Rumah di Tanah Rantau

Bilsyah Ifaq
Chapter #3

Sajak Perpisahan yang Tertunda

Aris memutar-mutar cincin perak di jari manisnya, sebuah kebiasaan yang selalu ia lakukan saat kecemasan mulai menggerogoti dadanya. Langit di pelosok ini tampak lebih kelabu dari biasanya, seolah awan-awan ikut berduka atas kepulangan Danu yang tak lazim. Mereka bertiga dulu berjanji akan menginjakkan kaki di dermaga kampung halaman bersama-sama, namun kini hanya ada keheningan yang menyesakkan di ruang tamu kontrakan mereka yang mulai berdebu.

"Kita seharusnya tidak membiarkan dia lembur saat demamnya mulai naik, Ar," suara Beni memecah kesunyian dengan nada rendah yang bergetar. Beni berdiri di depan jendela yang menghadap ke hutan jati, tangannya mengepal kuat hingga buku-bukunya memutih. Kebiasaan Beni untuk selalu menyalahkan keadaan setiap kali ada rencana yang meleset kini terasa lebih tajam dan menyakitkan bagi Aris yang sedang berusaha menata napasnya.

Aris tidak menjawab, ia hanya menatap botol minum plastik milik Danu yang masih tergeletak di atas meja kayu yang sudah lapuk. Keputusan Aris untuk tetap tinggal dan menyelesaikan laporan akhir bulan sementara Danu menggigil di kamar adalah beban yang kini terasa seperti batu besar di pundaknya. "Sudahlah, Ben. Menyalahkan diri sendiri tidak akan membawa jasadnya kembali hidup di dalam peti itu," sahut Aris dengan ritme bicara yang patah-patah.

Suasana rumah yang biasanya penuh dengan tawa Danu kini terasa asing, seakan setiap sudut ruangan menolak kehadiran Aris dan Beni yang masih bernapas. Bau minyak kayu putih yang sering digunakan Danu masih tertinggal tipis di udara, bercampur dengan aroma tanah basah dari pemakaman tadi pagi. Mereka telah berhasil mendapatkan surat mutasi yang selama ini diimpikan, namun surat itu kini hanya menjadi lembaran kertas tanpa makna yang tergeletak di lantai.

Ketegangan memuncak saat Beni tiba-tiba menendang kursi kayu hingga terjungkal, menciptakan suara dentuman keras yang menggema di seluruh rumah. "Kau selalu begitu, Ar! Selalu logis, selalu tenang, seolah-olah kematian sahabat kita hanyalah satu lagi variabel dalam rencana mutasimu!" teriak Beni dengan mata yang memerah karena amarah dan duka yang tak tersalurkan. Aris hanya diam, terus memutar cincinnya dengan kecepatan yang meningkat, mencoba menahan ledakan emosi di balik topeng ketenangannya.

Namun, sebuah rahasia pahit terungkap saat Aris menemukan sepucuk surat di bawah bantal Danu yang belum sempat dirapikan sejak keberangkatan jenazahnya. Danu ternyata sudah mengetahui bahwa hanya ada dua slot mutasi yang tersedia untuk tahun ini, dan ia sengaja tidak mengajukan namanya agar Aris dan Beni bisa pulang lebih dulu. Pengorbanan diam-diam itu menjadi tamparan keras yang mengubah seluruh perspektif mereka tentang persahabatan yang selama ini mereka jalani di tanah rantau.

Kini, Aris memandang surat mutasinya sendiri dengan rasa mual yang meluap, menyadari bahwa kepulangannya adalah hasil dari kursi yang dikosongkan secara sengaja oleh seorang sahabat yang kini telah tiada. Ia memutuskan untuk merobek surat itu menjadi serpihan kecil, sebuah tindakan impulsif yang sangat tidak mencerminkan sifatnya yang biasanya penuh perhitungan. Beni tertegun melihat tindakan itu, menyadari bahwa rumah di tanah rantau ini telah benar-benar hancur bersamaan dengan hilangnya nyawa yang paling tulus di antara mereka.

