Rumah di Tanah Rantau

Bilsyah Ifaq
Chapter #2

Gema di Ruang Hampa

Lantai semen yang dingin di ruang tengah itu seolah menyerap seluruh kehangatan yang tersisa dari tawa mereka bertiga. Aris duduk bersandar pada dinding yang catnya mulai mengelupas, memutar-mutar korek api di jemarinya seolah itu adalah benda paling berharga di dunia. Kebiasaannya memainkan benda kecil saat cemas kini menjadi satu-satunya suara yang mengisi kekosongan rumah kontrakan mereka di pelosok ini.

"Cuma tinggal nunggu waktu, Ris, nanti kita semua juga bakal balik ke kota," suara Danu dari memori minggu lalu terngiang di telinganya. Aris mendengus pelan, sebuah tawa getir yang tertahan di tenggorokan karena janji itu kini terasa seperti pengkhianatan yang halus. Dia selalu punya kecenderungan untuk menyalahkan keadaan setiap kali ada sesuatu yang tidak berjalan sesuai dengan rencana besar yang telah mereka susun bersama di atas meja kayu reyot.

Ia melangkah ke sudut ruangan tempat tumpukan kardus milik Danu masih tertata rapi, menunggu untuk dikirimkan ke alamat yang kini terasa sangat jauh. Bau minyak kayu putih yang khas dari barang-barang Danu masih tercium kuat, menusuk hidung dan membangkitkan rasa sesak yang tak kunjung reda. Aris memungut sebuah buku catatan kecil yang terjatuh di balik lemari, menyadari betapa banyak rahasia yang tidak sempat mereka bicarakan sebelum surat mutasi itu datang.

Bayangan tentang kepulangan yang indah kini hancur berkeping-keping saat ia teringat pertengkaran terakhir mereka mengenai siapa yang lebih berhak pergi lebih dulu. Aris merasa dikhianati oleh nasib, sementara Danu pergi dengan senyum kemenangan yang kini terasa sangat menyakitkan untuk diingat kembali. Setiap sudut rumah ini sekarang adalah saksi bisu dari ambisi-ambisi kecil yang akhirnya memisahkan persahabatan yang mereka bangun dengan susah payah di tanah rantau.

Lampu neon di langit-langit berkedip tidak stabil, menciptakan bayangan panjang yang seolah-olah adalah sosok temannya yang masih berdiri di sana. Aris mencoba mengabaikan ilusi itu dengan mengemas pakaian-pakaian lamanya ke dalam tas ransel yang sudah mulai usang dan berdebu. Namun, tangannya gemetar hebat saat ia menyadari bahwa ia adalah orang terakhir yang tersisa untuk mematikan lampu di rumah penuh kenangan ini.

Ketegangan semakin memuncak ketika Aris menemukan sepucuk surat terselip di dalam buku catatan Danu yang menyatakan bahwa proses mutasinya sebenarnya telah dibatalkan secara sepihak. Fakta ini menghantamnya seperti godam; ternyata Danu tidak pernah benar-benar berhasil pergi dengan cara yang jujur seperti yang dia ceritakan selama ini. Kebenaran yang baru terungkap ini mengubah rasa rindu Aris menjadi kemarahan yang membara sekaligus kebingungan yang sangat mendalam.

Ia meremas surat itu hingga hancur di dalam kepalannya, menyadari bahwa kepulangan Danu bukanlah sebuah kemenangan, melainkan pelarian dari kegagalan yang disembunyikan rapat-rapat. Kini, di tengah kesunyian malam yang mencekam di tanah orang, Aris harus memutuskan apakah ia akan tetap menyimpan rahasia kelam ini atau mengungkapkannya kepada keluarga Danu di kampung halaman. Pintu depan berderit tertiup angin kencang, seolah-olah memanggilnya untuk segera melangkah keluar dan meninggalkan semua kepahitan ini di belakang.

