Rumah di Tanah Rantau

Bilsyah Ifaq
Chapter #7

Langkah yang Tak Lagi Sama

Lantai semen yang lembap di ruang tengah kontrakan itu terasa lebih dingin dari biasanya bagi Aris. Ia memutar-mutar korek api di sela jemarinya, sebuah kebiasaan lama yang selalu muncul setiap kali pikirannya buntu. Suara jangkrik dari balik dinding papan yang lapuk seolah menertawakan kesunyian yang kini merajai rumah mereka, tempat yang dulu selalu bising dengan tawa dan keluhan tentang pekerjaan kantor yang tak kunjung usai.

"Pokoknya, kalau nanti aku sudah mutasi ke Jawa, jangan ada yang berani rindu masakan hambar ini," ucap Satria dua bulan lalu sambil mengaduk mi instan di panci yang sama. Aris mengenang ucapan itu dengan senyum getir yang tertahan di sudut bibir. Kini, Satria benar-benar sudah pergi, menyisakan tumpukan kardus kosong dan aroma minyak kayu putih yang masih samar tertinggal di sudut kamar yang kini tak berpenghuni.

Aris bangkit berdiri, melangkah menuju dapur untuk mengambil segelas air, namun langkahnya terhenti di depan pintu kamar Gani. Pintu itu sedikit terbuka, memperlihatkan tumpukan map laporan yang berdebu dan sebuah tas ransel yang belum sempat dikemas. Gani, yang selalu berkata bahwa pulang adalah hadiah setelah pengabdian panjang, kini hanya bisa terbaring kaku di dalam peti kayu yang sedang dipersiapkan di balai desa.

"Kita semua akan pulang, Ris, cuma jalurnya saja yang beda-beda," bisik Gani minggu lalu saat demamnya mulai meninggi dan nafasnya memberat. Aris meremas pinggiran pintu hingga buku jarinya memutih, teringat bagaimana ia sempat mengira Gani hanya berpura-pura sakit agar bisa menghindari tugas lapangan yang berat. Penyesalan itu menghujam jantungnya lebih tajam daripada rasa sepi yang mulai merayap di setiap sudut ruangan.

Kini, hanya Aris yang tersisa di rumah kontrakan yang mereka sebut sebagai istana para perantau ini. Ia memandangi tiga buah cangkir kopi yang berjajar di rak kayu, salah satunya retak di bagian gagang namun tetap disimpan karena itu milik Gani. Aris menyadari bahwa impian mereka untuk pulang bersama-sama telah hancur berkeping-keping, meninggalkan dirinya sebagai saksi bisu atas janji-janji yang kini menguap bersama udara malam yang menyesakkan.

Suara mobil jenazah yang perlahan memasuki halaman depan membuat Aris tersentak dari lamunannya yang kelam. Ia berjalan menuju pintu depan dengan langkah berat, menyadari bahwa kepulangan Gani malam ini bukanlah kepulangan yang mereka bicarakan sambil memandangi bintang-bintang di teras rumah. Gani akhirnya mendapatkan surat mutasinya, namun surat itu tertulis dalam bentuk akta kematian yang akan membawanya kembali ke tanah kelahiran sebagai jasad tak bernyawa.

Saat Aris membantu mengangkat peti itu ke dalam mobil, ia melihat sebuah amplop cokelat terjatuh dari saku jaket Gani yang tersampir di kursi depan. Di dalamnya terdapat tiket pesawat yang sudah dipesan jauh-jauh hari, sebuah kejutan yang gagal disampaikan untuk merayakan kepulangan mereka bertiga. Aris menutup pintu mobil dengan tangan gemetar, menyadari bahwa di tanah rantau ini, satu-satunya hal yang pasti bukanlah keberhasilan, melainkan perpisahan yang datang tanpa permisi.

Jemari Aris mengusap kaca kusam yang membungkus potret mereka bertiga di depan kantor lama. Lapisan abu tipis itu seolah mencoba menghapus senyum Danu yang paling lebar di antara mereka. Aris ingin menyimpannya ke dalam tas, namun ragu apakah kenangan ini akan terasa lebih berat saat dibawa menyeberangi lautan menuju kota asalnya nanti.

