Suara denting pecahan kaca di lantai ruang tamu malam itu masih terngiang jelas di kepalaku, lebih nyaring daripada deru mesin kapal yang membawaku menjauh dari rumah. Bagiku, keberangkatan ke kota ini bukan sekadar tentang mengejar ijazah atau memenuhi ekspektasi keluarga, melainkan tentang menyelamatkan diri. Aku tahu, jika aku tetap tinggal, aku perlahan akan hancur bersama dinding-dinding rumah yang retak itu. Di kursi kapal yang tidak nyaman ini, aku memejamkan mata; aku tidak sedang meninggalkan rumah, aku sedang mencari tempat di mana aku bisa bernapas tanpa harus takut menginjak serpihan luka setiap kali aku melangkah.
Aku melangkah masuk ke gerbang universitas dengan perasaan yang tidak sepenuhnya bisa disebut siap.
Di sekelilingku, mahasiswa baru berjalan berkelompok sambil tertawa dan saling memperkenalkan diri. Ada yang sibuk mencari ruang kelas, ada yang berfoto di depan gedung fakultas, dan ada pula yang tampak begitu bersemangat menyambut kehidupan baru yang selama ini mereka impikan.
Aku berdiri di antara mereka.
Tubuhku ada di sana.
Namun pikiranku tidak sepenuhnya ikut hadir.
Dunia kampus menawarkan kebebasan yang luas. Tidak ada lagi seragam sekolah. Tidak ada lagi aturan yang mengikat setiap langkah. Semua orang terlihat seperti sedang memulai hidup baru mereka masing-masing.
Anehnya, aku justru merasa asing.
Bukan karena aku tidak ingin kuliah.
Bukan karena aku tidak punya tujuan.
Melainkan karena sejak lama hidupku sudah lebih dulu dipenuhi hal-hal yang membuatku terbiasa berpikir lebih berat dari usiaku sendiri.
Saat teman-temanku sibuk mengenal orang baru, membicarakan organisasi, atau sekadar menikmati suasana kampus, aku masih membawa sesuatu yang tidak terlihat oleh mereka.
Beban yang tidak pernah benar-benar kutaruh di belakang.
Hari-hari pertamaku sebagai mahasiswa berjalan cukup normal.
Aku mengikuti perkuliahan.
Mengerjakan tugas.
Mencoba memahami ritme kehidupan baru.
Dari luar, aku mungkin terlihat seperti mahasiswa pada umumnya.
Aku datang tepat waktu ke kelas.
Mencatat materi.
Mengikuti diskusi ketika diminta.
Bahkan ikut tertawa ketika ada hal-hal kecil yang lucu di kelas.
Namun di dalam kepalaku, tidak semuanya berada di tempat yang sama.
Sering kali saat dosen menjelaskan materi, pikiranku melayang tanpa arah yang jelas.
Bukan karena aku tidak mengerti pelajaran.
Tapi karena ada hal lain yang terus muncul di sela-sela fokusku.
Aku sering bertanya-tanya, apakah teman-temanku di kelas juga memiliki rahasia yang mereka sembunyikan di balik senyum tipis mereka? Ketika aku melihat mereka tertawa lepas saat berdiskusi, aku merasa seperti alien yang sedang mengamati kehidupan manusia dari balik kaca. Aku teringat masa kecilku, saat aku harus terdiam di sudut kamar sementara suara perabotan yang dilempar menjadi musik latar keseharianku. Perbedaan kontras antara tawanya mereka sekarang dan heningnya rumahku dulu terasa begitu nyata, membuatku merasa semakin asing di tengah hiruk-pikuk kampus yang seharusnya menjadi awal kehidupan baru. Kadang aku ingin bertanya pada mereka, apakah mereka pernah merasa lelah karena harus terus berpura-pura baik-baik saja? Namun, lidahku selalu kelu. Aku tidak ingin merusak kebahagiaan sederhana yang mereka miliki dengan bayang-bayang kelam yang masih saja membuntuti langkahku.
Hal-hal tentang rumah.
Tentang keadaan yang tidak bisa sepenuhnya kutinggalkan begitu saja.
Aku mencoba menahannya.
Tapi tidak selalu berhasil.
Beberapa minggu berlalu.
Lingkungan kampus mulai terasa lebih akrab.
Aku mulai hafal jalan menuju ruang kelas.
Mulai mengenali wajah-wajah yang hampir setiap hari kutemui.
Mulai mengetahui dosen mana yang suka memberi tugas mendadak dan mana yang lebih santai.
Namun meskipun semuanya perlahan menjadi familiar, aku tetap merasa seperti yang berdiri sedikit lebih jauh dari yang lain.
Teman-teman yang lain mulai menjalani kehidupan kampus dengan cara mereka sendiri.
Ada yang aktif di organisasi.
Ada yang sudah mulai mengikuti berbagai kepanitiaan.
Ada yang dengan cepat menemukan lingkar pertemanan baru.
Aku melihat mereka dengan campuran rasa kagum dan jarak yang tidak bisa kujelaskan.
Bukan karena mereka lebih baik.
Tapi karena hidup kami berjalan dengan beban yang berbeda.
Aku tidak merasa tertinggal.
Aku hanya merasa berada di jalur yang berbeda.
Suatu sore setelah perkuliahan selesai, aku berjalan keluar dari kelas seperti biasa.
Matahari mulai turun perlahan.
Sebagian mahasiswa masih berkumpul di halaman kampus.
Ada yang duduk di tangga gedung.
Ada yang bercanda sambil menunggu teman mereka keluar kelas.
Ada pula yang sibuk merencanakan kegiatan setelah kuliah.
Aku berniat langsung kembali ke kos.
Namun saat sedang berjalan pulang, seseorang memanggilku.
"Somya."
Aku menoleh.
Ternyata salah satu teman sekelasku.
"Langsung pulang?"
"Iya."
"Mau ikut ke kos tidak?"
Aku sempat tidak langsung menjawab.
"Buat apa?"
"Nongkrong saja. Teman-teman yang lain juga."
Aku melihat beberapa orang berdiri tidak jauh dari sana.
Mereka tampak sedang menunggu.
"Tidak dulu."
"Kenapa?"
"Tidak kenapa-kenapa."
"Cuma nongkrong saja sebentar."
Aku tersenyum kecil.
"Nanti saja."
Teman sekelas itu tidak memaksa.
Ia hanya mengangguk.
"Ya sudah."