Rumah di Tanah Rantau

Bilsyah Ifaq
Chapter #9

Muara yang Menghapus Rindu

Angin kencang menghantam dinding papan rumah kontrakan yang kini terasa terlalu luas bagi Beni dan Aris. Beni memutar-mutar kunci pintu di jempolnya, sebuah kebiasaan lama yang semakin sering ia lakukan sejak kamar di sudut itu kosong. "Sudah semua, Ris?" tanyanya dengan suara serak, seolah debu di tanah perantauan ini telah menetap permanen di tenggorokannya. Ia tidak menunggu jawaban, tangannya justru sibuk merapikan letak kardus yang sebenarnya sudah simetris di atas meja kayu yang mulai lapuk dimakan rayap.

Aris hanya mengangguk pelan sambil menyampirkan tas punggungnya yang tampak berat, seberat beban yang menggelayuti pundak mereka sejak pemakaman Danu bulan lalu. "Surat mutasi ini rasanya dingin sekali di tangan, Ben," sahut Aris dengan ritme bicara yang lambat dan patah-patah, ciri khasnya saat sedang menahan gejolak di dada. Mereka berdua telah mendapatkan apa yang selama ini mereka impikan, yaitu pulang ke kampung halaman, namun tiket pulang itu harus dibayar dengan nyawa sahabat terbaik mereka yang kini pulang dalam peti kayu.

Keputusan Beni untuk tidak membawa satu pun barang peninggalan Danu sempat memicu pertengkaran hebat di antara mereka berdua pagi tadi. Beni bersikeras meninggalkan semuanya, sementara Aris ingin menyimpan jam tangan rusak milik almarhum sebagai kenang-kenangan yang nyata. "Kita tidak butuh rongsokan untuk ingat dia, Ris," tegas Beni dengan nada yang tidak menerima bantahan, sebuah bias keputusan yang selalu ia ambil untuk memutus rasa sakit secara paksa daripada harus merawat luka itu setiap hari.

Ketegangan memuncak saat Aris menarik kerah baju Beni di depan pintu depan yang catnya sudah mengelupas parah. "Kau pikir dengan membuang barangnya, kau bisa membuang rasa bersalahmu karena kita telat membawanya ke puskesmas?" teriak Aris, suaranya menggema di ruang tamu yang kosong melompong. Beni terdiam, matanya memerah namun tak ada air mata yang jatuh, hanya rahangnya yang mengeras menahan ledakan amarah dan kesedihan yang selama ini ia kunci rapat di balik sikap dinginnya.

Kesalahpahaman itu akhirnya luruh saat mereka berdiri di depan gerbang rumah untuk terakhir kalinya sebelum menuju pelabuhan. Aris menyadari bahwa cara Beni bertahan hidup adalah dengan melupakan, sedangkan Beni menyadari bahwa Aris butuh jangkar untuk tetap mengingat. Mereka saling bertatap dalam diam yang panjang, menyadari bahwa kepulangan ini bukanlah kemenangan, melainkan pelarian dari sebuah rumah yang telah berubah menjadi kuburan bagi mimpi-mimpi masa muda mereka yang pernah begitu meluap.

Saat melangkah pergi, Beni tiba-tiba berhenti dan merogoh saku celananya, lalu meletakkan kunci rumah itu di bawah pot bunga kamboja yang layu. Ia membuat keputusan mendadak untuk meninggalkan sisa uang tabungannya di bawah keset, berharap penghuni berikutnya tidak akan merasakan kesepian yang sama. "Ayo jalan, sebelum ombaknya berubah pikiran," ucap Beni pelan sambil mempercepat langkahnya tanpa sekali pun menoleh ke belakang, meninggalkan bayang-bayang Danu yang seolah masih melambaikan tangan dari jendela kamar atas.

Di dermaga yang riuh, mereka melihat kapal besar itu bersiap untuk angkat sauh menuju tanah kelahiran yang sudah lama mereka tinggalkan. Namun, sebuah pengumuman dari pengeras suara pelabuhan mendadak mengubah segalanya, menyatakan bahwa nama mereka ditangguhkan karena adanya laporan administrasi yang belum selesai dari kantor lama. Aris terduduk lemas di atas koper, menyadari bahwa tanah ini belum benar-benar mengizinkan mereka pergi sebelum semua luka di antara mereka benar-benar sembuh sepenuhnya.

