Rumah di Tanah Rantau

Bilsyah Ifaq
Chapter #5

Lantai yang Menyimpan Rahasia

Aroma kayu lapuk dan sisa obat-obatan yang menyengat menyambut langkah Aris saat ia perlahan membuka pintu kamar Satria. Di sudut ruangan, tumpukan berkas mutasi yang sudah menguning menjadi saksi bisu dari ambisi yang perlahan padam oleh kenyataan pahit di tanah rantau ini. Aris mengusap debu di atas meja kerja kayu yang permukaannya sudah mulai terkelupas, merasakan tekstur kasar yang seolah menceritakan perjuangan mereka bertiga selama bertahun-tahun di pelosok yang sunyi.

Satria selalu punya kebiasaan mengetuk-ngetukkan jemarinya ke meja dengan irama tiga ketukan cepat setiap kali ia merasa cemas atau sedang memikirkan kampung halaman. "Tenang saja, Ris, tiket pulang itu bukan cuma kertas, itu nyawa kita," ucapnya kala itu dengan suara serak yang selalu diakhiri dengan tawa kecil yang dipaksakan. Keputusan Satria untuk selalu mendahulukan jatah mutasi teman-temannya adalah bias yang tak pernah Aris pahami, sebuah pengorbanan yang kini terasa seperti luka yang menganga lebar.

Di bawah ranjang yang berderit, Aris menemukan sebuah kotak besi berkarat yang berisi botol-botol pil tanpa label dan catatan medis yang disembunyikan rapat-rapat selama ini.

Jemarinya gemetar saat membaca hasil laboratorium yang menunjukkan bahwa paru-paru Satria sudah menyerah jauh sebelum mereka merayakan perpisahan teman pertama mereka yang berhasil pindah. Kebenaran ini menghantam Aris lebih keras daripada dinginnya malam di pegunungan, mengungkapkan rahasia kesehatan yang selama ini dikunci rapat di balik senyum tegar Satria.

Ketegangan memuncak ketika Aris menyadari bahwa surat mutasi Satria sebenarnya sudah terbit sebulan yang lalu, namun sahabatnya itu memilih untuk menyembunyikannya agar tidak merusak suasana syukur di rumah kontrakan mereka. "Kenapa kau lakukan ini, Sat? Kau bilang kita akan pulang bersama sebagai pemenang, bukan sebagai kenangan!" teriak Aris di tengah keheningan kamar yang kosong, sementara suaranya hanya memantul pada dinding-dinding kayu yang bisu dan dingin.

Puncak pengkhianatan terhadap diri sendiri itu terungkap saat Aris menemukan surat wasiat yang ditulis dengan tangan gemetar di balik foto keluarga mereka bertiga di depan rumah. Satria ternyata sengaja memalsukan tanda tangan persetujuan keberangkatan Aris agar Aris bisa pergi lebih dulu, meskipun itu berarti Satria harus menghadapi maut sendirian di tanah orang. Pengungkapan ini mengubah segala rasa rindu menjadi penyesalan yang tak berujung, karena tiket pulang yang kini dipegang Aris terasa sangat berat dan berlumuran air mata.

Kini, Aris berdiri di dermaga, menatap peti kayu yang sedang dinaikkan ke atas kapal dengan pengawasan ketat petugas kargo yang tampak tidak peduli. Impian untuk pulang bersama sebagai keluarga yang utuh telah hancur, digantikan oleh kenyataan bahwa Satria memang akhirnya mutasi ke kampung halamannya, namun dalam bentuk jasad yang kaku. Angin laut yang kencang menerpa wajah Aris, membawa terbang sisa-sisa harapan yang selama ini mereka pupuk bersama di rumah kontrakan kecil yang kini terasa sangat asing.

