Rumah di Tanah Rantau

Bilsyah Ifaq
Chapter #1

Atap yang Menyatukan

Lantai kayu kontrakan tua di pinggiran Desa Malahayati berderit hebat saat Aris menyeret koper besarnya melewati pintu yang engselnya sudah berkarat. Aroma debu dan kayu lembap menyambut hidungnya, sebuah sambutan dingin dari tanah rantau yang jauh dari hiruk pikuk kota asalnya. Ia melepaskan kacamata, mengelap lensanya yang berembun dengan ujung kaus, lalu menatap dua sosok lain yang sudah lebih dulu tiba di ruang tengah yang kosong melongpong itu.

Beni sedang sibuk mengikat kabel kipas angin tua dengan karet gelang, jemarinya lincah namun wajahnya tampak tegang menahan gerah yang menyengat. Di sudut lain, Danu duduk bersila sambil membolak-balik peta fisik daerah tersebut, sesekali mengetuk-ngetukkan pulpen ke dagunya dengan irama yang monoton dan cepat. Ketiganya terdiam sejenak, menyadari bahwa mulai malam ini, nasib mereka akan terikat di bawah atap yang bocor ini demi menekan biaya hidup yang mencekik sebagai pegawai baru.

"Pokoknya, kalau ada yang pakai kamar mandi lebih dari sepuluh menit, denda seribu rupiah buat kas kopi," celetuk Aris sambil membetulkan letak kacamatanya yang melorot, sebuah kebiasaan yang selalu muncul tiap kali ia mencoba mencairkan suasana. Ia tidak suka basa-basi, namun matanya yang tajam mulai memetakan sudut-sudut rumah untuk memastikan segalanya tetap teratur. Baginya, keteraturan adalah satu-satunya cara agar ia bisa bertahan di tempat terpencil ini sampai surat mutasi itu datang.

Beni tertawa pendek, suara tawanya serak akibat debu yang beterbangan saat ia menggeser lemari kayu rapuh ke sudut ruangan. "Denda itu tidak mempan buat Danu, Ris, dia kalau sudah melamun di bawah kucuran air bisa lupa dunia," sahut Beni sambil menyeka keringat di dahi dengan punggung tangan. Ia kemudian berdiri tegak, memandang langit-langit rumah yang menghitam karena jamur, seolah sedang menghitung berapa lama lagi ia harus terjebak dalam pengabdian di pelosok ini.

Danu hanya tersenyum tipis tanpa mengalihkan pandangan dari petanya, tangannya masih setia mengetuk-ngetuk pulpen ke dagu dengan ritme yang sama. "Aku hanya butuh dua tahun di sini, kawan-kawan, setelah itu aku akan kembali ke pelukan ibu di Jawa dengan membawa surat mutasi yang sah," gumam Danu dengan nada bicara yang datar namun penuh keyakinan. Ia sudah menyiapkan kalender kecil di sakunya, siap menyilang setiap hari yang berlalu sebagai langkah menuju kepulangan yang sangat ia idamkan.

Malam itu, mereka duduk melingkar di atas tikar pandan yang dibawa Beni, menyantap mi instan dari satu panci yang sama dengan tawa yang mulai pecah. Di tengah kegelapan desa yang hanya diterangi lampu minyak dari tetangga, sebuah ikatan tak kasat mata mulai terjalin di antara ketiga pria yang awalnya asing ini. Mereka saling bertukar cerita tentang rumah yang ditinggalkan, tentang aroma masakan ibu, dan tentang mimpi-mimpi besar yang harus ditunda demi tugas negara di tanah antah berantah.

Setiap kali angin malam berhembus melalui celah jendela yang tidak rapat, Aris akan merapatkan jaketnya dan kembali membetulkan kacamatanya, memastikan kawan-kawannya masih ada di sana. Mereka sepakat untuk saling menjaga, berbagi beban pekerjaan, dan yang paling penting, saling mengingatkan bahwa tempat ini hanyalah persinggahan sementara menuju tujuan akhir yang sama. Namun, di balik tawa dan janji-janji itu, ada kecemasan yang tersimpan rapat tentang siapa yang akan pergi lebih dulu dari rumah tua ini.

