Rumah di Tanah Rantau

Bilsyah Ifaq
Chapter #4

Dinding yang Menjadi Saksi

Debu tipis mulai menyelimuti lantai semen yang biasanya mengkilap karena sapuan rutin Aris. Di sudut ruang tengah, dua buah kardus cokelat besar berdiri kaku dengan lakban bening yang melintang kasar di atasnya. Rumah kontrakan di pinggiran hutan ini, yang dahulu riuh oleh tawa tiga sekawan, kini terasa luas sekaligus menyesakkan karena separuh nyawanya sedang dikemasi ke dalam bungkusan plastik gelembung.

Aris mengusap dahinya yang berkeringat, lalu mengetuk-ngetukan jemarinya ke meja makan kayu yang permukaannya sudah mulai kusam. "Pokoknya, semua alat masak ini harus masuk ke koperku, jangan ada yang tertinggal di dapur berhantu ini," gumamnya dengan nada ketus yang dipaksakan. Ia selalu menggunakan diksi tajam untuk menutupi gemuruh di dadanya, seolah-olah menyebut rumah itu berhantu akan memudahkannya untuk segera pergi tanpa menoleh ke belakang lagi.

Beni hanya terdiam sambil melipat baju-baju dinasnya dengan gerakan mekanis yang sangat rapi, sebuah ritual yang selalu ia lakukan saat pikirannya sedang kalut. Ia tidak menyahuti ocehan Aris, melainkan terus menekan-nekan lipatan kain hingga tak ada satu pun kerutan yang tersisa. Keputusan untuk segera angkat kaki setelah SK mutasi keluar adalah hal yang logis, namun melihat rak sepatu yang kini hanya menyisakan satu pasang milik Pandu membuatnya merasa seperti seorang pengkhianat.

Pandu, yang biasanya menjadi penengah, kini hanya terbaring di kamar belakang dengan napas yang terdengar berat dan tersengal. Aris sempat berhenti sejenak di depan pintu kamar itu, memutar-mutar kunci motor di telunjuknya dengan gelisah sebelum akhirnya memutuskan untuk tidak masuk. Keputusan Aris untuk tetap fokus pada pengepakan barang-barang berharga miliknya adalah bentuk pelarian dari kenyataan bahwa salah satu dari mereka mungkin tidak akan pernah benar-benar pulang dengan kaki sendiri.

Gema langkah kaki di atas ubin kosong menciptakan suara pantulan yang ganjil, seolah-olah dinding rumah itu sedang memprotes kekosongan yang dipaksakan. Aris menarik napas panjang, mencium aroma tanah basah dan kayu lapuk yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari keseharian mereka di tanah rantau ini. Ia berusaha keras meyakinkan diri bahwa perpisahan ini adalah kemenangan, meskipun bayangan Pandu yang pucat terus menghantui setiap sudut matanya yang mulai memanas.

Ketegangan memuncak ketika Beni tiba-tiba membanting tutup koper plastiknya dengan suara dentuman yang keras, memecah kesunyian yang mencekam. "Kita tidak bisa meninggalkan dia sendirian dalam kondisi seperti itu, Ris, kau tahu itu kan?" suara Beni bergetar, namun Aris justru semakin kencang melilitkan lakban ke kardus terakhirnya. Aris memilih untuk menutup telinga, sebuah bias keputusan yang selalu ia ambil ketika emosi mulai mengancam logika dingin yang ia banggakan selama ini.

Di luar, langit mulai meredup, menyisakan warna jingga yang tampak memudar di balik rimbunnya pepohonan yang mengepung rumah kontrakan mereka. Sisa-sisa kehidupan mereka, mulai dari gantungan kunci yang patah hingga noda kopi di dinding, menjadi saksi bisu atas janji-janji untuk pulang bersama yang kini hancur berkeping-keping. Mereka tahu bahwa setelah malam ini, rumah ini tidak akan lagi menjadi tempat berlindung, melainkan sebuah monumen kesedihan bagi mimpi-mimpi yang terhenti di tengah jalan.