Saat kapal mulai menjauh dari bibir pantai, Aris merogoh saku jaketnya dan menemukan kunci rumah kontrakan yang masih ia simpan dengan erat sebagai kenang-kenangan terakhir. Ia tahu bahwa perjalanan pulang ini bukanlah sebuah kemenangan, melainkan sebuah pelarian dari rasa bersalah yang akan menghantuinya sepanjang sisa hidupnya di daerah asal. Di tengah gemuruh mesin kapal, Aris hanya bisa menunduk lesu sambil membayangkan wajah Satria yang tersenyum tenang, seolah-olah kematian adalah satu-satunya cara baginya untuk benar-benar bebas dari beban tugas di tanah rantau.

Ujung sapu lidi itu tersangkut pada rekahan lantai kayu yang melapuk di dekat dipan kayu jati milik Aris. Beni berlutut, jemarinya yang kasar meraba permukaan papan yang menyisakan goresan-goresan panjang, seolah-olah ada benda berat yang dipaksakan bergeser setiap malam. Bau minyak kayu putih yang mulai menguap dan debu tipis di sudut kamar itu seakan membisikkan rahasia yang selama ini tersimpan rapat di balik dinding rumah kontrakan mereka di pelosok ini.

Tampaknya mendiang kawan mereka itu sering menyeret tubuhnya sendiri yang kian ringkih menuju jendela kayu yang macet saat sesak napas menyerang di tengah malam buta. Aris melakukannya tanpa suara, tanpa erangan, demi memastikan tidur Beni dan Danu tetap lelap setelah seharian memeras keringat di ladang penugasan. Kenyataan pahit ini menghantam dada Beni dengan telak, membuktikan betapa kerasnya usaha Aris menjaga ketenangan tidur kawan-kawannya hingga napas terakhirnya sendiri.

Beni menarik napas panjang, namun udara di kamar itu terasa berat seolah-olah paru-parunya menolak oksigen yang tersedia. Dia teringat bagaimana Aris selalu menjadi orang pertama yang menyeduh kopi di pagi hari, menyembunyikan wajah pucatnya di balik uap hitam yang mengepul dari cangkir kaleng. "Jangan terlalu dipikirkan, Ben, ini cuma batuk musiman karena debu jalanan," ucap Aris kala itu dengan suara serak yang kini terngiang kembali sebagai sebuah kebohongan yang sangat menyakitkan.

Danu berdiri di ambang pintu, memandangi Beni yang masih terpaku di lantai dengan bahu yang bergetar hebat. Mereka bertiga telah berjanji untuk pulang bersama ke tanah Jawa, membawa surat mutasi sebagai tiket kemenangan setelah tahun-tahun yang melelahkan di tanah rantau ini. Namun, amplop cokelat berisi surat mutasi milik Aris yang baru tiba pagi tadi kini hanya tergeletak tidak berdaya di atas meja makan, menjadi selembar kertas tanpa tuan yang datang terlambat.

Kesalahpahaman itu bermula ketika Beni sempat menuduh Aris sengaja bermalas-malasan saat mereka harus menyelesaikan laporan akhir bulan di kantor distrik. Beni mengingat betapa tajam ucapannya waktu itu, mengkritik gerakan Aris yang lamban tanpa menyadari bahwa setiap inci gerakan kawannya adalah sebuah perjuangan melawan rasa sakit yang menusuk dada. Kini, penyesalan itu berubah menjadi duri yang menancap dalam di kerongkongannya, membuatnya sulit untuk sekadar mengucapkan kata maaf pada udara kosong.

Mungkin dia memang sudah tahu bahwa waktunya tidak akan lama lagi, namun dia memilih untuk tetap menjadi tiang penyangga bagi kami berdua di rumah ini.

Di sudut ruangan, sebuah koper usang milik Aris sudah rapi terikat tali rafia, siap untuk diangkut menuju pelabuhan seolah sang pemilik sudah memprediksi kepulangannya. Beni membuka koper itu dengan tangan gemetar dan menemukan tumpukan oleh-oleh sederhana untuk keluarga Aris di kampung: kain tenun lokal dan beberapa botol madu hutan. Tidak ada satu pun barang mewah untuk dirinya sendiri, semua yang dikumpulkan Aris selama merantau hanyalah untuk menyenangkan orang-orang yang menunggunya di rumah.