Langkah kaki Aris terdengar berat saat ia berjalan menuju teras, meninggalkan Beni yang masih terpaku dalam penyesalan yang mendalam di ruang tengah. Di luar, hujan mulai turun membasahi tanah merah, seolah ingin menghapus jejak-jejak kesedihan yang tertinggal di halaman rumah kontrakan mereka. Aris menatap ke arah jalan setapak yang menuju ke pelabuhan, menyadari bahwa pulang ke kampung halaman kini hanyalah sebuah perjalanan menuju kesunyian yang baru tanpa kehadiran Danu di sisinya.

Udara pagi di pelosok itu terasa menusuk tulang, seolah-olah kabut tebal sengaja merayap masuk melalui celah dinding papan rumah kontrakan mereka yang mulai lapuk. Beni memutar kenop kompor gas yang berkarat dengan gerakan mekanis, membiarkan bunyi desis api memenuhi dapur yang sunyi. Suara itu seketika memicu memori tentang Danu, yang biasanya sudah berdiri di sampingnya sambil mengomel tentang takaran garam yang selalu berlebihan. Kini, keheningan di dapur terasa begitu pekak, jauh lebih menyakitkan daripada kebisingan perdebatan mereka di masa lalu.

Di atas rak kayu yang sudah menghitam karena lembap, hanya ada dua piring yang tertata, menyisakan satu ruang kosong yang tampak seperti luka terbuka. Dulu, tiga piring selalu berjajar rapi, menjadi simbol kesepakatan mereka untuk bertahan hidup di tanah rantau yang asing ini. Beni menatap telur mata sapi yang mulai gosong di atas wajan, namun tangannya seolah lumpuh untuk sekadar membalikkan sudip. Ia menyadari bahwa rutinitas pagi mereka telah cacat selamanya sejak surat mutasi pertama itu turun dan memisahkan persaudaraan yang mereka bangun.

Aris muncul dari balik tirai kamar dengan mata sembap, tangannya sibuk merapikan kemeja seragam yang tampak kebesaran di tubuhnya yang kian kurus. "Ben, baunya sudah sampai depan," tegurnya dengan suara serak, sebuah pola bicara yang belakangan ini sering ia gunakan untuk menutupi kesedihan. Ia berjalan mendekat namun tidak berani menatap rak piring, seolah-olah melihat kekosongan di sana akan membuat pertahanannya runtuh seketika. Mereka berdua terjebak dalam ritme hidup yang pincang, mencoba berpura-pura bahwa semuanya masih baik-baik saja.

"Garamnya jangan banyak-banyak, Danu tidak suka," gumam Beni tanpa sadar, sebuah kebiasaan lidah yang menolak menerima kenyataan bahwa sahabatnya itu sudah tidak ada di sana. Ia segera menggigit bibir bawahnya begitu menyadari kesalahan ucapannya, sementara Aris hanya tertegun di ambang pintu dapur dengan bahu yang merosot. Nama itu kini menjadi tabu, sebuah pengingat tentang janji untuk pulang bersama yang akhirnya dikhianati oleh takdir dan surat keputusan birokrasi yang dingin.

Ketegangan di antara mereka meningkat saat Aris meletakkan sebuah amplop cokelat di atas meja makan yang permukaannya sudah terkelupas. "Aku baru saja mendapat kabar, Ben. SK mutasiku sudah keluar minggu depan, aku harus segera berkemas untuk kembali ke pusat," ucap Aris dengan nada datar. Keputusan Aris untuk tidak merayakan keberhasilannya menunjukkan betapa berat beban rasa bersalah yang ia pikul karena harus meninggalkan Beni sendirian di tempat terpencil ini. Beni hanya bisa menatap amplop itu seolah benda tersebut adalah belati yang siap menusuk jantungnya.

Mungkin memang aku yang ditakdirkan untuk mematikan lampu terakhir di rumah ini, sendirian tanpa ada yang memanggil namaku lagi.

