Tahun-tahun telah berlalu, membawa kami jauh dari desa yang dulu menyimpan begitu banyak jejak kaki masa kecil, dan lebih jauh lagi dari kota yang sempat menjadi saksi bisu keretakan keluarga kami. Kini, di sebuah rumah dengan halaman yang tidak terlalu luas namun cukup teduh, aku berdiri di depan pintu, menatap bayangan diriku sendiri di balik kaca jendela.
Aku bukan lagi anak kecil yang dulu gemetar mendengar suara pecahan piring di dapur.
Aku juga bukan lagi remaja yang merasa asing di tengah hiruk-pikuk kehidupan. Waktu telah mendewasakan banyak hal, termasuk cara kami memandang masa lalu.
Kami kini menapaki fase yang berbeda. Tidak ada lagi guncangan besar, tidak ada lagi badai kata-kata yang saling menghancurkan. Yang tersisa adalah keheningan yang lebih teduh, sebuah penerimaan yang tenang setelah sekian lama masing-masing berusaha berdamai dengan luka.
Semua itu tidak menghapus masa lalu yang pernah retak. Retakan itu tetap ada, menorehkan pola-pola yang permanen di setiap sudut hati kami. Namun justru dari retakan itulah cahaya perlahan masuk, membuat kami belajar melihat satu sama lain tanpa lagi terjebak pada kesalahan yang pernah terjadi.