Aris menatap bayangan mereka yang terpantul di dinding kusam, menyadari bahwa rumah kontrakan ini perlahan bukan lagi sekadar bangunan kayu, melainkan sebuah pelabuhan emosional. Ia mengambil napas dalam-dalam, merasakan sesak yang aneh di dadanya saat memikirkan kemungkinan perpisahan di masa depan yang mungkin tidak seindah bayangan mereka. Sambil mematikan lampu minyak, Aris membatin bahwa perjalanan panjang ini baru saja dimulai, dan tanah rantau selalu punya cara sendiri untuk menguji keteguhan hati manusia.

Lantai semen yang dingin menyambut langkah Aris saat ia meletakkan kardus terakhirnya di pojok ruangan. Di sudut ruang tamu yang remang, Beni dan Danu sudah duduk melingkar dengan segelas kopi hitam yang uapnya menari tipis. Rumah kontrakan ini beraroma kayu lembap dan debu usia tua, namun di sinilah mereka bertiga sepakat untuk membagi beban sewa demi bertahan hidup. Meski masih terasa asing satu sama lain, tatapan mereka menyimpan keresahan yang sama tentang masa depan di tanah yang letaknya ribuan mil dari pelukan ibu.

Aris mengusap tengkuknya, sebuah kebiasaan yang selalu muncul setiap kali ia merasa terdesak oleh sunyi yang mencekam. "Pokoknya, kita di sini cuma sementara, jangan sampai ada yang bawa perasaan berlebih," gumamnya dengan nada bicara yang patah-patah dan tegas. Ia selalu mengambil keputusan berdasarkan logika penghematan, termasuk memilih kamar paling kecil demi potongan harga sewa. Baginya, rumah ini hanyalah tempat persinggahan teknis, bukan sebuah ruang untuk menanam kenangan atau ikatan emosional yang merepotkan.

Ketegangan mulai merayap ketika Beni membanting surat mutasi yang baru saja ia terima ke atas meja kayu yang sudah lapuk. Wajahnya memerah, bukan karena marah, melainkan karena rasa bersalah yang mendalam terhadap janji yang pernah mereka buat bersama. "Aku harus pergi bulan depan, ris, suratnya sudah keluar dan aku tidak bisa menolak perintah pusat," ucap Beni dengan suara yang bergetar hebat. Keputusan sepihak ini menghancurkan rencana mereka untuk tetap bersama hingga masa tugas berakhir di pelosok ini.

Danu yang biasanya pendiam tiba-tiba berdiri hingga kursinya terjungkal ke belakang, menciptakan dentum keras yang memecah keheningan malam. Ia merasa dikhianati oleh ambisi Beni yang diam-diam mengurus kepindahan tanpa memberitahu mereka berdua sebelumnya. "Jadi selama ini kau hanya pura-pura peduli pada kebersamaan kita di rumah busuk ini?" teriak Danu sambil menunjuk wajah Beni dengan jari yang gemetar.

Persahabatan yang mereka bangun di atas dasar penderitaan yang sama kini mulai retak akibat ego masing-masing.

Suasana semakin memanas saat Aris mencoba menengahi, namun ia justru terjebak dalam pusaran amarah yang tidak terkendali dari kedua temannya itu. Di tengah perdebatan sengit, sebuah rahasia pahit terungkap bahwa Beni sebenarnya menggunakan jatah mutasi milik Danu melalui koneksi orang dalam. Pengkhianatan ini mengubah segalanya, mengubah rasa kekeluargaan menjadi kebencian murni yang meledak di ruang tamu yang sempit itu. Aris hanya bisa terpaku melihat dua orang yang ia anggap saudara kini saling caci tanpa ampun.