Beni mematikan kompor dengan sentakan kasar, membiarkan asap hitam mengepul dari telur yang kini benar-benar hangus dan tak layak makan. "Baguslah, setidaknya satu lagi dari kita berhasil keluar dari lubang jarum ini sebelum menjadi gila karena kesepian," sahut Beni dengan nada getir. Ia selalu memiliki kecenderungan untuk mendorong orang menjauh saat dirinya merasa paling rapuh, sebuah mekanisme pertahanan diri yang justru sering menimbulkan kesalahpahaman. Aris hanya bisa terdiam, merasa bahwa setiap kata penghiburan yang ia tawarkan hanya akan terdengar seperti ejekan di telinga Beni.

Suasana berubah menjadi ledakan emosi saat Aris mencoba meraih pundak Beni, namun Beni menepisnya dengan gerakan yang sangat kasar hingga kursi di belakangnya terjungkal. "Jangan kasihani aku, Ris! Kau pikir aku tidak tahu kau sengaja mengajukan mutasi diam-diam tanpa memberitahuku sejak bulan lalu?" teriak Beni. Matanya menyala karena amarah yang bercampur dengan rasa dikhianati, mengungkap rahasia yang selama ini Aris simpan rapat demi menjaga perasaan sahabat setianya itu. Ruangan sempit itu mendadak terasa menyesakkan, penuh dengan tuduhan yang selama ini hanya tertahan di ujung lidah.

Aris mundur selangkah, wajahnya pucat pasi karena tidak menyangka Beni akan mengetahui pengkhianatan kecil yang ia lakukan demi mengejar impian pulang. "Aku harus melakukannya, Ben! Ibuku sakit, dan aku tidak punya pilihan selain mencari jalan tercepat untuk kembali ke Jawa," bela Aris dengan suara bergetar. Kejujuran itu bukannya meredakan suasana, justru memperdalam jurang di antara mereka karena Beni merasa bahwa alasan keluarga adalah kartu as yang tidak bisa ia lawan. Mereka berdiri berhadapan, dua orang asing yang dulunya saling berbagi mimpi di bawah atap yang sama.

Di tengah pertengkaran hebat itu, ketukan pintu yang lemah namun beruntun menghentikan perdebatan mereka, membawa udara dingin yang lebih mencekam ke dalam rumah. Seorang kurir dari kantor pos berdiri di sana dengan wajah kaku, memegang sebuah telegram resmi yang dialamatkan untuk penghuni rumah kontrakan nomor dua belas. Beni mengambil surat itu dengan tangan gemetar, sementara Aris hanya bisa mematung di belakangnya dengan napas yang memburu. Setiap kata yang tertulis di kertas tipis itu seolah-olah menghisap semua oksigen yang tersisa di dalam ruangan.

Isi telegram itu bukan tentang mutasi Beni yang ia tunggu-tunggu, melainkan kabar duka tentang Danu yang baru saja tiba di kampung halamannya dalam keadaan kritis. Ternyata, penyakit yang selama ini dianggap Danu sebagai kelelahan biasa di tanah rantau adalah infeksi paru-paru akut yang telah merusak organ dalamnya. Danu tidak pernah benar-benar sampai ke rumahnya untuk menikmati masa pensiun atau berkumpul dengan keluarganya dalam keadaan sehat. Kabar ini menghantam mereka berdua seperti badai, meruntuhkan semua ego dan amarah yang baru saja mereka ledakkan beberapa menit yang lalu.

Beni terduduk lemas di lantai dapur yang kotor, meremas telegram itu hingga membentuk bola kertas yang tak beraturan di dalam genggamannya. "Dia pulang, Ris... tapi dia pulang untuk mati," bisik Beni dengan suara yang nyaris hilang, air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya yang kasar. Kesalahpahaman mereka tentang siapa yang paling beruntung untuk mutasi lebih dulu kini terasa sangat kerdil dibandingkan dengan kenyataan pahit ini. Ternyata, impian pulang yang mereka agung-agungkan hanyalah sebuah perjalanan menuju peristirahatan terakhir yang sunyi bagi salah satu dari mereka.