Angin malam di terminal bus terasa seperti sembilu yang menyayat kulit ari, namun Beni tidak bergeming dari bangku kayu yang hampir lapuk itu. Jemarinya yang kasar terus memilin pinggiran tiket bus yang sudah agak lembap oleh keringat dingin. Matanya terpaku pada deretan angka keberangkatan, sementara pikirannya melayang ke rumah kontrakan kecil di pelosok yang dulu pernah terasa begitu penuh dengan harapan.

Setiap kali mesin bus menderu, Beni secara refleks meraba saku kemejanya, memastikan pulpen kesayangannya masih ada di sana, sebuah ritual kecil yang selalu ia lakukan saat merasa cemas. Ia sering berdehem pendek sebelum bicara, sebuah kebiasaan lama yang kini terdengar lebih seperti isakan tertahan. "Pokoknya, urusan ini harus tuntas," gumamnya pelan dengan nada bicara yang selalu menekankan setiap suku kata terakhir.

Keputusan Beni untuk kembali ke tanah rantau bukan karena ia merindukan pekerjaan yang melelahkan itu, melainkan karena rasa bersalah yang menggerogoti ulu hatinya. Ia adalah orang pertama yang mendapatkan surat mutasi, meninggalkan Danu dan Aris dalam kepulan debu keberhasilan. Baginya, kesuksesan yang ia raih terasa hambar dan curang sejak kabar duka itu sampai ke telinganya melalui telepon yang terputus-putus.

Bayangan wajah Danu yang pucat saat terakhir kali mereka berbagi kopi instan di teras rumah kontrakan terus menghantui setiap tidurnya. Saat itu, Danu hanya tersenyum tipis sambil memijat dadanya yang sesak, sementara Beni terlalu sibuk merayakan kepindahannya sendiri. "Nanti kita ketemu di kota, Ben," suara serak Danu kembali terngiang, membawa aroma tanah basah dan asap rokok yang selalu melekat pada pakaian sahabatnya itu.

Bau solar yang menyengat dan teriakan kernet bus mulai memecah lamunannya, memaksanya bangkit dengan kaki yang terasa seberat timah. Beni melangkah masuk ke dalam bus ekonomi yang bergetar hebat, mencari kursi nomor dua belas yang berada tepat di atas roda. Ia memilih kursi itu karena guncangannya paling terasa, seolah ia ingin menghukum dirinya sendiri melalui perjalanan panjang yang menyakitkan ini.

Di dalam bus, ia melihat seorang pemuda yang tampak sangat mirip dengan Aris, kawan mereka satu lagi yang sudah lebih dulu menghilang tanpa kabar setelah mutasi. Beni merasa ada yang tidak beres dengan cara Aris pergi, seolah ada rahasia yang sengaja disembunyikan darinya selama bertahun-tahun. Ketegangan di rahangnya mengeras saat ia menyadari bahwa surat mutasi Danu sebenarnya sudah keluar sehari sebelum temannya itu mengembuskan napas terakhir.

Andai saja aku tidak egois menyembunyikan kabar itu demi keamanan posisiku sendiri, mungkin dia masih punya semangat untuk bertahan hidup lebih lama.

Suasana di dalam bus semakin mencekam saat hujan mulai turun membasahi kaca jendela, menciptakan pantulan wajah Beni yang tampak sepuluh tahun lebih tua. Ia teringat pertengkaran hebat dengan Aris di malam sebelum keberangkatannya, di mana tuduhan-tuduhan keji saling dilemparkan di bawah lampu pijar yang berkedip. Aris menuduh Beni menyabotase berkas kesehatan Danu agar Beni bisa pergi lebih dulu tanpa saingan.

Tiba-tiba, seorang pria tua di kursi belakang menepuk bahunya dan menyodorkan sebuah amplop cokelat kusam yang sangat ia kenali. Jantung Beni seakan berhenti berdetak saat melihat tulisan tangan Aris di atas amplop tersebut, lengkap dengan noda kopi yang sama seperti di meja mereka dulu. Pria itu hanya mengangguk tanpa kata, lalu turun di perhentian pertama, meninggalkan Beni dalam kebingungan yang mencekam.