Angin senja di pelosok ini membawa aroma tanah basah yang selalu mengingatkannya pada hari pertama mereka menginjakkan kaki di sini. Rumah kontrakan berdinding papan itu masih berdiri kokoh, meski kini terasa jauh lebih luas dan sunyi sejak kepergian teman-temannya. Aris mengetuk-ngetukkan jemarinya ke meja kayu, sebuah kebiasaan lama saat pikirannya sedang beradu dengan keraguan yang menyesakkan dada.

"Yah, begitulah garis hidup, Ris. Kita datang bertiga, tapi pulang satu-satu dengan cara yang beda," gumam Aris pelan, suaranya serak tertelan sunyi. Ia selalu punya cara bicara yang sedikit berjarak, seolah sedang mengomentari nasib orang lain padahal hatinya sendiri sedang hancur lebur. Matanya beralih ke sudut ruangan tempat tumpukan kardus berisi barang-barang milik almarhum Danu masih tertata rapi.

Keputusan Aris untuk tidak segera mengepak barang-barang itu adalah bentuk bias emosionalnya yang sulit dipahami orang lain. Ia lebih memilih membiarkan debu menumpuk daripada harus mengakui bahwa sahabatnya tidak akan pernah lagi menyeduh kopi di dapur sempit itu. Baginya, menyentuh barang milik orang mati terasa seperti mencuri sisa-sisa keberadaan mereka yang masih tertinggal di udara lembap rumah ini.

Tiba-tiba, pintu depan berderit terbuka, menampakkan sosok pria berseragam dinas yang membawa amplop cokelat besar. Itu adalah surat mutasi yang selama ini Aris mimpikan, selembar kertas yang seharusnya menjadi tiket emas menuju pelukan ibunya di kampung halaman. Namun, saat melihat stempel resmi di atas kertas itu, Aris justru merasakan mual yang hebat di ulu hatinya.

"Selamat, Pak Aris. Akhirnya giliran Anda yang pulang," ucap petugas itu dengan nada datar yang terasa seperti ejekan di telinga Aris. Aris hanya mengangguk kaku, tidak ada binar bahagia di matanya yang biasanya tajam. Ia justru merasa seperti seorang pengkhianat yang meninggalkan medan perang saat kawan seperjuangannya masih terkubur di tanah yang asing ini.

Ketegangan memuncak saat Aris mulai memasukkan pakaiannya ke dalam koper besar secara serampangan. Ia menarik ritsleting dengan kasar hingga jemarinya tergores pinggiran logam yang tajam, meninggalkan noda merah kecil di atas kain putih. Rasa perih itu tidak sebanding dengan beban rasa bersalah yang terus menghantuinya sejak malam Danu mengembuskan napas terakhir di pangkuannya.

Kesalahpahaman yang selama ini ia pendam mengenai surat kepindahan Danu tiba-tiba menyeruak kembali. Ia teringat bagaimana ia sempat menuduh Danu sengaja menahan proses mutasinya agar mereka bisa tetap tinggal bersama di pelosok ini lebih lama. Kenyataannya, Danu justru sedang berjuang menyembunyikan sakit parahnya agar Aris tidak merasa terbebani dan bisa fokus pada pekerjaannya sendiri.

Seharusnya aku yang tahu lebih awal, bukan malah mencurigai ketulusannya yang paling murni itu.

Aris berdiri di ambang pintu, menatap bayangan dirinya di cermin retak yang tergantung di ruang tamu. Ia menyadari bahwa kepulangannya kali ini adalah sebuah kekalahan telak, sebuah pengingat bahwa impian mereka untuk pulang bersama-sama telah hancur berkeping-keping. Ia bukan lagi Aris yang penuh ambisi, melainkan seorang pria yang membawa beban duka sedalam samudera yang akan ia seberangi.