Adegan terakhir yang menyayat hati terjadi saat sebuah mobil ambulans memasuki halaman rumah mereka beberapa hari kemudian, membawa peti jenazah yang dingin. Danu memang kembali ke kampung halamannya melalui prosedur mutasi resmi, namun namanya kini terukir di atas papan nisan kayu yang masih basah. Beni berdiri di depan pintu, memegang kunci rumah yang kini terasa sangat berat, menyadari bahwa ia adalah satu-satunya yang tersisa di tanah rantau ini. Ia melihat ke arah rak piring sekali lagi, menyadari bahwa kekosongan itu tidak akan pernah bisa diisi oleh siapa pun lagi.

Saat Aris melangkah keluar membawa koper terakhirnya, ia berhenti sejenak dan menatap Beni yang masih terpaku di ambang pintu seperti patung kesedihan. Tidak ada kata perpisahan yang manis, hanya anggukan kepala yang kaku dan tatapan mata yang penuh dengan penyesalan yang mendalam. Beni tahu bahwa setelah ini, ia harus menghadapi malam-malam panjang sendirian di rumah yang kini lebih mirip seperti kuburan bagi kenangan mereka. Ia menutup pintu dengan perlahan, membiarkan bunyi kunci yang berputar mengakhiri babak kehidupan mereka yang paling menyakitkan di tanah perantauan ini.

Namun, saat ia berbalik menuju meja makan, mata Beni tertuju pada sebuah amplop kecil yang ditinggalkan Aris di bawah piring gosong tadi pagi. Dengan tangan gemetar, ia membukanya dan menemukan sebuah tiket perjalanan pulang atas namanya sendiri yang telah dibayar lunas oleh kedua sahabatnya.

Ternyata, selama ini mereka berdua diam-diam menyisihkan uang gaji mereka agar Beni bisa menyusul tanpa harus menunggu surat mutasi yang tak kunjung datang. Beni jatuh tersungkur sambil memeluk tiket itu, menyadari bahwa pengkhianatan yang ia tuduhkan sebenarnya adalah bentuk pengorbanan terakhir dari keluarga yang ia temukan di keterasingan.

Sandal jepit berwarna biru milik Danu masih bersandar miring di dekat pintu samping, persis di tempat lelaki itu melepaskannya dua minggu lalu. Aris nyaris menendangnya saat hendak mengambil sapu, namun ia mendadak kaku dan mematung cukup lama di ambang pintu yang lembap. Udara di rumah kontrakan kecil itu terasa berat, membawa aroma kayu lapuk dan sisa hujan semalam yang belum menguap dari tanah merah di halaman belakang.

Aris mengulurkan tangan, bermaksud memindahkan alas kaki karet yang sudah menipis itu ke dalam agar tidak terkena tempias hujan yang mulai turun lagi. Namun, jemarinya gemetar hebat sebelum sempat menyentuh permukaan sandal yang kusam tersebut. Menyentuh barang itu terasa seperti menusuk luka yang baru saja menganga, sebuah pengakuan pahit bahwa pemiliknya benar-benar takkan kembali mengenakannya lagi.

Biasanya, Danu akan memakai sandal itu untuk sekadar menjemur pakaian di halaman belakang yang selalu becek setiap kali musim penghujan tiba di tanah rantau ini. Ia akan bersenandung kecil, suara seraknya memecah kesunyian hutan di sekitar pemukiman mereka sambil sesekali mengeluh tentang betapa sulitnya sinyal telepon untuk menghubungi ibunya di kampung. Kini, hanya ada sunyi yang menyesakkan dan deru angin yang menggoyang daster-daster jemuran yang terlupakan.

Di sudut ruang tamu yang sempit, Budi duduk meringkuk di atas tikar pandan sambil terus menatap surat mutasi miliknya yang baru saja tiba pagi tadi. Kertas putih itu tampak bersih dan berwibawa, kontras dengan dinding rumah mereka yang berjamur dan penuh noda rembesan air hujan. Aris melirik sahabatnya itu, merasakan ada duri yang tak kasat mata mulai tumbuh di antara mereka sejak kabar kepindahan itu tersebar di kantor wilayah.