Beni merobek amplop itu dengan kasar, mengabaikan tatapan heran penumpang lain yang terganggu oleh suara kertas yang terkoyak. Di dalamnya terdapat sebuah foto mereka bertiga, namun bagian wajah Beni telah dicoret dengan tinta merah yang sangat tebal. Di balik foto itu tertulis kalimat singkat: "Kamu tidak pernah benar-benar pergi dari sini, karena kami yang menahanmu tetap tinggal di tanah ini."

Napas Beni memburu saat ia menyadari bahwa bus ini tidak menuju ke arah kampung halamannya, melainkan berputar kembali ke arah hutan tempat kontrakan lama mereka berada. Ia mencoba berteriak pada sopir bus, namun suaranya seolah tertahan di tenggorokan, hanya menyisakan deheman pendek yang menyedihkan. Sopir bus itu menoleh perlahan melalui spion tengah, memperlihatkan wajah yang sangat mirip dengan Danu yang sudah meninggal.

Pengkhianatan yang paling menyakitkan bukanlah dari musuh, melainkan dari kawan yang merasa ditinggalkan dalam keterasingan tanpa akhir. Beni menyadari bahwa tiket di tangannya bukanlah tiket pulang, melainkan undangan untuk bergabung kembali dalam keluarga yang ia khianati. Ia meremas tiket itu hingga hancur, menyadari bahwa perjalanan ini tidak akan pernah berakhir dengan perpisahan yang manis, melainkan dengan keabadian di tanah rantau.

Bus itu terus melaju menembus kabut tebal, meninggalkan peradaban menuju kegelapan rimba yang sudah lama menanti kepulangan sang pengkhianat. Beni memejamkan mata erat-erat, merasakan dingin yang menjalar dari ujung kaki hingga ke jantungnya yang berdegup kencang. Di luar jendela, bayangan pohon-pohon besar tampak seperti tangan-tangan raksasa yang siap menangkap siapa saja yang berani bermimpi untuk melarikan diri dari takdir.

Lantai semen teras kontrakan itu masih menyisakan aroma tanah basah setelah hujan sore tadi. Aris duduk di sudut, jemarinya sibuk memilin ujung kain sarung yang mulai pudar warnanya. Kebiasaannya setiap kali cemas adalah menghitung pola ubin di bawah kakinya, seolah angka-angka itu bisa meredam gemuruh di dadanya. "Cuma satu tiket yang keluar minggu ini, Ris," suara Beni memecah kesunyian, datar namun penuh tekanan yang tak kasat mata.

Beni berdiri di ambang pintu kayu yang sudah lapuk, memegang secarik kertas faks yang mulai lusuh. Matanya tidak menatap Aris, melainkan terpaku pada tumpukan kardus di pojok ruangan. Di sana, tertulis nama mereka masing-masing dengan spidol permanen hitam yang tebal. "Kalau memang jatahnya buat kamu, ya ambil saja. Jangan pakai acara nggak enak hati segala," gumam Aris dengan ritme bicara yang cepat dan sedikit tersendat di bagian akhir.

Aris memiliki kecenderungan untuk selalu mendahulukan orang lain demi menghindari konflik yang lebih besar. Baginya, ketenangan di rumah kontrakan sempit ini jauh lebih berharga daripada ego pribadinya untuk segera melihat lampu kota asal. Namun, di balik sikap mengalah itu, ada rasa pahit yang ia telan bulat-bulat. Ia tahu bahwa kesempatan mutasi di pelosok ini seperti memancing di kolam keruh; keberuntungan tidak datang dua kali dalam waktu yang berdekatan.

Di kamar sebelah, suara batuk kering terdengar beruntun, disusul bunyi gesekan ranjang besi yang berderit nyaring. Damar, rekan ketiga mereka, sudah tiga hari tidak keluar untuk sekadar makan bersama di meja plastik ruang tengah. Bau minyak kayu putih dan aroma obat-obatan herbal yang menyengat mulai merayap keluar dari celah pintu kamarnya yang tertutup rapat. Aris dan Beni saling pandang, ada kecurigaan yang sengaja mereka pendam jauh di dasar pikiran.

