Setelah malam itu, aku tidak langsung tidur.
Aku masih duduk di lantai kamar, ponsel di genggaman. Layarnya sudah mati lama, tapi tanganku tetap menggenggamnya seperti ada sesuatu yang bisa kembali muncul kapan saja. Padahal tidak ada lagi.
Kamar terasa sunyi.
Terlalu sunyi sampai suara kecil di kepala sendiri jadi terdengar jelas.
Aku menatap langit-langit.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, aku tidak hanya merasa takut.
Aku mulai berpikir.
Bukan hanya tentang telepon tadi.
Tapi tentang semuanya.
Tentang rumah.
Tentang keluarga.
Tentang diriku sendiri.
Dan semakin lama aku memikirkannya, semakin jelas satu hal yang selama ini tidak pernah benar-benar kusadari.
Aku selalu berada di tengah.
Sejak kecil.
Seolah tanpa diminta, aku selalu jadi orang yang mencoba menjaga semuanya tetap utuh.
Menjaga Mama saat beliau terlalu lelah.
Menjaga adik saat suasana rumah terasa aneh.
Menjaga diri sendiri agar tidak ikut runtuh di tengah semuanya.
Kadang aku berpikir, kalau hidup ini grup chat, mungkin aku admin yang tidak pernah bisa keluar.
Mau diam saja tetap diseret keadaan.
Mau tidak mau tetap harus melihat semua pesan.
Aku tersenyum kecil dalam gelap.
Tapi senyum itu tidak lama.
Karena ingatan mulai datang satu per satu.
Aku teringat banyak hal yang dulu terlihat biasa.
Hal-hal kecil yang dulu tidak pernah kupikirkan terlalu dalam.
Seperti kebiasaanku memperhatikan suasana rumah sebelum melakukan apa pun.
Saat pulang sekolah dan ingin bercerita sesuatu, aku selalu melihat wajah Mama terlebih dahulu.
Kalau beliau terlihat lelah, aku menahan diri.
Kalau suasana rumah sedang tidak baik, aku memilih masuk kamar.
Aku selalu menunggu waktu yang tepat.
Dan anehnya, waktu yang tepat itu hampir tidak pernah datang.
Akhirnya semua cerita hanya berhenti di kepala.
Sampai kadang aku sendiri lupa apakah kejadian itu benar-benar terjadi atau cuma aku yang mengulangnya di pikiran.
Lucunya, waktu kecil itu aku mengira semua rumah memang seperti itu.
Seperti WiFi, kadang kuat, kadang tiba-tiba hilang tanpa alasan yang jelas.
Aku menghela napas pelan.
Kenangan lain muncul lagi.
Adikku.