Rumah di Setiap Persinggahan

G. Archangela
Chapter #17

Bab 16_Rumah yang Sebenarnya

Ada satu pertanyaan yang dulu sering muncul di kepalaku, terutama setelah semua yang terjadi dalam keluarga ini.

Apa sebenarnya arti rumah?

Dulu aku mengira rumah itu tempat di mana Bapak dan Mama berada. Tempat di mana ada suara orang tua, ada aturan, ada yang disebut "pulang".

Tapi semakin aku tumbuh, semakin aku sadar bahwa definisi rumah itu tidak selalu sesederhana itu.

Rumah yang kutinggali selama bertahun-tahun penuh dengan banyak hal yang tidak pernah benar-benar selesai. Ada tawa yang jarang terdengar utuh, ada tangis yang sering disembunyikan, dan ada keheningan yang kadang lebih keras dari suara apa pun.

Namun di balik semua itu...

aku mulai melihat sesuatu yang selama ini tidak terlalu kuperhatikan.

Tante.

Dan orang-orang yang tetap ada, meski tidak selalu diminta untuk bertahan.

Tante yang mengurus kami ketika semuanya berantakan. Tante yang tidak banyak bicara, tapi selalu memastikan kami tetap makan, tetap punya tempat untuk pulang, tetap hidup seperti anak-anak pada umumnya.

Aku mulai sadar, bahwa selama ini "rumah" yang sebenarnya bukan hanya tentang siapa yang melahirkan atau siapa yang disebut orang tua.

Tapi tentang siapa yang tetap tinggal ketika semuanya mulai pergi.

Siapa yang tidak benar-benar menyerah, meski tidak pernah dipuji karena bertahan.

Aku mengingat kembali tahun-tahun yang telah berlalu.

Begitu banyak hal berubah.

Begitu banyak hal yang tidak berjalan seperti yang pernah kuharapkan.

Ada masa ketika aku berpikir bahwa keluargaku adalah sumber dari kelelahan yang kurasakan. Aku marah pada keadaan. Aku marah pada keputusan-keputusan yang dibuat orang dewasa. Aku marah karena harus memahami terlalu banyak hal di usia yang seharusnya digunakan untuk tumbuh dengan lebih sederhana.

Saat itu aku tidak tahu harus menyimpan semua perasaan itu di mana.

Aku hanya menahannya.

Hari demi hari.

Tahun demi tahun.

Sampai akhirnya aku terbiasa.

Terlalu terbiasa.

Sekarang ketika melihat ke belakang, aku menyadari bahwa sebagian besar hidupku dihabiskan untuk mencoba memahami orang lain.

Aku mencoba memahami Mama.

Mencoba memahami mengapa beliau sering menangis diam-diam.

Mencoba memahami mengapa ada hari-hari ketika wajahnya terlihat begitu lelah, seolah dunia meminta terlalu banyak darinya.

Aku mencoba memahami Bapak.

Meskipun sering kali aku tidak berhasil.

Aku mencoba memahami keputusan-keputusan yang dulu terasa begitu menyakitkan.

Mencoba memahami hal-hal yang tidak pernah dijelaskan dengan benar.

Dan di antara semua usaha itu, aku lupa memahami diriku sendiri.

Aku lupa bahwa aku juga anak yang sedang bertumbuh.

Aku juga seseorang yang berhak merasa kecewa.

Berhak merasa takut.

Berhak merasa lelah.

Mungkin karena itulah aku begitu lama mencari arti rumah.

Karena jauh di dalam diriku, aku selalu ingin menemukan tempat yang membuatku tidak perlu terus-menerus kuat.

Tempat yang tidak memintaku memahami semuanya.

Tempat yang membiarkanku menjadi diriku sendiri.

Dulu aku berpikir tempat seperti itu tidak ada.

Aku mencarinya dalam banyak hal.

Dalam harapan bahwa suatu hari semuanya akan kembali baik-baik saja.

Dalam harapan bahwa akan ada satu momen yang memperbaiki semuanya sekaligus.