Lantai kayu di ruang tengah kontrakan itu berderit setiap kali Beni memindahkan tumpuan berat badannya. Sinar matahari sore menyusup melalui celah ventilasi yang berdebu, menyiram permukaan dinding kayu yang kusam dengan warna jingga yang menyakitkan. Di sudut ruangan, sebuah tiang penyangga rumah menyimpan rahasia kecil yang kini terasa seperti beban ribuan ton bagi dada Beni yang sesak.

Jari-jari Beni yang kasar karena kerja lapangan menyisir permukaan kayu itu dengan gemetar, hingga ia menemukan deretan goresan pendek yang berjejer rapi. Itu adalah garis pengukur tinggi badan yang mereka buat setiap malam tahun baru dengan penuh tawa. Danu selalu menjadi yang paling pendek di antara mereka bertiga, dan ejekan-ejekan jenaka tentang asupan kalsium biasanya akan memenuhi ruangan itu hingga larut malam.

Setiap goresan itu kini tampak seperti sayatan luka yang masih basah dan mengeluarkan darah di mata Beni. Ia bisa mendengar gema tawa Danu yang khas, serak dan jujur, seolah pria itu masih berdiri di sana sambil membusungkan dada agar terlihat lebih tinggi. Namun, kenyataannya begitu pahit karena hanya tersisa keheningan yang mencekam di rumah panggung yang mulai terasa asing ini.

Beni merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah pisau lipat tua dengan gagang yang sudah aus. Logam mata pisaunya berkilat dingin saat ia membukanya dengan sekali sentakan jempol yang terlatih. Niatnya bulat untuk menghapus jejak-jejak itu, mengikis kayu tersebut hingga bersih agar ia tidak perlu lagi melihat pengingat tentang kebahagiaan yang telah dirampas secara paksa oleh maut.

Namun, saat ujung mata pisau menyentuh garis terendah milik Danu, tangan Beni bergetar hebat seolah-olah kayu itu memiliki denyut nadi yang menolak untuk dimatikan. Suara napasnya memburu, memenuhi ruangan yang pengap oleh aroma kayu tua dan kenangan yang membusuk. Ia menyadari bahwa menghapus garis itu sama saja dengan mencoba menghapus keberadaan sahabatnya yang kini hanya tinggal nama di atas nisan.

Tiba-tiba, pintu depan terbuka dengan bantingan keras, memutus keheningan yang rapuh itu secara brutal. Aris melangkah masuk dengan wajah yang merah padam dan mata yang bengkak karena kurang tidur, napasnya memburu seperti banteng yang terluka. Ia tidak membawa kabar baik, melainkan sebuah map cokelat yang diremasnya hingga kaku, seolah benda itu adalah musuh yang ingin ia hancurkan.

"Kau sudah lihat ini, Ben? Kau sudah tahu semuanya, kan?" suara Aris meninggi, bergetar di antara kemarahan dan keputusasaan yang mendalam. Ia melempar map itu ke atas meja kayu yang rapuh, membuat debu-debu beterbangan di bawah cahaya sore. Beni tertegun, pisau lipatnya masih menggantung di udara, sementara jantungnya mulai berdegup kencang mengikuti irama kemarahan Aris.

Beni tidak menjawab, ia hanya menatap map yang terbuka itu dengan pandangan kosong yang menyiratkan ketakutan tersembunyi. Di dalamnya terdapat surat keputusan mutasi yang sudah lama mereka nantikan, namun nama yang tertera di sana bukanlah nama mereka berdua. Nama Danu tercetak jelas di sana, lengkap dengan tanggal persetujuan yang sudah keluar sejak dua minggu yang lalu, sebelum ia jatuh sakit.

"Dia sudah dapat izin pulang, Ben! Dia merahasiakannya dari kita karena dia mau memberi kejutan!" Aris berteriak, air matanya kini tumpah membasahi pipinya yang kotor. Suaranya pecah saat ia menunjuk ke arah tiang kayu tempat Beni berdiri mematung. "Dan kau? Kau malah sibuk mengurus mutasimu sendiri tanpa peduli kalau dia sedang berjuang sendirian di kamar sebelah!"