Aroma minyak kayu putih yang tajam menyeruak dari bantal kusam milik Danu, menusuk indra penciuman Aris dengan kenangan yang menyesakkan dada. Ia berdiri mematung di ambang pintu kamar yang kini terbuka lebar, membiarkan cahaya temaram koridor menyinari tumpukan buku yang tak lagi disentuh pemiliknya. Kamar itu terasa seperti museum kesedihan yang membekukan waktu di tengah hiruk-pikuk tanah rantau ini.

Setiap sudut ruangan seolah-olah memiliki suara, meneriakkan nama Danu dalam frekuensi yang hanya bisa didengar oleh nurani Aris yang sedang terluka. Ada sepasang sepatu bot berlumpur di sudut meja, saksi bisu perjuangan mereka menembus hutan demi tugas negara yang tak kunjung usai. Aris berniat masuk untuk membersihkan debu yang mulai menebal, namun kakinya terasa seberat timah saat hendak melewati garis pintu.

Tangannya yang biasanya kokoh saat memegang cangkul kini gemetar hebat ketika ujung jarinya menyentuh permukaan sprei yang masih kusut. Ia teringat bagaimana Danu sering mengeluh tentang rindu rumah sambil mengusapkan minyak kayu putih ke keningnya setiap malam tiba. Kehilangan ini terasa jauh lebih nyata dan menyakitkan daripada sekadar keheningan malam di pelosok yang biasanya mereka bagi bersama.

Bayangan tentang kepulangan menjadi hantu yang mengerikan bagi Aris, apalagi setelah surat mutasi miliknya sendiri terselip di saku celana. Ia merasa seperti pengkhianat karena akan meninggalkan rumah kontrakan ini, sementara Danu masih terbaring kaku di dalam peti kayu di ruang tamu. Mimpi untuk pulang bersama yang selalu mereka bicarakan saat makan mi instan di bawah lampu teplok kini hancur berkeping-keping.

Bima, rekan mereka yang satu lagi, masuk ke ruangan dengan langkah gontai dan mata yang bengkak karena terlalu banyak menangis sejak sore tadi. Ia tidak berkata apa-apa, hanya berdiri di samping Aris sambil menggenggam erat sebuah map berisi dokumen kepulangan jasad Danu ke kampung halaman. Suasana di antara mereka begitu tegang, dipenuhi oleh rasa bersalah yang tidak terucapkan namun terasa sangat mencekik.

"Kau sudah mengemasi barang-barangmu, Ris?" tanya Bima dengan suara serak yang nyaris pecah di tengah kesunyian kamar yang menyesakkan itu. Aris hanya menggeleng pelan, matanya tetap tertuju pada bantal Danu yang seolah-olah masih menyimpan lekukan kepala sahabatnya yang kini telah tiada. Ia tidak sanggup membayangkan harus melipat pakaian-pakaian itu dan memasukkannya ke dalam kardus bekas mi instan.

Kesalahpahaman kecil tentang siapa yang lebih dulu mendapat jatah mutasi bulan lalu kini terasa sangat tidak berarti dan memuakkan bagi mereka berdua. Aris teringat bagaimana ia sempat mendiamkan Danu selama tiga hari hanya karena merasa iri dengan proses administrasi sahabatnya yang terlihat lebih lancar. Sekarang, ia rela memberikan seluruh sisa umurnya hanya untuk bisa meminta maaf atas keegoisan yang sempat merusak persahabatan mereka.

Angin malam berhembus melalui celah jendela yang kayu-kayunya sudah mulai lapuk, membawa aroma tanah basah yang mengingatkan mereka pada pemakaman besok pagi. Aris meremas pinggiran ranjang, merasakan tekstur kayu yang kasar menusuk telapak tangannya, seolah-olah rasa sakit fisik itu bisa mengalihkan pedih di hatinya. Kehidupan di tanah rantau memang keras, namun perpisahan karena maut jauh lebih kejam dari apapun.

Tiba-tiba, Bima melemparkan map dokumen ke lantai dengan amarah yang meledak-ledak, membuat kertas-kertas di dalamnya berhamburan menutupi lantai yang berdebu. Ia berteriak tentang ketidakadilan dunia yang membiarkan orang sebaik Danu mati kesepian di tempat terpencil ini tanpa sempat melihat ibunya. Aris terpaku melihat ledakan emosi itu, menyadari bahwa ia bukan satu-satunya yang hancur karena tragedi kepulangan ini.