Tapi hidup tidak berjalan seperti itu.

Tidak ada satu percakapan yang langsung menyelesaikan semua masalah.

Yang ada hanyalah hari-hari kecil yang terus berjalan.

Dan di antara hari-hari itulah aku perlahan belajar menerima.

Belajar bahwa beberapa luka tidak pernah benar-benar hilang.

Belajar bahwa keluarga tidak harus sempurna untuk tetap disebut keluarga.

Semakin kupikirkan, semakin aku sadar bahwa rumah bukan tentang kesempurnaan.

Rumah adalah tentang keberadaan.

Tentang seseorang yang tetap menyalakan lampu ketika kita belum pulang.

Tentang seseorang yang tetap bertanya apakah kita sudah makan.

Tentang seseorang yang tetap membuka pintu, bahkan ketika aku memikirkan semua itu, wajah tante selalu muncul di pikiranku.

Bukan karena beliau melakukan sesuatu yang luar biasa.

Justru karena hal-hal sederhana yang terus ia lakukan tanpa pernah meminta imbalan.

Kasih sayang yang tidak pernah dibuat menjadi sesuatu yang besar.

Perhatian yang hadir begitu saja setiap hari.

Hal-hal yang dulu terlihat biasa.

Padahal justru itulah yang membuat kami tetap bertahan.

Aku sering bertanya-tanya bagaimana jadinya jika tante tidak ada dalam cerita kami.

Pertanyaan itu terdengar sederhana, tapi setiap kali kupikirkan lebih lama, jawabannya selalu membuat dadakku terasa sesak.

Mungkin banyak hal akan berbeda.

Mungkin kami tetap tumbuh.

Mungkin kami tetap menjalani hidup seperti sekarang.

Tapi ada bagian dari diriku yang tahu bahwa banyak hal tidak akan semudah itu.

Karena ada masa-masa ketika yang membuat seseorang mampu bertahan bukanlah hal besar.

Bukan keajaiban.

Bukan perubahan yang datang tiba-tiba.

Melainkan kehadiran seseorang yang tetap ada.

Seseorang yang membuat hari-hari terasa sedikit lebih ringan untuk dijalani.

Dan dalam hidupku, salah satu orang itu adalah tante.

Aneh rasanya menyadari bahwa seseorang bisa memiliki pengaruh sebesar itu tanpa pernah benar-benar menjadi pusat perhatian.

Tante tidak pernah meminta untuk dianggap penting.

Tidak pernah meminta untuk dipahami.

Tidak pernah meminta balasan atas semua yang telah ia lakukan.

Ia hanya menjalani harinya seperti biasa.

Melakukan apa yang perlu dilakukan.

Membantu ketika bisa.

Bertahan ketika keadaan tidak mudah.

Dan mungkin karena itulah aku baru menyadari semuanya sekarang.

Karena selama ini aku menganggap kehadirannya sebagai sesuatu yang pasti.

Sesuatu yang akan selalu ada.

Padahal tidak ada yang benar-benar pasti dalam hidup.

Semua orang punya batas.

Semua orang punya lelah.

Dan memikirkan hal itu membuatku semakin menghargai semua hal yang selama ini terlihat biasa.

Aku mengingat banyak momen yang dulu terasa kecil.

Momen-momen yang mungkin bahkan tidak akan dianggap penting oleh orang lain.

Tapi justru momen-momen itulah yang tersisa paling lama dalam ingatanku.

Aku teringat pada hari ketika aku bersiap memasuki dunia perkuliahan.

Saat itu pikiranku dipenuhi banyak hal.

Tentang masa depan.

Tentang ketakutan yang belum sempat kuucapkan.

Tentang kehidupan baru yang akan segera dimulai.

Aku terlalu sibuk memikirkan semuanya sampai tidak benar-benar memperhatikan apa yang dilakukan tante.

Baru sekarang, ketika mengingatnya kembali, aku menyadari betapa banyak hal yang ia siapkan untukku.

Lihat selengkapnya