"Kau sudah mengemas barangmu, Bud?" tanya Aris dengan suara parau, berusaha memecah keheningan yang mulai terasa beracun di antara mereka berdua. Ia menarik napas panjang, namun yang terhirup hanyalah bau apek dari ruang tengah yang jarang dibuka jendelanya. Budi tidak langsung menjawab, jemarinya justru meremas pinggiran surat mutasi itu hingga kertasnya berkerut dan meninggalkan bekas lipatan yang tajam.

"Belum semua. Rasanya tidak adil, Ris," jawab Budi tanpa menoleh sedikit pun, suaranya terdengar seperti gesekan amplas pada kayu kering. Matanya masih tertuju pada tumpukan kardus di pojok ruangan yang berisi buku-buku dan pakaian kerja yang sudah mulai dipisahkan. Ada rasa bersalah yang memancar dari punggungnya yang membungkuk, seolah-olah keberhasilannya untuk pulang adalah sebuah pengkhianatan bagi mereka yang tertinggal.

Aris mendengus pendek, sebuah tawa getir yang lebih mirip ringisan tertahan keluar dari sela-sela giginya yang terkatup rapat. Ia berjalan mendekat, lalu melempar sebuah map cokelat ke atas meja kayu yang permukaannya sudah mulai terkelupas dimakan usia. Di dalam map itu, terdapat formulir permohonan mutasi milik Danu yang sudah ditandatangani, namun takkan pernah dikirimkan ke kantor pusat karena takdir bicara lain.

"Adil itu tidak ada di tanah ini, kau tahu itu sejak kita pertama kali menginjakkan kaki di dermaga busuk itu," ucap Aris sambil menunjuk map tersebut. Suaranya mulai meninggi, emosi yang selama ini ia pendam di bawah tumpukan laporan kerja mendadak meluap ke permukaan. Ia merasa dikhianati oleh keadaan, oleh sistem, dan mungkin juga oleh sahabatnya sendiri yang kini memiliki tiket emas untuk pergi meninggalkan kesunyian ini.

Budi berdiri dengan sentakan kasar, membuat kursi kayu di belakangnya berderit keras dan nyaris terjungkal ke lantai semen yang dingin. "Kau pikir aku senang meninggalkanmu sendirian di sini dengan bayang-bayang Danu? Aku juga ingin dia ikut, Ris! Tapi dia malah memilih mati di ranjang reot itu!" teriak Budi dengan wajah memerah, urat-urat di lehernya menegang saat ia meluapkan kemarahan yang selama ini disembunyikan.

Ketegangan di ruangan itu mencapai puncaknya saat Aris maju selangkah, mencengkeram kerah kemeja Budi dengan tangan yang masih gemetar karena amarah dan kesedihan. Bau keringat dan keputusasaan bercampur di antara mereka, menciptakan suasana yang mencekam di bawah temaram lampu bohlam lima watt yang berkedip-kedip. Mereka adalah keluarga di tanah asing ini, namun perpisahan dan kematian telah mengubah kasih sayang itu menjadi belati yang tajam.

Tiba-tiba, Aris melepaskan cengkeramannya dan mundur perlahan hingga punggungnya menabrak lemari plastik yang sudah miring posisinya. Ia teringat sesuatu yang selama ini ia sembunyikan dari Budi, sebuah rahasia kecil yang ia simpan di dalam laci meja kerja Danu sebelum jenazah sahabat mereka itu dipulangkan. Sebuah surat balasan dari kantor pusat yang menyatakan bahwa permohonan mutasi Danu sebenarnya sudah disetujui seminggu sebelum ia jatuh sakit.