Suasana rumah kontrakan yang biasanya riuh dengan gelak tawa dan perdebatan kecil tentang siapa yang harus mencuci piring kini berubah menjadi makam yang sunyi. Danu mendekat, lalu meletakkan tangannya di bahu Beni, mencoba menyalurkan kekuatan yang dia sendiri pun tidak memilikinya saat itu. Mereka sadar bahwa persaudaraan yang mereka jalin di tanah asing ini jauh lebih kental daripada darah, namun perpisahan ini terasa seperti pengkhianatan oleh takdir yang tidak adil.

Malam kian larut, dan suara jangkrik di luar sana terdengar seperti elegi panjang bagi jiwa yang akhirnya menyerah pada kelelahan yang luar biasa. Beni terus menatap rekahan lantai itu, membayangkan Aris yang terengah-engah mencari udara di jendela sambil menatap bintang-bintang, merindukan rumah yang tak akan pernah dia injak lagi dengan kaki sendiri. Harapan untuk pulang bersama kini telah hancur, menyisakan dua orang yang harus mengantar satu peti mati menuju dermaga keberangkatan besok pagi.

Tiba-tiba, Danu menemukan sebuah catatan kecil yang terselip di balik bingkai foto kebersamaan mereka bertiga yang dipajang di ruang tamu. Di sana tertulis dengan tulisan tangan Aris yang miring dan lemah: "Jika aku pergi lebih dulu, tolong jangan biarkan ibuku tahu bahwa aku sering kesepian di sini." Kalimat itu meruntuhkan pertahanan terakhir Beni, membuatnya tersungkur di lantai kayu yang dingin sambil mendekap baju kerja Aris yang masih beraroma keringat dan tanah.

Rencana mutasi yang mereka idam-idamkan selama tiga tahun terakhir kini terasa seperti kutukan yang datang untuk menjemput nyawa, bukan memberikan kebebasan. Beni teringat betapa Aris selalu tersenyum saat mereka membahas tentang warung soto langganan di kota asal yang ingin mereka kunjungi segera setelah mendarat. Sekarang, soto itu akan terasa hambar, dan kursi di warung itu akan menyisakan satu ruang kosong yang selamanya akan menghantui ingatan Beni dan Danu.

Pagi harinya, ambulans desa datang menjemput jasad Aris untuk dibawa menuju pelabuhan besar yang berjarak enam jam perjalanan dari sana. Penduduk desa berdiri di sepanjang jalan, memberikan penghormatan terakhir bagi pemuda perantau yang dikenal ringan tangan meski tubuhnya sendiri sering kali mengkhianatinya. Beni memegang erat nisan kayu yang sudah disiapkan, matanya nanar menatap jalanan berdebu yang dulu sering mereka lalui bersama saat berangkat menuju kantor dengan penuh semangat.

Saat peti jenazah mulai dinaikkan ke atas kapal, Beni menyadari sebuah kebenaran yang lebih pahit daripada kematian itu sendiri: Aris memang akhirnya bermutasi kembali ke kampung halamannya. Namun, dia kembali bukan sebagai pemenang yang membawa cerita sukses, melainkan sebagai jasad dingin yang terbungkus kain kafan di dalam kotak kayu sempit. Impian tentang kepulangan yang indah telah berubah menjadi perjalanan terakhir yang paling sunyi di bawah langit senja yang memerah padam.

Beni berdiri di tepi dermaga, menyaksikan kapal perlahan menjauh meninggalkan buih putih di permukaan laut yang tenang namun menyimpan duka mendalam. Dia meraba saku kemejanya, merasakan surat mutasi miliknya sendiri yang baru saja dia remas hingga hancur sebagai bentuk protes pada semesta. Dia memutuskan untuk tetap tinggal di tanah rantau ini sedikit lebih lama, menjaga rumah kontrakan mereka sampai rasa bersalahnya mereda dan bayangan Aris di jendela tidak lagi menyakitinya.