Tuduhan itu menghantam Beni seperti hantaman godam yang menghancurkan tulang rusuknya hingga remuk tak bersisa. Ia menunduk, melihat pisau lipat di tangannya yang kini terasa begitu berat dan menjijikkan, seolah ia adalah algojo bagi sahabatnya sendiri. Pengkhianatan kecil yang ia lakukan dengan menyabotase administrasi Danu demi egonya sendiri kini terungkap dengan cara yang paling mengerikan.

Beni teringat bagaimana ia sengaja menunda menyerahkan berkas kesehatan Danu ke kantor pusat karena ia takut akan ditinggal sendirian di pelosok ini. Ia pikir ia punya waktu untuk memperbaiki segalanya, ia pikir Danu hanya demam biasa yang akan sembuh dalam hitungan hari. Namun, keegoisannya justru menjadi tembok yang menghalangi Danu untuk melihat kampung halamannya dalam keadaan bernapas.

Kini kenyataan itu menghantamnya dengan telak; Danu memang akan pulang ke rumah orang tuanya, namun bukan dengan senyum kemenangan seperti yang mereka impikan. Ia akan kembali dalam peti kayu yang dingin, menjadi penumpang kargo yang bisu di

pesawat pagi esok. Kepulangan yang selama ini mereka bicarakan setiap malam kini menjadi upacara pemakaman yang paling menyayat hati bagi mereka berdua.

Aris melangkah maju, mencengkeram kerah baju Beni dengan kekuatan yang dipicu oleh rasa benci yang murni dan tak terkendali. "Kau pembunuh, Ben. Kau membiarkan dia mati di sini hanya supaya kau punya teman untuk mengeluh!" Aris melepaskan cengkeramannya dengan kasar, membuat Beni terhuyung ke belakang hingga punggungnya menabrak tiang kayu yang penuh goresan pengukur tinggi itu.

Pisau lipat di tangan Beni akhirnya terlepas dan jatuh ke lantai dengan denting logam yang memuakkan, menandakan berakhirnya segala kepura-puraan mereka. Ia merosot jatuh ke lantai, menyentuh goresan milik Danu untuk terakhir kalinya dengan telapak tangan yang bersimbah keringat dingin. Di luar, suara burung malam mulai terdengar, mengiringi kesadaran pahit bahwa rumah yang mereka bangun di tanah rantau ini telah runtuh menjadi puing-puing penyesalan yang abadi.

Udara pengap menyergap paru-paru saat Aris memanjat kursi kayu tua yang berderit untuk menjangkau bagian atas lemari pakaian milik Danu. Debu tebal beterbangan di bawah cahaya lampu neon yang berkedip-kedip, membuat Aris terbatuk kecil sambil mengibaskan tangan. Di sana, ia menemukan tumpukan koran lama yang sudah menguning, sisa-sisa alas tas yang ditinggalkan Danu sebelum sahabatnya itu jatuh sakit dan dilarikan ke puskesmas kecamatan bulan lalu.

Aris menarik selembar kertas rapuh itu dengan ujung jari yang gemetar, merasakan tekstur kasar dari berita-berita usang yang terbit pada tahun pertama mereka menginjakkan kaki di tanah perantauan ini. Kenangan tentang tawa mereka bertiga saat pertama kali membersihkan rumah kontrakan ini kembali terlintas, menghadirkan rasa sesak yang lebih tajam daripada debu ruangan. Ia berniat meremas kertas itu untuk dibuang ke tempat sampah di pojok kamar yang kini terasa sunyi.

Langkah Aris terhenti seketika saat matanya menangkap goresan tinta biru yang mulai memudar di pojok kanan atas halaman depan koran tersebut. Di sana tertera deretan nomor telepon rumah orang tua Danu, lengkap dengan catatan kecil berbunyi "Telepon kalau sudah sukses mutasi". Aris mengerutkan kening, jemarinya meraba angka-angka itu seolah ingin memastikan bahwa harapan Danu untuk pulang ke kampung halaman masih tertulis dengan sangat jelas di sana.