Puncak konflik terjadi ketika Danu jatuh tersungkur memegangi dadanya yang sesak, sementara Beni hanya berdiri mematung dengan tatapan kosong yang dingin. Tidak ada lagi tawa di meja kopi, yang tersisa hanyalah kepahitan dari mimpi pulang yang ternyata harus ditebus dengan harga yang sangat mahal. Aris menyadari bahwa rumah ini tidak akan pernah sama lagi, dan perpisahan yang ia takutkan datang lebih cepat dalam bentuk yang paling mengerikan. Danu tidak akan pernah pulang dengan kakinya sendiri, karena napasnya mulai melemah di tanah rantau yang kejam ini.

Asap rokok dari kretek Danu meliuk-liuk di bawah cahaya lampu bohlam lima watt yang mulai meredup. Ruang tamu kontrakan kayu itu terasa sempit, sesak oleh aroma tanah basah dan tumpukan kardus mi instan di sudut ruangan. Aris masih terpaku pada peta kusam yang tertempel miring di dinding papan, jemarinya yang kasar terus meraba garis-garis batas provinsi yang mulai memudar warnanya.

Danu menyesap kopinya yang sudah dingin, lalu mengetukkan abu rokok ke asbak kaleng dengan ritme yang teratur, sebuah kebiasaan yang selalu ia lakukan saat pikirannya sedang berkelana jauh. "Peta itu tidak akan berubah jadi tiket pesawat hanya karena kau pelototi setiap malam, Ris," gumam Danu dengan suara serak yang khas, menyiratkan kelelahan yang sama-sama mereka pikul sebagai guru honorer di pelosok ini.

Aris tidak menoleh, ia justru menekan ujung kukunya pada titik kecil bertuliskan nama kota kelahirannya, seolah ingin melubangi jarak ribuan kilometer yang memisahkan mereka dari peradaban. Di luar sana, hutan hujan tropis seakan mengepung rumah panggung mereka, menyisakan suara jangkrik yang mengerik nyaring, bersahutan dengan bunyi gesekan dahan pohon yang tertiup angin kencang.

Bimo, yang sedari tadi hanya diam membetulkan tali sepatunya yang putus, akhirnya angkat bicara sambil menghela napas panjang hingga bahunya yang tegap tampak merosot. Ia selalu punya cara untuk menenangkan suasana, meski di dalam matanya terpancar kerinduan yang sama besarnya terhadap aroma masakan rumah yang sudah bertahun-tahun tidak pernah ia cicipi lagi secara langsung.

"Kita tidak akan selamanya membusuk di sini, kawan-kawan. Suatu saat, surat keputusan mutasi itu akan mendarat di meja kepala sekolah," cetus Danu tiba-tiba, memecah keheningan yang sempat merayap masuk ke celah-celah lantai kayu. Kalimat itu bukan sekadar harapan, melainkan sebuah mantra yang selalu mereka rapalkan setiap kali rasa putus asa mulai menggerogoti kewarasan mereka di tanah rantau.

Aris akhirnya berbalik, menatap dua sahabatnya yang sudah dianggapnya lebih dari sekadar teman sekontrakan, melainkan saudara beda darah yang dipersatukan oleh nasib dan keterasingan yang sama. Mereka bertukar pandang dalam diam, sebuah komunikasi batin yang terbangun dari rutinitas memasak nasi bersama dan berbagi satu butir telur asin di tanggal tua yang menyiksa.

Mereka kemudian saling menumpuk telapak tangan di atas meja kayu yang sudah lapuk dimakan rayap, sebuah sumpah tanpa kata untuk tetap saling menjaga hingga kaki mereka menginjak tanah kelahiran. Janji itu terasa begitu sakral di tengah kegelapan hutan yang seolah tak berujung, mengikat tiga jiwa yang tersesat ini dalam satu tujuan yang sama: pulang dengan kepala tegak.

Bulan-bulan berlalu dengan lambat, membawa kabar-kabar angin tentang gelombang mutasi pegawai yang mulai terdengar dari kantor dinas di kabupaten, memicu percikan harapan baru bagi mereka. Danu seringkali tertangkap basah sedang mengemas baju-bajunya ke dalam tas ransel lusuh, meski belum ada kepastian kapan ia benar-benar bisa meninggalkan bangunan kayu yang kini mulai terasa seperti penjara.