Puncak kehancuran emosinya terjadi saat ia menemukan sebuah surat kecil yang terselip di balik bingkai foto yang tadi ia usap. Surat itu ditulis dengan tulisan tangan Danu yang cakar ayam, berisi permohonan maaf karena ia mungkin akan "mutasi lebih dulu" ke tempat yang tidak bisa dijangkau oleh surat dinas mana pun. Aris meremas kertas itu hingga buku-buku jarinya memutih, menyadari betapa kejamnya takdir mempermainkan harapan mereka.

Langkah kaki Aris terasa berat saat ia menyeret kopernya keluar dari rumah yang telah menjadi saksi bisu persaudaraan mereka. Di depan gerbang, sebuah mobil jenazah yang akan membawa peti Danu sudah menunggu untuk beriringan menuju pelabuhan. Aris berhenti sejenak, menatap rumah itu untuk terakhir kalinya, lalu menyadari bahwa ia tidak benar-benar pulang sendirian; ia pulang membawa jasad sahabatnya dalam sebuah perpisahan yang paling pahit sepanjang hidupnya.

Suara gesekan sandal jepit Beni di atas lantai semen yang lembap menjadi satu-satunya melodi di dapur sempit itu. Ia berdiri mematung di depan meja kayu yang permukaannya sudah mulai lapuk dimakan usia dan rayap tanah daerah pelosok ini. Tangannya yang kasar karena terlalu sering membelah kayu bakar kini gemetar saat meraih sebuah gelas plastik berwarna hijau lumut yang kusam.

Beni mengusap retakan kecil di bibir gelas itu dengan ibu jarinya, sebuah ritual kecil yang selalu ia lakukan saat pikirannya sedang kalut. Gelas itu bukan miliknya, melainkan milik kawan mereka yang kini sudah terbujur kaku di dalam peti kayu di ruang tengah. "Kita tidak bisa terus begini, Ris," suara Beni memecah kesunyian dapur, terdengar parau seperti ada kerikil yang menyumbat tenggorokannya.

Aris yang sedari tadi bersandar di pintu dapur hanya bisa menatap ujung sepatunya yang kotor terkena lumpur merah sisa hujan semalam. Ia tidak berani menatap mata Beni, apalagi menatap gelas hijau yang kini seolah menjadi monumen duka di tangan sahabatnya itu. Udara di dapur terasa berat, bercampur dengan aroma kopi tubruk yang sudah mendingin dan bau tanah basah yang menyeruak masuk dari celah dinding papan.

"Maksudmu apa, Ben? Kita sudah sepakat untuk bertahan sampai surat mutasi itu turun, kan?" Aris akhirnya bersuara, meski nadanya terdengar sangat rapuh dan tidak yakin. Ia mengatur napasnya yang mulai memburu, mencoba menahan sesak yang menghimpit dadanya sejak kabar kematian kawan mereka datang pagi tadi. Ketidakpastian di tanah rantau ini mendadak terasa jauh lebih mencekam daripada sebelumnya.

Beni tidak langsung menjawab, ia justru meletakkan gelas plastik itu kembali ke atas meja dengan gerakan yang sangat perlahan, seolah benda itu terbuat dari kaca kristal yang paling mahal di dunia. "Lihat gelas ini, Ris. Benda mati saja bisa rusak kalau dipaksa bertahan di tempat yang keras seperti ini, apalagi nyawa kita," ucap Beni sambil menatap kosong ke arah deretan piring seng yang tertata rapi.

Ia selalu punya kecenderungan untuk membandingkan nasib manusia dengan benda-benda di sekitarnya, sebuah bias keputusan yang membuatnya sering terlihat pesimis di mata kawan-kawannya. Baginya, bertahan di pelosok ini bukan lagi soal pengabdian atau mencari nafkah, melainkan sebuah pertaruhan nyawa yang taruhannya terlalu besar. Ia merasa mereka bertiga telah dikhianati oleh janji-janji manis tentang kepulangan.