Mungkin kami memang ditakdirkan untuk kembali ke rumah, tapi tidak pernah terlintas dalam benakku jika salah satu dari kami akan pulang sebagai jasad tanpa nyawa.

Aris membatin sambil memunguti satu per satu kertas yang berserakan, tangannya masih bergetar saat melihat foto Danu di formulir kematian. Setiap lembar kertas itu adalah bukti sah bahwa impian mereka tentang masa depan telah berakhir dengan cara yang paling tragis.

Ketegangan di kamar itu memuncak saat Aris menemukan sebuah amplop terselip di bawah bantal Danu yang masih berbau minyak kayu putih tersebut. Dengan ragu, ia membuka segelnya dan menemukan selembar surat permohonan pembatalan mutasi yang ditulis tangan oleh Danu beberapa hari sebelum ia jatuh sakit. Isi surat itu mengungkapkan bahwa Danu ingin tetap tinggal di sini sampai Aris dan Bima juga mendapatkan izin mutasi mereka.

Kenyataan ini menghantam dada Aris seperti godam besar, membalikkan semua prasangka buruk yang sempat ia simpan rapat-rapat selama berminggu-minggu terakhir ini. Danu ternyata tidak pernah berniat meninggalkan mereka sendirian di pelosok, ia justru memilih untuk bertahan demi rasa kekeluargaan yang telah mereka bangun. Pengorbanan yang tak terucap itu kini menjadi beban yang sangat berat bagi Aris yang merasa telah salah menilai sahabatnya.

Udara di dalam kamar terasa semakin tipis saat Aris menyadari bahwa ia telah membuang waktu-waktu terakhir Danu dengan sikap dingin dan penuh kecurigaan. Ia jatuh terduduk di lantai, memeluk surat itu erat-erat sambil membiarkan air mata yang sejak tadi ditahannya tumpah membasahi kertas kusam tersebut. Kesetiaan Danu adalah cermin retak yang menunjukkan betapa kecilnya jiwa Aris di hadapan ketulusan seorang sahabat sejati.

Di luar, suara sirine ambulans mulai terdengar mendekat untuk menjemput peti jenazah Danu yang akan dibawa menuju bandara pada penerbangan pertama besok. Aris berdiri dengan sisa kekuatannya, menatap Bima yang kini tertunduk lesu di pojok ruangan dengan tatapan kosong yang menyiratkan keputusasaan mendalam. Perjalanan pulang kali ini tidak akan pernah sama lagi, karena bagian dari jiwa mereka akan tertinggal selamanya di tanah rantau ini.

Ujung kuku Beni terus mengetuk permukaan meja kayu yang kasar, sebuah ritme gelisah yang tak kunjung berhenti sejak senja turun memeluk rumah kontrakan mereka di sudut desa terpencil itu. Bau asap dapur yang biasanya membangkitkan selera makan, kini terasa hambar dan menyesakkan paru-paru karena keheningan yang terlalu pekat menyelimuti ruangan. Ia menatap nanar pada deretan piring yang tertata di atas meja, di mana jemarinya secara otomatis telah menyiapkan tiga set alat makan lengkap seperti malam-malam sebelumnya.

Mata Beni terpaku pada kursi kosong di sisi kanan meja, tempat di mana biasanya Aris duduk sambil mengeluhkan sulitnya sinyal untuk menelepon ibunya di kampung halaman. "Aman saja, kan?" gumam Beni pelan, sebuah frasa khas yang selalu ia ucapkan untuk menenangkan diri, namun kali ini kata-kata itu justru terasa seperti duri yang tersangkut di tenggorokan. Ia menarik kembali piring porselen yang masih bersih itu dengan gerakan patah-patah, seolah-olah berat piring itu tiba-tiba berubah menjadi ratusan kilogram beban rasa bersalah.