Suara langkah kaki berat terdengar dari arah pintu depan, menandakan kepulangan Budi yang baru saja menyelesaikan urusan administrasi pemulangan jenazah di kantor wilayah. Budi masuk dengan wajah kuyu, matanya merah karena kurang tidur, dan langsung menyandarkan tubuhnya ke dinding kayu yang mulai lapuk. Ia menatap Aris yang masih mematung di atas kursi, memegang koran lama itu seperti sedang menggenggam sebuah peninggalan suci yang tak ternilai harganya.

"Nomor ini, Bud. Danu menulis nomor rumah ibunya di sini," bisik Aris dengan suara parau, menunjukkan coretan itu kepada sahabatnya yang tersisa. Budi hanya mengangguk pelan, lalu mengeluarkan selembar amplop cokelat dari saku jaketnya yang lusuh. Ternyata itu adalah surat keputusan mutasi atas nama Danu yang baru saja terbit pagi ini, sebuah kabar gembira yang datang terlambat hanya selisih beberapa jam setelah napas terakhir Danu berhembus di bangsal rumah sakit.

Aris merasakan amarah dan kesedihan bergejolak menjadi satu saat menyadari ironi yang sedang mereka hadapi di tengah keterasingan ini. Keinginan Danu untuk pulang akhirnya terkabul, namun bukan dalam bentuk mutasi jabatan yang ia impikan selama bertahun-tahun mengabdi di pelosok. Ia akan kembali ke pelukan ibunya sebagai jasad yang membeku di dalam peti kayu, meninggalkan Aris dan Budi yang kini didera rasa bersalah atas kesalahpahaman terakhir mereka sebelum Danu jatuh pingsan.

Budi merampas koran itu dari tangan Aris, merobek bagian yang berisi nomor telepon tersebut dengan gerakan kasar yang menunjukkan keputusasaan mendalam. Ia tahu bahwa menelepon nomor itu berarti harus menyampaikan kabar paling pahit yang pernah ada kepada seorang ibu yang sedang menunggu kepulangan anaknya. Di tengah keheningan malam yang mencekam, mereka berdua menyadari bahwa rumah yang mereka bangun di tanah rantau ini telah runtuh bersama impian yang terkubur.

Kawat besi itu melengkung pasrah, menahan beban kemeja batik yang belum sempat disentuh sejak sebulan lalu. Beni menarik pakaian itu perlahan, membuat gantungan bajunya berderit nyaring menabrak pipa besi yang berkarat. Aroma sabun cuci murah yang tajam mendadak menyeruak, namun kali ini ada semburat bau obat-obatan yang tertinggal di serat kainnya.

Ia meremas kerah baju itu hingga buku jarinya memutih, seolah sedang mencekik kenangan yang menolak untuk pergi. Ada keinginan kuat untuk melemparkan kain lusuh ini ke tumpukan sampah di luar sana agar matanya tak perlu lagi melihat jejak penderitaan. Namun, setiap kali tangannya bergerak menuju pintu, rasa bersalah yang dingin merayap naik dari perutnya.

Apakah membuang barang-barang ini berarti mengusir keberadaan Danu secara paksa dari ingatan bangunan tua ini? Rumah kontrakan ini sudah cukup sepi sejak kepergian dua kawan lainnya yang berhasil mutasi. Kini, dinding-dinding yang terkelupas itu seolah menjadi saksi bisu bahwa hanya tinggal Beni yang tersisa untuk menjaga sisa-sisa napas sahabatnya.

Beni melangkah ke sudut dapur, tempat sebuah cangkir plastik retak masih bertengger di atas meja kayu yang miring. Ia teringat bagaimana Danu selalu bersikeras menyeduh kopi pahit setiap pagi, meski tangannya sudah gemetar hebat karena serangan demam yang tak kunjung reda. "Sedikit kafein tidak akan membunuhku, Ben," bisik suara parau itu kembali terngiang.