Aris melangkah mendekat, lalu menepuk bahu Beni dengan sisa-sisa kekuatan yang ia miliki, mencoba memberikan dukungan moral yang sebenarnya ia sendiri butuhkan. "Kita sudah seperti keluarga, Ben. Kau ingat saat kita harus berbagi satu butir telur untuk makan bertiga? Kita melewati itu semua bersama-sama," bisik Aris dengan suara yang bergetar hebat karena menahan tangis yang hampir pecah.

Namun, Beni justru menepis tangan Aris dengan gerakan kasar yang mengejutkan, membuat piring-piring seng di rak berdenting nyaring karena guncangan meja. "Keluarga? Keluarga macam apa yang membiarkan salah satu anggotanya membusuk di tanah orang karena birokrasi sialan itu!" teriak Beni dengan mata yang mulai memerah, meluapkan amarah yang selama ini ia pendam dalam-dalam di balik diamnya.

Napas Beni memburu, dadanya naik turun dengan cepat saat ia menatap Aris dengan pandangan yang penuh dengan luka dan kekecewaan yang sangat mendalam. "Dia sakit selama berminggu-minggu, Ris! Dan kita hanya bisa menontonnya sambil memegang surat permohonan mutasi yang tidak pernah dibalas oleh orang-orang di kota sana!" Beni memukul permukaan meja kayu itu hingga debu-debu halus berterbangan di udara.

Aris terdiam, menyadari bahwa kemarahan Beni adalah cerminan dari rasa bersalah yang mereka tanggung bersama karena tidak bisa berbuat banyak untuk menolong kawan mereka. Kesalahpahaman tentang siapa yang lebih pantas mendapatkan mutasi pertama kali sempat membuat hubungan mereka merenggang bulan lalu. Kini, persaingan itu terasa sangat konyol dan tidak berarti di hadapan maut yang telah menjemput salah satu dari mereka.

Suasana kembali hening, namun kali ini keheningan itu terasa lebih mencekik daripada saat mereka berdua baru saja masuk ke dapur tadi. Beni kembali meraih gelas hijau itu, lalu dengan satu gerakan cepat, ia melemparkannya ke lantai hingga gelas itu terpental dan berguling ke sudut ruangan yang gelap. "Dia pulang, Ris. Akhirnya dia mutasi juga, tapi dalam bentuk jasad yang tidak bernyawa lagi," gumam Beni lirih.

Aris hanya bisa terpaku melihat gelas itu tergeletak di pojok dapur, menyadari bahwa impian mereka untuk pulang bersama-sama telah hancur berkeping-keping. Pengkhianatan terbesar ternyata bukan berasal dari atasan mereka, melainkan dari harapan mereka sendiri yang terlalu tinggi akan keadilan di tanah rantau ini. Mereka kini hanya tinggal berdua, terjebak dalam penantian yang mungkin tidak akan pernah menemukan jalan keluar.

Tiba-tiba, suara ketukan pintu depan terdengar sangat keras, membuyarkan duka yang menyelimuti mereka berdua di dapur yang remang-remang itu. Aris dan Beni saling berpandangan dengan raut wajah yang penuh dengan kecurigaan dan rasa takut yang mendalam. Di tangan orang yang mengetuk pintu itu, terselip sebuah amplop cokelat dengan stempel resmi yang akan mengubah segalanya menjadi jauh lebih pahit dari perkiraan mereka.

Lampu jalan yang berkedip-kedip memberikan ilusi optik saat Aris berjalan pulang sendirian sore itu. Ia sempat berhenti, merasa melihat punggung ringkih Danu sedang berjalan menuju arah berlawanan dengan tas kerja yang miring ke kiri. Namun, saat ia mendekat, hanya ada semak belukar yang bergoyang ditiup angin kencang dari arah perbukitan yang membawa aroma tanah basah dan sisa pembakaran sampah dari kejauhan.

Aris mengeratkan pegangan pada tali tasnya yang mulai terasa berat, sebuah kebiasaan kecil yang selalu ia lakukan setiap kali rasa cemas mulai merayapi tengkuknya. Ia menatap ke arah rumah kontrakan mereka yang berdiri kaku di ujung jalan setapak, tempat yang dulu selalu riuh dengan candaan Satria dan keluhan Danu tentang pekerjaan. Kini, rumah itu nampak seperti kotak kayu kosong yang tenggelam dalam kabut tipis dan bayang-bayang pohon jati yang menjulang tinggi.