Suara langkah kaki berat terdengar dari arah pintu depan, dan tak lama kemudian Johan muncul dengan wajah yang jauh lebih kusam daripada meja kayu mereka. Tanpa melepaskan tas kerjanya, Johan langsung menghempaskan selembar kertas lusuh ke atas meja tepat di hadapan Beni, sebuah dokumen resmi yang selama ini mereka impikan namun kini terasa seperti ejekan. "Surat mutasi kita sudah turun, Ben," ucap Johan dengan nada suara yang datar dan dingin, tanpa ada binar kebahagiaan sedikit pun di matanya yang merah.

Beni meraih kertas itu, membacanya dengan cepat, lalu tangannya mulai gemetar hebat saat menyadari hanya ada dua nama yang tertera di sana untuk keberangkatan minggu depan. "Kenapa cuma kita berdua, Jo? Aris bagaimana? Dia sudah setahun lebih lama di sini daripada kita!" bentak Beni sambil menggebrak meja, membuat sendok di piringnya berdenting nyaring dan memecah kesunyian malam yang mencekam. Ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa sahabat yang paling gigih berjuang untuk pulang justru tidak mendapatkan haknya dalam daftar tersebut.

Johan menatap Beni dengan tatapan tajam yang penuh dengan amarah terpendam, lalu ia menarik napas panjang sebelum membongkar kebenaran yang selama ini tersimpan di balik laci meja kerja kantor mereka. "Aris tidak pernah mengajukan mutasi, Ben! Dia sengaja mencoret namanya sendiri agar kuota untuk kita berdua aman karena dia tahu kau punya tanggungan keluarga yang besar," teriak Johan dengan suara yang pecah oleh tangis yang tertahan sejak tadi sore.

Dunia di sekitar Beni seolah runtuh seketika, dan rasa sesak yang tadi hanya berupa ganjalan kecil kini meledak menjadi badai penyesalan yang menghancurkan seluruh pertahanannya. Aris, yang kini terbaring kaku di dalam peti kayu di ruang tengah setelah kalah melawan demam tinggi kemarin malam, ternyata telah mengorbankan mimpinya demi kepulangan kedua sahabatnya. Kini, Aris memang akan tetap pulang ke kampung halaman bersama mereka minggu depan, namun bukan sebagai pemenang yang berhasil mutasi, melainkan sebagai jasad yang membeku dalam sunyi.

Beni menghentakkan gelas kopinya ke meja kayu yang sudah lapuk, menciptakan bunyi dentum yang memecah keheningan malam di beranda kontrakan mereka. Nafasnya memburu, sementara matanya menatap tajam ke arah Aris yang duduk mematung di sudut remang. "Mengapa dia tidak pernah jujur soal sakitnya?" tanya Beni dengan nada ketus yang mengiris udara, seolah-olah kejujuran adalah hutang yang lupa dibayar.

Aris tidak menjawab, ia hanya tertunduk dalam-dalam sambil memilin ujung kemejanya yang lusuh dengan jemari yang gemetar. Kebiasaan memilin kain itu selalu muncul setiap kali ia merasa terdesak oleh situasi yang tidak bisa ia kendalikan. "Kita ini keluarga di sini, Ris! Bukan sekadar teman satu atap," lanjut Beni dengan suara yang naik satu oktaf, menuntut penjelasan atas rahasia yang disimpan rapat oleh Danu.

Rasa dikhianati merayap di dada Beni, membakar sisa-sisa kesabaran yang ia miliki sejak berita kepindahan Danu yang mendadak itu mencuat. Ia merasa Danu telah membangun tembok tinggi di antara mereka, membiarkan mereka bermimpi tentang kepulangan bersama padahal raga Danu sendiri sudah digerogoti penyakit. Ketegangan di ruang sempit itu merayap perlahan, menciptakan jarak baru yang terasa lebih lebar dari samudera yang memisahkan mereka dengan kampung halaman.

Aris akhirnya mendongak, matanya berkaca-kaca namun ia tetap memaksakan sebuah keputusan untuk tidak menyalahkan siapa pun malam itu. "Danu hanya ingin kita tetap punya semangat untuk pulang, Ben. Dia tidak mau mutasi kita terhambat karena rasa kasihan," bisik Aris dengan suara parau yang menjadi ciri khasnya saat sedang sangat emosional. Baginya, menjaga martabat Danu jauh lebih penting daripada memuaskan amarah Beni yang sedang meledak.