Namun, di balik tawa yang dipaksakan saat makan malam, ada kesalahpahaman kecil yang mulai tumbuh seperti jamur di musim hujan, terutama ketika Bimo diam-diam menerima surat dari orang tuanya. Ada rahasia yang ia simpan rapat, sebuah ambisi yang mungkin akan melukai kesetiakawanan mereka jika salah satu dari mereka harus pergi lebih dulu meninggalkan yang lainnya tanpa pamit.

Aris mulai menyadari perubahan sikap Bimo yang sering melamun di teras rumah sambil memandangi cakrawala, seolah-olah ia sudah melihat jalan pulang yang tidak bisa dibagikan kepada siapa pun. Ketegangan halus itu menyelimuti meja makan, membuat rasa nasi yang hambar menjadi semakin sulit ditelan, sementara suara jangkrik di luar sana terdengar semakin mengejek kesunyian di dalam rumah.

Suatu sore, sebuah amplop cokelat dengan stempel resmi tiba di depan pintu rumah mereka, dibawa oleh petugas pos yang napasnya tersengal-sengal setelah menempuh perjalanan jauh melewati jalan setapak. Jantung Aris berdegup kencang, tangannya gemetar saat hendak meraih surat itu, menyadari bahwa selembar kertas ini memiliki kekuatan untuk mengubah takdir mereka bertiga dalam sekejap mata.

Danu berdiri di ambang pintu, matanya tidak lepas dari amplop tersebut, sementara Bimo hanya berdiri mematung di sudut ruangan dengan wajah yang pucat pasi seolah menyembunyikan sesuatu yang besar. Ketiganya tahu bahwa momen ini adalah puncak dari segala penantian, namun mereka tidak pernah menduga bahwa surat itu hanya berisi satu nama untuk mutasi periode pertama.

Saat amplop itu terbuka, kebenaran pahit terungkap bahwa hanya Danu dan Bimo yang namanya tertera secara resmi, meninggalkan Aris sendirian di tengah kepungan hutan yang sunyi dan mencekam. Ada pengkhianatan yang tersirat dalam proses administrasi itu, sebuah permainan orang dalam yang dilakukan keluarga Bimo tanpa sepengetahuan Aris, merusak sumpah saudara yang pernah mereka ucapkan di bawah lampu bohlam.

Aris terbatuk keras, memegangi dadanya yang terasa sesak bukan karena amarah, melainkan karena rasa sakit yang sudah lama ia sembunyikan dari kedua sahabatnya selama berbulan-bulan terakhir. Ia memaksakan sebuah senyuman getir sambil melihat koper-koper yang mulai ditutup, menyadari bahwa kepulangannya nanti mungkin tidak akan dilakukan dengan berjalan kaki, melainkan dalam dekapan peti kayu yang dingin.

Beni mengetuk-ngetukkan sudip kayu ke pinggiran wajan besi yang sudah menghitam. Bunyi dentang logam itu bergema di dapur sempit yang dindingnya lembap oleh uap masakan. Ia terbiasa melakukan gerakan ritmis itu setiap kali pikirannya sedang terbang jauh melintasi ribuan kilometer menuju kampung halaman. Aroma bawang merah yang sedikit hangus mulai menusuk hidung, menciptakan kabut tipis di ruangan yang hanya diterangi lampu bohlam lima watt yang berkedip-kedip.

Danu berdiri di samping bak cuci piring yang airnya mengalir kecil seperti air mata. Ia menyeka busa sabun dari tangannya sambil melirik ke arah Beni yang masih sibuk dengan bumbu seadanya. Di pojok ruangan, tumpukan kardus mi instan menjadi pengingat bisu akan ketatnya anggaran mereka bulan ini. Setiap butir nasi yang mereka masak hari itu adalah hasil perhitungan matang demi satu tujuan besar: mengumpulkan biaya mutasi agar bisa segera angkat kaki dari pelosok ini.

"Jangan terlalu gosong, Ben. Nanti pahitnya kayak janji bos di kantor pusat," ujar Danu dengan nada bicara yang selalu melompat-lompat antara gurauan dan sarkasme. Ia punya kebiasaan unik memutar-mutar cincin perak di jari manisnya setiap kali membicarakan kepulangan, sebuah ritual kecil untuk menenangkan kegelisahan. Danu selalu memilih untuk tetap optimis, meski surat mutasi yang dijanjikan tak kunjung datang ke meja kerja mereka yang berdebu.

