante kemudian berdiri di depan pintu kios dan mulai mencari kuncinya.

Ia merogoh saku celananya.

Mengambil kunci.

Lalu mencoba membuka pintu.

Namun entah kenapa pintu itu tidak bisa terbuka.

Mungkin kuncinya macet.

Mungkin slotnya bermasalah.

Aku tidak tahu pasti.

Yang kuingat, Tante beberapa kali mencoba memutar kunci itu.

Tetapi tetap tidak berhasil.

Awalnya tidak ada yang aneh.

Namun sambil berusaha membuka pintu, Tante mulai berbicara pelan.

Seperti mengomel pada dirinya sendiri.

Seperti seseorang yang sedang kesal.

Aku tidak terlalu memperhatikannya pada awalnya.

Tetapi lama-kelamaan aku menyadari bahwa kata-kata yang diucapkannya bukan sekadar keluhan karena pintu yang sulit dibuka.

Nada suaranya terdengar berbeda.

Ada sindiran di dalamnya.

Ada kemarahan yang sedang ditahan.

Belakangan aku baru memahami penyebabnya.

Saat kegiatan PKK tadi, salah seorang Ibu ternyata bercerita kepada Tante.

Ibu itu mengaku melihat Bapak beberapa hari sebelumnya di Welora.

Sebuah kota di Kabupaten Lemtara.

Menurut cerita yang sampai kepada Tante, Bapak terlihat sedang bersama seorang perempuan.

Aku tidak tahu apakah cerita itu benar atau tidak.

Lihat selengkapnya