Kapal itu menghilang di cakrawala, membawa pergi separuh dari jiwa persaudaraan yang pernah tumbuh subur di rumah kecil di pelosok tanah rantau. Beni berbalik arah, berjalan gontai menuju rumah yang kini terasa terlalu luas untuk dihuni oleh dua orang yang hatinya telah patah berkeping-keping. Di kejauhan, suara ombak seolah memanggil nama mereka, mengingatkan bahwa di tanah ini, mereka pernah memiliki keluarga yang rela mati dalam diam demi sebuah ketenangan.

Langit di atas atap seng kontrakan mereka mulai meredup, menyisakan warna jingga yang memudar menjadi abu-abu. Di dalam dapur yang sempit, Beni masih terdiam di depan wastafel tua yang terus meneteskan air. Tangannya yang kasar karena udara dingin pegunungan meraba-raba area gelap di balik pipa pembuangan yang berkarat. Jemarinya tiba-tiba menyentuh permukaan benda keras yang tidak seharusnya ada di sana, sebuah botol plastik kecil yang terasa kusam dan berdebu.

Dengan gerakan perlahan, ia menarik benda itu keluar dari persembunyiannya. Cahaya lampu neon yang berkedip-kedip di langit-langit dapur menyinari botol tanpa label tersebut. Di dalamnya, puluhan pil berwarna merah bata bergulir pelan, mengeluarkan bunyi gemeretak yang garing. Tidak ada instruksi dokter, tidak ada nama pasien, hanya aroma kimia tajam yang menusuk hidung saat Beni membuka tutupnya sedikit untuk memastikan isinya.

Beni menarik napas panjang, membiarkan udara lembap tanah rantau memenuhi paru-parunya yang sesak. Ia teringat bagaimana Aris, teman sekamarnya, seringkali memegang dadanya sambil terbatuk kecil saat mereka sedang makan malam bersama. Aris selalu berkilah bahwa itu hanyalah efek debu jalanan atau perubahan cuaca yang ekstrem di pelosok ini. Ternyata, di balik tawa renyah dan semangat untuk segera mutasi, ada rahasia pahit yang sengaja disembunyikan rapat-rapat.

Suasana rumah terasa sangat sunyi, hanya ada suara jangkrik yang mulai bersahutan di luar dinding kayu yang mulai melapuk. Beni menyadari bahwa selama ini mereka bertiga hidup dalam ilusi kebersamaan yang tanpa beban, padahal salah satu dari mereka sedang bertaruh nyawa. Aris tidak pernah ingin terlihat lemah, ia selalu menjadi orang pertama yang menghibur saat Beni atau Danu merasa rindu pada rumah di kampung halaman yang jaraknya ribuan kilometer.

Pikiran Beni melayang pada percakapan mereka seminggu yang lalu tentang rencana kepulangan yang agung. Aris dengan mata berbinar menceritakan bagaimana ia ingin membelikan ibunya kain sutra baru dari hasil rapelan gaji mereka sebagai pegawai di daerah terpencil. Namun, botol di tangan Beni sekarang seolah menjadi bukti bisu bahwa mimpi itu mungkin hanya akan menjadi angan-angan yang terkubur bersama tubuh yang kian merapuh setiap harinya.

Tiba-tiba pintu depan berderit terbuka, menandakan Danu baru saja kembali dari kantor dinas dengan membawa bungkusan makanan. Beni dengan sigap menyembunyikan botol itu kembali ke balik pipa, tidak ingin merusak suasana malam yang seharusnya tenang. Ia membasuh tangannya dengan air dingin yang mengalir deras, berusaha menghapus jejak kecemasan yang mendalam dari wajahnya sebelum melangkah keluar menemui sahabat-sahabatnya itu.

Saat mereka duduk melingkar di atas tikar pandan, Beni memperhatikan Aris yang tampak lebih pucat dari biasanya di bawah cahaya lampu yang temaram. Ada rasa bersalah yang menghimpit dada Beni karena ia kini mengetahui kebenaran yang tidak sanggup ia bicarakan secara terbuka. Ia hanya bisa menatap punggung Aris yang bergetar saat batuk itu datang lagi, menyadari bahwa perpisahan yang sesungguhnya mungkin bukan karena surat mutasi yang mereka nantikan.