Bayangan itu membuat Beni tersedak oleh udara yang terasa makin berat dan menyesakkan di paru-parunya. Ia ingat betul hari ketika surat mutasi Danu akhirnya datang, tepat tiga hari setelah jasad pria itu dimasukkan ke dalam peti kayu. Sebuah lelucon pahit dari birokrasi yang seolah mengejek perjuangan mereka bertahan hidup di pelosok tanah rantau yang tidak ramah ini.

Di ruang tengah, tumpukan kardus berisi buku-buku lama milik Danu masih tergeletak tidak rapi, menunggu untuk dikirim ke kampung halaman. Beni berjongkok di depannya, jemarinya menyentuh debu tebal yang menyelimuti permukaan kardus tersebut dengan gerakan ragu. Setiap benda di rumah ini memiliki cerita tentang mimpi-mimpi besar mereka yang sering dibicarakan hingga larut malam.

Tiba-tiba, suara ketukan keras di pintu depan merobek keheningan yang sejak tadi menyelimuti ruangan sempit itu. Beni tersentak, bahunya menegang saat ia mengenali suara berat Pak RT yang datang untuk menagih sisa sewa bulan ini. Ia tidak punya uang lagi, karena sebagian besar tabungannya habis digunakan untuk biaya pengiriman jenazah Danu minggu lalu.

"Beni! Aku tahu kamu di dalam, jangan pura-pura tuli seperti biasanya!" teriak pria di balik pintu itu dengan nada tidak sabar. Beni hanya diam membeku di lantai, memeluk kemeja batik itu erat-erat ke dadanya sambil memejamkan mata rapat-rapat. Ia merasa seperti terperangkap dalam sebuah labirin tanpa pintu keluar, di mana setiap jalan hanya membawanya pada kehilangan.

Kesalahpahaman dengan mendiang Danu di hari-hari terakhirnya kembali menghantui pikiran Beni seperti hantu yang kelaparan. Ia pernah menuduh Danu terlalu malas bekerja, tanpa menyadari bahwa sahabatnya itu sedang berjuang melawan infeksi paru-paru yang mematikan. Kata-kata kasar yang sempat ia lontarkan kini terasa seperti belati yang tertancap permanen di dalam hatinya sendiri.

Ia berdiri dengan kaki gemetar, lalu berjalan menuju jendela kecil yang menghadap ke arah hutan lebat di belakang rumah. Di sana, ia melihat bayangan dirinya sendiri di kaca yang kusam, tampak jauh lebih tua dan rapuh dari usia sebenarnya. Tanah rantau ini telah mengambil segalanya dari mereka, mulai dari kesehatan, keceriaan, hingga nyawa yang paling berharga.

Beni kemudian mengambil sebuah korek api dari saku celananya, menatap nyala api kecil itu dengan pandangan yang kosong dan datar. Ia berpikir, mungkin jika ia membakar semua kenangan ini, ia bisa bebas dari beban yang menghimpit pundaknya setiap hari. Namun, api itu padam sebelum sempat menyentuh ujung kain, tertiup oleh angin kencang yang masuk lewat celah dinding.

Ia jatuh terduduk kembali, menyadari bahwa ia tidak akan pernah benar-benar bisa pulang meski fisiknya nanti berhasil kembali ke kota asal. Jiwanya telah tertinggal di sini, terkunci bersama tawa dan tangis yang pernah mereka bagi di bawah atap yang bocor ini. Danu sudah pulang sebagai jasad, sementara Beni tetap tinggal di sini sebagai bayang-bayang yang perlahan memudar.

Suara gedoran di pintu berhenti, digantikan oleh kesunyian yang jauh lebih menakutkan daripada kemarahan Pak RT tadi. Beni menatap kemeja di tangannya sekali lagi, lalu perlahan melipatnya dengan sangat rapi seolah itu adalah benda paling suci di dunia. Ia memutuskan untuk menyimpan baju itu di dalam tasnya sendiri, sebagai pengingat akan janji yang gagal mereka tepati.

Lihat selengkapnya