Persahabatan yang mereka rajut selama bertahun-tahun di tanah rantau yang tandus ini kini benar-benar diuji oleh rasa bersalah yang salah sasaran. Bau tanah basah setelah hujan sore tadi memperkuat atmosfer kesedihan yang menggelayuti rumah kontrakan sederhana tersebut. Mereka berdua tahu bahwa impian untuk pulang bersama kini telah hancur berkeping-keping, menyisakan penyesalan yang akan terus membekas di relung hati yang paling dalam.

Di balik bayang-bayang lampu minyak, sebuah amplop putih tergeletak di atas meja, berisi surat mutasi Danu yang ternyata adalah izin untuk memulangkan jasadnya. Beni meraih amplop itu, merobeknya dengan kasar seolah-olah kertas itu adalah penyebab segala kemalangan yang menimpa mereka. Ia baru menyadari bahwa selama ini Danu telah mengurus segalanya sendirian, termasuk mempersiapkan perpisahan yang paling pahit bagi kedua sahabat karibnya.

Keheningan kembali menyergap, namun kali ini terasa lebih mencekik karena mereka menyadari bahwa mutasi yang mereka dambakan telah datang dengan cara yang paling tragis. Aris berdiri perlahan, mendekati jendela yang terbuka dan menatap langit malam yang tanpa bintang, mencoba mencari jawaban di antara kegelapan. Tanpa mereka sadari, salah satu dari mereka telah menyimpan kunci terakhir yang akan mengubah seluruh pandangan mereka tentang arti sebuah rumah di tanah perantauan ini.

Lantai semen yang lembap di ruang tengah kontrakan itu terasa makin dingin, menusuk hingga ke tulang Aris yang sedang terduduk lesu. Di sudut ruangan, sebuah koper usang milik Danu masih terbuka setengah, menampakkan tumpukan kemeja kerja yang belum sempat disetrika. Bau minyak kayu putih yang biasa digunakan Danu saat meriang masih tertinggal di udara, bercampur dengan aroma tanah basah dari luar jendela yang baru saja diguyur hujan lebat.

Getar ponsel di atas meja kayu yang permukaannya sudah mengelupas itu memecah lamunan panjang Aris. Layar ponsel yang retak di bagian sudut menampilkan nama "Ibu

Danu" dengan foto profil seorang wanita tua yang tersenyum bersahaja di depan sawah. Aris menatap benda itu dengan tangan gemetar, seolah-olah benda elektronik kecil itu adalah bom waktu yang siap meledakkan sisa-sisa ketenangannya yang sudah hancur sejak semalam.

Aris memaksakan diri untuk menggeser ikon hijau pada layar, lalu menempelkan ponsel itu ke telinganya yang terasa berdenging. Suara serak yang penuh harap segera menyerbu dari seberang sana, menanyakan apakah Danu sudah makan atau apakah obat sesaknya sudah diminum. Aris menelan ludah berkali-kali, namun tenggorokannya tetap terasa tersumbat duri tak kasatmata yang membuatnya sulit untuk sekadar mengeluarkan satu kata sapaan saja.

Bagaimana mungkin ia bisa menjelaskan bahwa putra kebanggaan keluarga itu kini hanya tinggal nama di atas surat keterangan kematian? Danu yang biasanya paling semangat membicarakan rencana mutasi bulan depan, kini terbujur kaku di puskesmas kecamatan yang jaraknya berjam-jam dari pemukiman. Aris meremas pinggiran meja kayu hingga buku-buku jarinya memutih, mencoba menahan isak tangis yang mendesak ingin keluar dari dadanya yang sesak.

Kebohongan kecil akhirnya terucap dengan nada suara yang dipaksakan stabil demi menjaga kewarasan seorang ibu di kampung halaman yang jauh di sana. Aris mengatakan bahwa Danu sedang tertidur pulas karena kelelahan setelah lembur menyelesaikan laporan proyek di kantor lapangan. Ia mendengar helaan napas lega dari sang ibu di ujung telepon, sebuah suara yang justru membuat ulu hati Aris terasa seperti dihantam godam yang sangat berat.