"Dia bilang cuma kecapekan gara-gara proyek di hulu sungai bulan lalu," bisik Beni sambil meremas kertas di tangannya hingga menjadi bola kecil. Matanya menunjukkan keraguan yang mendalam, sebuah pertanda bahwa ada sesuatu yang disembunyikan Damar dari mereka berdua. Aris hanya terdiam, ia teringat bagaimana Damar selalu menolak saat diajak memeriksakan diri ke puskesmas kecamatan yang letaknya harus ditempuh dua jam perjalanan darat.

Keputusan Damar untuk tetap diam dan mengurung diri adalah sebuah anomali bagi pria yang biasanya paling vokal soal rencana pulang kampung. Saat malam semakin larut, Aris mendekati pintu kamar Damar, berniat menawarkan segelas air hangat yang dicampur madu. Namun, langkahnya terhenti ketika ia mendengar suara isak tangis yang tertahan dari dalam sana. Damar bukan tipe pria yang mudah meneteskan air mata, kecuali jika beban yang dipikulnya sudah melampaui batas kemampuan tubuhnya.

Keesokan paginya, sebuah amplop cokelat besar terselip di bawah pintu depan, tanpa nama pengirim yang jelas namun berstempel resmi kantor pusat. Beni yang menemukannya pertama kali langsung merobek segelnya dengan tangan gemetar, berharap ada keajaiban tambahan untuk mereka bertiga. Namun, isi surat itu justru memicu ketegangan baru; hanya ada dua nama yang disetujui untuk mutasi segera, sementara satu nama lagi ditangguhkan tanpa alasan yang spesifik.

"Namamu ada di sini, Aris. Namaku juga ada. Tapi Damar... namanya dicoret dengan tinta merah," suara Beni tercekat saat membacakan baris terakhir dokumen tersebut. Aris merebut kertas itu, matanya menyisir setiap kata dengan teliti, mencari penjelasan rasional atas ketidakadilan yang terpampang nyata. Ia merasa ada yang janggal karena Damar adalah yang paling senior di antara mereka dan seharusnya menjadi prioritas utama untuk dipulangkan ke pulau seberang.

Aris segera mengetuk pintu kamar Damar dengan keras, mengabaikan rasa sungkan yang biasanya menyelimuti dirinya setiap kali ingin mengganggu privasi sahabatnya itu. "Dam, bangun! Suratnya sudah datang, tapi ada yang aneh dengan namamu!" teriak Aris sambil terus menggedor kayu pintu yang terasa dingin. Tidak ada jawaban dari dalam, hanya keheningan mencekam yang membuat bulu kuduk Aris berdiri seketika, mengisyaratkan bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi di balik pintu yang terkunci rapat itu.

Setelah mendobrak pintu dengan bantuan Beni, mereka menemukan Damar terbaring diam di atas kasur tipisnya dengan wajah yang sangat pucat. Di tangannya, tergenggam sebuah surat mutasi lain yang ternyata sudah terbit sejak sebulan yang lalu, namun sengaja ia sembunyikan di bawah bantal. Damar telah memilih untuk menunda kepulangannya sendiri agar Aris dan Beni bisa mendapatkan slot mutasi lebih cepat melalui jalur pertukaran staf cadangan.

Ternyata, Damar sudah tahu bahwa penyakit paru-parunya sudah mencapai tahap kronis dan ia tidak ingin menghambat proses administrasi teman-temannya yang masih memiliki masa depan panjang. Pengorbanan yang tak terucap itu menghantam dada Aris seperti godam besar, membuatnya jatuh terduduk di lantai yang dingin dan berdebu. Ia menyadari bahwa selama ini kesalahpahaman mereka tentang sikap tertutup Damar adalah bentuk perlindungan terakhir yang bisa diberikan pria itu kepada keluarga rantauannya.

Kini, terminal bus yang biasanya penuh dengan harapan kepulangan berubah menjadi tempat yang paling menyakitkan bagi Aris dan Beni yang berdiri kaku di gerbang. Mereka membawa tas punggung yang ringan, namun beban di hati mereka terasa ribuan kali lebih berat karena harus mengawal sebuah peti kayu. Tidak ada lagi perdebatan tentang siapa yang paling cepat sampai di rumah, karena kini mereka pulang bersama dalam sunyi yang sangat menyayat hati.