Beni hanya mendengus pelan tanpa menoleh, tangannya kini beralih menaburkan garam dengan presisi yang berlebihan. "Pahit itu perlu supaya kita tidak lupa kalau tanah ini masih asing, Nu. Kalau terlalu enak, nanti kamu malah betah dan lupa jalan pulang," balas Beni. Diksi yang digunakannya selalu tajam dan lugas, mencerminkan kecenderungannya untuk selalu bersiap menghadapi kemungkinan terburuk dalam setiap situasi yang mereka alami di perantauan.

Suasana mendadak menjadi kaku saat langkah kaki terdengar dari arah ruang depan yang gelap. Aris muncul dengan wajah pucat, tangannya gemetar memegang selembar kertas yang sedikit lecek di bagian ujungnya. Ia biasanya adalah sosok yang paling tenang, namun kali ini ada sesuatu yang berbeda dari sorot matanya yang meredup. Aris menarik kursi kayu yang berderit nyaring, suara yang seolah mengoyak keheningan malam yang mulai merayap masuk ke dalam rumah kontrakan mereka.

"Aku baru saja mendapat telepon dari kantor wilayah," suara Aris terdengar serak, nyaris berbisik di antara deru angin yang menyelinap lewat celah jendela. Ia meletakkan kertas itu di atas meja kayu yang permukaannya sudah terkelupas sana-sini. Beni menghentikan kegiatannya di depan kompor, membiarkan nasi gorengnya benar-benar hangus kali ini. Ketegangan merayap di udara, lebih pekat daripada asap masakan yang memenuhi ruangan sempit tersebut.

Danu mendekat, mencoba membaca tulisan di kertas itu namun Aris segera menutupinya dengan telapak tangan yang dingin. "Hanya dua orang yang disetujui untuk mutasi bulan depan," kata Aris sambil menatap Beni dan Danu bergantian dengan tatapan yang sulit diartikan. Keputusan Aris untuk selalu mendahulukan kepentingan orang lain biasanya menjadi perekat hubungan mereka, tapi kali ini kejujurannya justru terasa seperti sebuah ancaman bagi keutuhan keluarga kecil itu.

Beni meletakkan sudipnya dengan hentakan keras yang membuat piring-piring di rak bergetar hebat. Ia tahu betul apa artinya ini: salah satu dari mereka harus tetap tinggal di pengasingan ini sendirian tanpa dukungan moral dari yang lain. "Siapa yang harus tinggal? Katakan saja sekarang, Aris. Jangan pakai teka-teki yang bikin lambungku makin perih," tuntut Beni dengan nada bicara yang naik satu oktav, memperlihatkan bias keputusannya yang selalu ingin konfrontasi cepat.

Aris tidak menjawab, ia justru terbatuk keras hingga tubuhnya yang kurus terguncang-guncang di atas kursi kayu. Danu segera menyodorkan segelas air, namun Aris menolaknya dengan lambaian tangan yang lemah. Di bawah cahaya lampu yang temaram, Danu menyadari ada noda merah di sapu tangan yang digunakan Aris untuk menutupi mulutnya. Rahasia yang selama ini disimpan rapat-rapat oleh Aris mulai terkuak di saat yang paling tidak tepat bagi mereka bertiga.

"Aku sudah mengatur agar namaku dicoret dari daftar mutasi itu, Ben," bisik Aris setelah batuknya mereda, sebuah pengakuan yang membuat ruangan itu seolah kehilangan oksigen. Ia memilih untuk memberikan kesempatan itu kepada Beni dan Danu, meski ia tahu kondisi fisiknya semakin memburuk di daerah terpencil ini. Pengkhianatan terhadap kesepakatan awal untuk pulang bersama-sama ini terasa lebih menyakitkan daripada kegagalan mutasi itu sendiri bagi Beni.

Lihat selengkapnya