Suasana di rumah kontrakan itu mendadak menjadi sangat mencekam saat pintu depan terbuka kasar dan menampakkan sosok Bimo yang baru kembali. Mata Bimo merah padam, napasnya memburu, dan tangannya menggenggam selembar kertas faks yang sudah kumal karena remasan. Tanpa sepatah kata pun, Bimo melemparkan kertas itu ke arah Aris, memicu ketegangan baru yang selama ini mereka simpan rapat-rapat di bawah karpet ruang tamu.

Kertas itu berisi persetujuan mutasi yang selama ini mereka impikan, namun hanya ada dua nama yang tercantum di sana: Aris dan Bimo. Nama Danu sama sekali tidak ada, seolah-olah pengabdian pria itu selama bertahun-tahun di tanah rantau ini dianggap tidak pernah terjadi oleh pusat. Bimo melangkah maju, mencengkeram kerah baju Aris dengan kemarahan yang meluap-luap, menyalahkan Aris karena dianggap sengaja memanipulasi data agar hanya mereka berdua yang bisa pulang.

"Kau yang mengurus berkasnya di kantor pusat bulan lalu, Aris! Kenapa hanya kita yang lolos, sementara Danu kau biarkan membusuk di sini sampai mati?" teriak Bimo. Suaranya menggelegar di ruangan sempit itu, memantul di dinding-dinding yang berjamur. Aris hanya diam mematung, menerima guncangan fisik dari sahabatnya itu tanpa melakukan perlawanan sedikit pun karena rasa bersalah yang teramat dalam memang sedang menggerogoti jiwanya.

Tuduhan Bimo bukan tanpa alasan, sebab Aris memang sempat merahasiakan surat peringatan kesehatan Danu agar proses mutasi mereka bertiga tidak terhambat oleh birokrasi. Aris berpikir bahwa dengan membawa Danu pulang lebih cepat, sahabatnya itu bisa mendapatkan perawatan medis yang lebih layak di kota besar. Namun, takdir berkata lain; tubuh Danu yang ringkih tidak sanggup menunggu lebih lama lagi hingga napas terakhirnya terputus di tanah pengasingan.

Konflik memuncak saat Bimo menemukan sebuah amplop tebal di bawah bantal kursi yang ternyata berisi uang simpanan Danu untuk biaya syukuran kepulangan mereka. Bimo melemparkan amplop itu ke wajah Aris, membuat lembaran uang recehan berhamburan menutupi lantai yang kotor. "Kau ingin pulang sebagai pemenang, hah? Lihat ini! Dia bahkan sudah menyiapkan segalanya untuk kita, sementara kau hanya memikirkan keselamatanmu sendiri!" maki Bimo dengan suara tercekat.

Aris jatuh terduduk di antara hamburan uang itu, tangannya meraba-raba lantai mencari pegangan, namun yang ia temukan hanyalah dinginnya kenyataan yang tak terelakkan. Kebenaran pahit mulai terungkap bahwa mutasi mereka berdua sebenarnya dibayar dengan nyawa Danu yang sengaja bekerja lembur menggantikan shift mereka. Danu melakukan itu semua agar Aris dan Bimo memiliki catatan kinerja yang sempurna di mata atasan, tanpa mempedulikan kondisi paru-parunya yang kian meradang.

Pengkhianatan terselubung ini menciptakan jurang yang tak mungkin lagi bisa diseberangi oleh dua sahabat yang tersisa di rumah kontrakan sunyi itu. Bimo membalikkan badan, mulai memasukkan barang-barangnya ke dalam tas dengan gerakan kasar dan penuh kebencian yang tidak ditutup-tutupi. Ia memutuskan untuk berangkat ke bandara malam itu juga, meninggalkan Aris sendirian bersama jasad Danu yang masih menunggu untuk dipulangkan dalam peti kayu sederhana.

Lihat selengkapnya