Lampu neon di ruang tamu berkedip-kedip, menciptakan bayangan panjang yang menari di atas lantai semen yang lembap. Beni berlutut, jemarinya yang kasar mencengkeram kain lap kumal yang sudah berubah warna menjadi abu-abu pekat. Di bawah meja makan kayu yang reyot, terdapat bercak kecokelatan yang membandel, sisa-sisa kesakitan yang selama ini disembunyikan dengan rapi di balik tawa palsu dan uap mi instan yang panas.

Setiap gesekan kain itu menimbulkan suara decit yang memilukan di telinga Beni, seolah-olah lantai itu sendiri sedang menjeritkan rahasia yang terkubur. Ia teringat bagaimana Aris selalu duduk di sudut itu, memegang dadanya sambil berseloroh tentang betapa pedasnya bumbu mi yang mereka santap. "Cuma tersedak, Ben, cabainya masuk ke tenggorokan salah jalur," ucap Aris kala itu dengan suara serak yang kini terdengar seperti lonceng kematian.

Beni menggosok lebih kuat, hingga sendi-sendi jarinya memutih dan memprotes karena tekanan yang berlebihan. Ia mencoba menghapus noda itu seolah-olah dengan hilangnya warna cokelat tersebut, ia bisa menghapus kenyataan pahit yang baru saja menghantam mereka. Namun, noda itu tetap di sana, meresap ke dalam pori-pori semen yang haus, persis seperti penyakit Aris yang diam-diam menggerogoti nyawanya tanpa pernah memberi peringatan.

Di sudut lain ruangan, Danu sedang sibuk memasukkan pakaian-pakaian ke dalam kardus dengan gerakan yang kasar dan penuh emosi. Suara lakban yang ditarik paksa terdengar seperti sobekan kain yang memekakkan telinga dalam kesunyian rumah kontrakan mereka. Danu tidak menoleh, punggungnya menegang, dan napasnya terdengar berat, menahan beban amarah yang sebentar lagi akan meledak ke permukaan tanpa bisa dibendung lagi.

"Kau tahu, kan? Kau pasti tahu dia sakit separah itu, Beni!" teriak Danu tiba-tiba, memecah keheningan dengan suara yang bergetar hebat. Ia melemparkan segulung lakban ke arah dinding hingga memantul dan jatuh tepat di samping kaki Beni. Matanya merah, bukan hanya karena kurang tidur selama mengurus jenazah, tetapi karena pengkhianatan yang ia rasakan mengendap di balik dinding-dinding rumah yang mereka sebut pelindung ini.

Beni berhenti menggosok, namun ia tetap menunduk, tidak berani menatap sorot mata Danu yang penuh tuduhan. Tangannya yang masih memegang kain basah mulai gemetar, dan tetesan air mata pertamanya jatuh, membasahi kembali bercak cokelat yang baru saja hampir mengering. Ia memang tahu, ia melihat Aris memuntahkan cairan gelap itu sebulan yang lalu, tetapi janji untuk tetap bersama demi impian mutasi telah membungkam mulutnya.

"Kita sepakat untuk pulang bersama, Danu. Aris tidak mau mutasinya dibatalkan hanya karena dia dianggap tidak layak secara fisik," bisik Beni dengan suara yang nyaris hilang ditelan angin malam. Ia mengingat ritual Aris setiap pagi, yaitu menelan segenggam pil pahit dengan kopi kental agar tidak ada yang curiga. Pilihan untuk bungkam adalah bias keputusan Beni yang selalu mengutamakan harmoni kelompok di atas segalanya.

Danu melangkah maju, kakinya menghentak lantai semen dengan keras, menciptakan gema yang tidak menyenangkan di ruangan yang sempit itu. Ia mencengkeram kerah baju Beni, memaksa pria itu untuk berdiri dan menghadapi kehancuran yang telah mereka buat bersama. Bau keringat dan keputusasaan menguar di antara mereka, menyesakkan paru-paru lebih hebat daripada debu di tanah rantau yang selama ini mereka keluhkan setiap hari.

Lihat selengkapnya