"Dia sebenarnya sudah bisa pulang, Bud. Suratnya ada padaku, tapi aku sengaja menahannya karena aku takut kesepian jika kalian berdua pergi," bisik Aris dengan suara yang nyaris hilang. Pengakuan itu jatuh seperti bom di tengah ruangan, menghancurkan sisa-sisa kepercayaan yang mereka bangun selama bertahun-tahun di perantauan. Budi terbelalak, matanya mencerminkan kengerian dan kebencian yang mendalam terhadap sosok yang selama ini ia anggap saudara.

Budi melangkah mundur, meraih tas ranselnya dengan gerakan serampangan lalu berjalan menuju pintu samping tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi. Ia sengaja menginjak sandal biru milik Danu hingga benda itu terlempar ke arah kubangan air di halaman yang becek dan berlumpur. Aris hanya bisa berdiri mematung, menyaksikan satu-satunya keluarga yang tersisa pergi meninggalkannya dalam kegelapan rumah yang kini benar-benar terasa seperti kuburan bagi impian mereka.

Deru mesin motor yang menjauh meninggalkan keheningan yang menyesakkan di teras rumah kontrakan mereka. Aris berdiri mematung sambil meremas pinggiran map putih yang baru saja diterimanya dari kurir kantor pusat. Jemarinya gemetar pelan, sebuah kebiasaan yang muncul tiap kali ia dipaksa menghadapi kenyataan pahit tanpa peringatan. Bau kertas baru dan tinta segar tercium tajam, sangat kontras dengan aroma minyak kayu putih yang masih tertinggal di ruang tengah.

"Lagi-lagi soal prosedur, selalu saja soal prosedur," gumam Aris dengan nada rendah dan getir yang menjadi ciri khasnya saat sedang memendam amarah. Matanya menyapu deretan kalimat di atas kertas tersebut, mencari sedikit saja jejak kemanusiaan di antara diksi-diksi birokrasi yang kaku. Namun, ia hanya menemukan instruksi pengisian jabatan yang kini lowong, seolah-olah kursi yang ditinggalkan Danu hanyalah furnitur rusak yang perlu segera diganti dengan unit baru.

Ia melangkah masuk ke dalam rumah, melewati deretan sepatu yang masih tertata rapi di dekat pintu, termasuk sepasang sepatu lari milik Danu yang takkan pernah dipakai lagi. Aris menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang terasa seperti hantaman palu di dada. Ia terbiasa mengambil keputusan berdasarkan logika yang dingin, namun kali ini logika itu terasa seperti pengkhianatan terhadap persahabatan mereka yang telah terpupuk bertahun-tahun.

Di ruang tamu, bayangan tawa Danu dan Reno saat mereka merencanakan kepulangan bersama seolah memantul di dinding yang mulai mengelupas. Aris mengusap wajahnya dengan kasar, merasakan tekstur kulitnya yang lelah akibat kurang tidur selama mengurus kepulangan jenazah sahabatnya. Baginya, mutasi yang selama ini mereka impikan kini berubah menjadi sebuah ironi yang sangat kejam karena hanya bisa dicapai melalui sebuah sertifikat kematian yang dingin.

Ketegangan di rumah itu semakin memuncak ketika Aris menyadari bahwa manajemen kantor tidak memberikan waktu berkabung sama sekali bagi mereka yang tersisa. Dunia luar terus berputar dengan kecepatan yang tidak peduli, memaksa Aris untuk segera mencari pengganti posisi Danu demi kelancaran operasional di pelosok ini. Ia merasa mual melihat bagaimana nyawa seseorang yang dianggapnya sebagai saudara kini direduksi menjadi sekadar kode posisi kosong dalam tabel Excel.

Aris melemparkan map itu ke atas meja kayu tua, menimbulkan suara bedebum yang menggema ke seluruh penjuru ruangan yang sepi. Keputusannya sudah bulat untuk menunda pengisian jabatan itu selama mungkin, meski ia tahu risiko teguran keras akan segera datang menghampirinya. Ia tidak akan membiarkan kenangan tentang Danu dihapus begitu saja oleh tinta hitam di atas kertas administratif yang tidak memiliki perasaan dan jiwa sama sekali.

Lihat selengkapnya