Aris menatap peti mati yang mulai dinaikkan ke atas mobil jenazah dengan pandangan kosong, tangannya masih memegang erat surat mutasi Damar yang kini tak lagi berguna. "Harusnya kamu bilang dari awal, Dam," bisiknya pelan, nyaris tak terdengar di antara deru mesin bus yang bersiap berangkat meninggalkan tanah rantau. Pengkhianatan terhadap diri sendiri yang dilakukan Damar demi mereka berdua menjadi sebuah luka yang tak akan pernah sembuh meski mereka sudah menginjakkan kaki di kampung halaman nanti.

Aroma tanah basah dan sisa hujan semalam menyeruak di antara rimbunnya pepohonan saat Aris melangkah turun dari mobil travel yang berdebu. Ia merapatkan jaket denimnya yang mulai menipis, mencoba menghalau tusukan udara dingin khas pegunungan yang seolah ingin menembus hingga ke tulang. Tangannya yang kasar karena pekerjaan lapangan terangkat untuk mengusap wajah, sebuah ritual kecil yang selalu ia lakukan setiap kali merasa buntu atau lelah menghadapi kenyataan di tanah perantauan ini.

"Kita sudah sampai, Ris. Masih sama seperti dulu, kan?" suara Budi memecah keheningan, meskipun nada bicaranya terdengar datar dan tanpa semangat yang biasanya meluap-luap. Aris hanya mengangguk pelan sembari memutar-mutar kunci rumah kontrakan di saku celananya, sebuah kebiasaan yang memberinya rasa kendali di tengah ketidakpastian yang mengintai. Mereka berdua berdiri mematung sejenak, menatap jalanan setapak yang berkelok-kelok menuju satu-satunya bangunan yang mereka sebut rumah selama tiga tahun terakhir.

Langkah kaki mereka yang berat mulai menyusuri jalan setapak yang ditumbuhi lumut tipis di sisi-sisinya, melewati warung kopi kayu milik Mak Sumi yang kini tampak tertutup rapat. Dulu, di bangku-bangku panjang yang sudah lapuk itu, mereka bertiga sering menghabiskan malam untuk menertawakan nasib atau sekadar mengeluh tentang mutasi yang tak kunjung datang. Kini, ketiadaan tawa melengking dari sosok ketiga yang biasanya paling berisik di antara mereka membuat suasana menjadi begitu asing dan mencekam.

"Seharusnya dia yang paling senang melihat kabut ini, dia selalu bilang kabut ini mirip awan yang turun untuk memeluk kita," gumam Aris dengan suara yang nyaris hilang ditelan angin, menunjukkan bias keputusannya yang selalu melihat sisi melankolis dari setiap kejadian. Ia berhenti sejenak di depan pintu kayu kontrakan yang catnya mulai mengelupas, ragu untuk memutar kunci karena menyadari bahwa di dalam sana, satu kamar akan tetap gelap selamanya. Kesunyian ini terasa lebih menyesakkan daripada riuhnya perdebatan mereka tentang siapa yang akan pulang lebih dulu ke kampung halaman.

Ketegangan mulai memuncak saat Aris menemukan sebuah amplop terselip di bawah pintu, surat keputusan mutasi yang selama ini mereka mimpikan, namun nama yang tertera di sana adalah nama sahabat mereka yang kini sudah terbujur kaku. Budi merebut kertas itu dengan tangan gemetar, matanya membelalak saat menyadari bahwa pengajuan pindah itu baru disetujui tepat satu hari setelah jantung sahabat mereka berhenti berdetak. Pengkhianatan nasib ini terasa begitu nyata, membalikkan semua harapan menjadi belati yang menusuk ulu hati mereka berdua tanpa ampun.

Aris menatap langit yang semakin menggelap, menyadari bahwa kepulangan yang mereka janjikan bersama kini berubah menjadi iring-iringan pengantar jenazah yang memilukan. Ia mengepalkan tangan, sebuah keputusan pahit diambilnya untuk tidak akan pernah kembali ke kota asal sebelum ia menyelesaikan semua tugas yang ditinggalkan oleh sahabatnya di tanah ini. Di bawah bayang-bayang gunung yang angkuh, Aris bersumpah bahwa perpisahan ini bukan sekadar akhir, melainkan luka permanen yang akan ia bawa sebagai identitas barunya di perantauan.