"Pokoknya, kalau urusan mutasi ini beres, kita semua harus makan besar di kota," gumam Aris menirukan suara berat Satria yang kini sudah kembali ke kampung halamannya. Kalimat itu adalah mantra yang selalu mereka rapalkan setiap malam saat mereka makan mi instan di atas hamparan koran bekas. Namun, gema suaranya sendiri justru terdengar asing di telinga, seolah-olah dinding-dinding lembap di sekitarnya sedang menertawakan kesendirian yang kini ia tanggung.

Setibanya di depan pintu kayu yang sudah lapuk, Aris tidak langsung memutar kunci, melainkan mengetuk permukaan kayu itu tiga kali dengan ritme yang ganjil. Itu adalah kode rahasia mereka bertiga untuk memastikan bahwa yang datang bukanlah penagih iuran lingkungan atau tamu tak diundang. Kebiasaan ini tetap ia pelihara meski ia tahu betul bahwa tidak akan ada lagi suara langkah kaki yang terburu-buru dari dalam untuk menyambutnya dengan tawa.

Langkah Aris terhenti tepat di depan kamar Danu yang pintunya sedikit terbuka, menampakkan tumpukan buku tua dan botol obat yang masih berjejer rapi di atas meja kayu. Udara di dalam ruangan itu terasa lebih dingin dan berbau apek, bercampur dengan aroma minyak kayu putih yang tajam. Ia ingat bagaimana Danu selalu bersikeras bahwa batuknya hanya karena debu kantor, padahal wajahnya kian hari kian pucat pasi seperti kertas usang.

"Halah, kalau cuma sakit begini tidak akan membuatku gagal pulang ke rumah, Ris," suara Danu seolah terngiang kembali di sudut ruangan yang gelap itu. Aris mengepalkan tinjunya hingga kuku-kukunya memutih, sebuah reaksi otomatis saat ia mengingat betapa keras kepalanya Danu menolak untuk dibawa ke rumah sakit kota. Keputusan Danu untuk tetap bertahan di kontrakan demi menghemat sisa uang mutasi adalah luka yang kini mulai bernanah di hati Aris.

Ketegangan memuncak saat Aris menemukan sebuah amplop cokelat di bawah bantal Danu yang sudah berdebu, sebuah surat yang tanggalnya menunjukkan waktu satu minggu sebelum Danu mengembuskan napas terakhir. Dengan tangan gemetar, ia merobek segelnya dan menemukan bahwa permohonan mutasi Danu sebenarnya sudah disetujui sejak lama. Namun, ada satu lembar catatan kecil yang terselip di sana, berisi coretan tangan Danu yang gemetar dan sulit dibaca.

Isi catatan itu menghantam dada Aris lebih keras daripada berita kematian sahabatnya, karena di sana tertulis bahwa Danu sengaja menunda keberangkatannya. Danu memberikan kuota mutasi darurat miliknya kepada Aris agar Aris bisa pulang lebih dulu menemui ibunya yang sakit, tanpa pernah memberitahu siapapun. Pengorbanan diam-diam itu kini terasa seperti pengkhianatan yang paling pahit, sebuah kebaikan yang justru membunuh pemberinya dalam kesunyian yang mencekam.

"Kenapa kau lakukan ini, Dan? Kau pikir aku akan bahagia pulang dengan cara seperti ini?" Aris berteriak ke arah kekosongan kamar, suaranya pecah menabrak langit-langit yang bocor. Kemarahan meledak dalam dirinya, bukan kepada takdir, melainkan kepada sahabat yang dianggapnya saudara namun menyimpan rahasia sebesar itu. Ia merasa dikhianati oleh ketulusan yang salah tempat, sebuah tindakan heroik yang justru meninggalkan rasa bersalah yang tak akan pernah bisa ia tebus.

Lihat selengkapnya