Malam itu sudah sangat larut.
Aku masih terjaga di kamar kos, duduk di lantai yang dipenuhi catatan kuliah dan tugas yang belum selesai.
Di luar, suasana sudah sepi.
Hanya ada suara kendaraan sesekali terdengar dari kejauhan sebelum kembali menghilang.
Aku sempat berpikir untuk tidur lebih awal malam itu.
Namun sebelum sempat mematikan lampu, ponselku bergetar di atas meja.
Nama Mama muncul di layar.
Tanpa berpikir panjang, aku langsung mengangkatnya.
Awalnya tidak ada yang terasa aneh.
Sampai layar video call itu menampilkan wajah Mama.
Layar ponsel tampak gelap.
Hanya sesekali wajah Mama terlihat samar saat cahaya dari arah kamar menyentuh sedikit bagian wajahnya.
Matanya sembab.
Dan wajahnya terlihat lelah.
Lebih lelah dari yang pernah kulihat sebelumnya.
Aku langsung merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Selama ini Mama memang sering menangis.
Aku sudah terlalu sering melihatnya terluka karena masalah yang sama.
Tentang Bapak.
Tentang perempuan lain.
Tentang pengkhianatan yang tidak pernah benar-benar selesai meski sudah berlalu bertahun-tahun.
Namun malam itu terasa berbeda.
Ada sesuatu di wajahnya yang membuat dadaku mulai terasa tidak nyaman.
Sesuatu yang tidak bisa kujelaskan.
Belum sempat aku bertanya apa yang terjadi, Mama sudah menangis.
Isakannya terdengar berat.
Bukan tangisan yang muncul karena kesal sesaat.
Bukan pula tangisan yang biasanya perlahan mereda setelah bercerita.
Tangisan itu terdengar seperti sesuatu yang sudah terlalu lama dipendam.
Terlalu lama ditahan sendirian.
Dan akhirnya tidak mampu ditahan lagi.
Aku hanya diam.
Tidak tahu harus memulai dari mana.
Tidak tahu harus bertanya apa.
Aku tidak pernah benar-benar pandai berbicara dengan Mama sendiri.
Sebagian besar waktu, aku hanya mendengarkan.
Mendengarkan suara tangis yang terdengar semakin berat dari seberang layar.
Mama mulai bercerita tentang Bapak lagi.
Tentang luka lama yang seolah tidak pernah benar-benar sembuh.
Tentang hal-hal yang selama ini terus menghantuinya.
Aku menggenggam ponsel lebih erat.
Tidak memotong cerita.
Tidak banyak bertanya.
Hanya mendengarkan.
Sampai akhirnya Mama berkata pelan,
"Mama lelah..."
Tangisnya terdengar semakin berat.
"Mama pengen mati saja."
Kalimat itu jatuh begitu saja.
Dan di detik yang sama, dadaku langsung sesak.
Aku panik.
Benar-benar panik.
Tanganku gemetar memegang ponsel itu lebih erat, seolah kalau lengah sedikit saja, akan terjadi sesuatu yang tidak bisa aku hentikan.
Di kepalaku langsung muncul banyak hal buruk sekaligus.
Terlalu cepat untuk bisa kupilah satu per satu .
Aku takut.
Takut Mama benar-benar melakukan sesuatu di luar kendalinya.
Takut aku sedang mendengar sesuatu yang tidak akan bisa kuperbaiki.
Takut kehilangan Mama.
Untuk beberapa detik aku bahkan tidak bisa berpikir dengan jelas.
Aku ingin mengatakan sesuatu.