Angin lembap di pelosok itu membawa aroma tanah basah yang menusuk hidung, seolah mengejek impian mereka yang terkubur di bawah rimbunnya pohon-pohon tua. Beni berdiri kaku di depan pintu kontrakan kayu yang kini terasa terlalu luas bagi satu orang, sementara tangannya sibuk memutar-mutar kunci cadangan, sebuah kebiasaan lama yang selalu ia lakukan saat pikirannya sedang kacau balau.

"Kita bakal balik bareng, Ben. Satu pesawat, satu tujuan, bawa SK mutasi di tangan masing-masing," suara berat Danu seolah bergema kembali di teras yang mulai berlumut itu. Beni memejamkan mata, teringat bagaimana Danu selalu mengakhiri kalimatnya dengan tawa renyah sambil menepuk bahu kawan-kawannya, sebuah ritme bicara yang penuh optimisme namun kini terasa seperti sembilu.

Di dalam rumah, tumpukan kardus milik Aris sudah rapi tersegel dengan lakban hitam, menandakan bahwa satu lagi anggota keluarga palsu ini akan segera meninggalkan tanah rantau. Aris tidak banyak bicara pagi itu, hanya sibuk merapikan sisa-sisa kenangan mereka selama tiga tahun terjebak di daerah terpencil ini, sementara Beni hanya bisa berdiri mematung di ambang pintu kamar yang gelap.

"Jangan pasang muka melas begitu, Ben. Giliranmu pasti datang sebentar lagi, percaya sama aku," ujar Aris sambil menarik koper besarnya keluar melewati ambang pintu kayu yang sudah lapuk. Beni hanya mendengus pendek, sebuah respons khas yang menunjukkan ketidakpercayaannya pada nasib, sembari jemarinya terus memutar kunci besi itu hingga telapak tangannya terasa panas dan memerah.

Perpisahan itu seharusnya menjadi momen perayaan, namun kesalahpahaman kecil tentang siapa yang lebih dulu mengurus berkas mutasi sempat menciptakan dinding es di antara mereka bertiga. Danu yang selalu merasa paling bertanggung jawab, ternyata diam-diam menyimpan surat penolakan mutasinya sendiri agar Aris dan Beni tidak merasa terbebani atau kehilangan semangat untuk pulang ke kampung halaman.

Namun, takdir memiliki selera humor yang gelap ketika kesehatan Danu tiba-tiba merosot tajam akibat malaria yang tak kunjung sembuh total selama berbulan-bulan di hutan. Beni masih ingat betul bagaimana Danu tetap bersikeras memasak makan malam untuk mereka, meski tangannya gemetar hebat saat memegang sudip, sambil terus bergumam bahwa ia tidak ingin menjadi beban bagi siapa pun di rumah itu.

Puncaknya terjadi semalam sebelum jadwal keberangkatan Aris, ketika keheningan rumah kontrakan itu dipecah oleh suara napas Danu yang tersengal-sengal dan berat di dalam kamarnya. Beni berlari masuk, menemukan Danu yang sudah tidak berdaya, namun pria itu masih sempat membisikkan kata-kata terakhirnya dengan suara yang nyaris hilang tertelan sunyi malam yang mencekam di tengah hutan.

"Bawa aku pulang, Ben. Jangan biarkan aku tertinggal di sini sendirian," bisik Danu dengan ritme napas yang semakin tidak beraturan sebelum matanya tertutup untuk selamanya. Kalimat itu menjadi keputusan mutlak bagi Beni untuk tidak lagi memikirkan egonya sendiri, melainkan memastikan bahwa sahabatnya mendapatkan jalan pulang yang selama ini sangat mereka dambakan bersama.

Kini, Beni berlutut di depan gundukan tanah yang masih basah, menyentuh nisan kayu yang ia ukir sendiri dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki setelah mengurus segala administrasi. Ia tidak menangis, namun rahangnya mengeras saat ia menyadari bahwa mutasi yang mereka impikan akhirnya terkabul, meski dengan cara yang paling menyakitkan dan tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

"Dan, surat mutasimu sudah turun. Kita pulang hari ini, sesuai janji kita dulu," ucap Beni dengan nada datar yang menyembunyikan badai emosi di dalam dadanya yang sesak. Ia bangkit berdiri, membersihkan tanah yang menempel di celananya, lalu berbalik menuju mobil jenazah yang sudah menunggu di pinggir jalan setapak yang becek dan penuh dengan genangan air hujan.

Lihat selengkapnya